Hakim Tak Pandang Bulu

BERKACA pada sejarah emas Islam, hakim semestinya tidak pandang bulu. Siapa saja yang salah harus ditindak salah dan yang benar harus diputus benar. Tak peduli itu orang kaya raya maupun papa; kalangan pejabat maupun rakyat; kelas elit maupun alit. Semua sama di mata hukum. Dalam hal ini, Syuraih (seorang hakim adil dari kalangan tabiin kenamaan), pernah mencotohkan dengan baik.

Sya’bi bercerita, suatu hari Umar bin Khattab hendak membeli kuda. Beliau pun bertransaksi dengan pedagang kuda sembari memerintahkan seseorang untuk mencobanya. Rupanya, setelah dikendarai, kuda itu cidera. Melihat kuda dalam kondisi demikian, Umar hendak mengembalikannya kepada sang penjual.

Penjual pun tidak terima. Ia ngotot masalah ini diselesaikan di majlis persidangan. Umar menanyakan kepadanya mengenai hakim yang akan ditunjuk pada perkara ini. Penjual itu memilih Syuraih sebagai pemutus perkara.

Di majelis persidangan, setelah masalah dicerna dengan baik, akhirnya Syuraih berkata kepada Umar, “Karena saat pertama kali ketika kuda dikendarai dalam kondisi sehat, maka Anda yang bertanggung jawab atas insiden tersebut sampai kuda itu sehat kembali.” Mendengar putusannya, Umar takjub, lalu mengutusnya menjadi hakim. (Ibnu Asakir, Târikh Madînah Dimasyq, XXIII/18). Dalam riwayat lain diungkapkan, “Anda tetap beli kuda cidera tersebut, atau mengembalikannya dalam kondisi sehat?” (Ibnu Sa’ad, al-Thabaqah al-Kubra, VI/183).

            Lihat bagaimana Syuraih tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum meskipun yang dihadapinya adalah orang paling penting di masa itu. Independensinya sebagai hakim tidak ternodai oleh kepentingan tertentu untuk memenangkan yang kuat dan mengalahkan yang lemah.  Di samping itu, Umar sebagai khalifah juga mendukung keputusan adilnya. Sebuah gambaran indah ketika hakim dan pemimpin saling bersinergi untuk menegakkan hukum secara adil, tak pandang bulu.

Pada tanggal 9 Mei 2017 independensi dan keadilan hakim akan benar-benar diuji atas terdakwah kasus penistaan agama, Basuki Tjahya Purnama. Akankah keputusannya didasari oleh nurani keadilan, atau sebaliknya dilatari oleh kepentingan pihak tertentu sehingga makin mengukuhkan ironi: hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!