Habib Rizieq: Meragukan Qur’an Berarti Murtad

JAKARTA (AQLNEWS) – Setelah dibuka dengan Surat Al-Fatihah, Surat kedua dalam Al-Qur’an adalah Al-Baqarah. Di ayat kedua pada surat terpanjang dalam Al-Qur’an ini menegaskan bahwa Kitab yang wajib diimani umat Islam tersebut tidak terdapat keraguan di dalamnya.

Kandungan ayat itulah yang menjadi pokok penjelasan Habib Rizieq Syihab (HRS) selaku Saksi Ahli Agama dalam sidang lanjutan Kasus Penodaan Agama di Gedung Auditorium, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/17). Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk sebagai terdakwa atas pernyataannya yang mengomentari Surat Al-Maidah 51 tentang kepemimpinan.

“Ulama mengatakan, barang siapa yang meragukan Al-Qur’an maka dia telah murtad,” jelas Ketua Pembina Gerakan Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) saat memberikan kesaksian dalam sidang ke-12 tersebut sebagaimana dilansir Islamic News Agency (INA).

Penjelasan Habib Rizieq jelas tidak hanya ditujukan kepada Ahok melainkan juga umat Islam yang masih ragu terhadap al-Qur’an. Menurut dia, ayat al-Qur’an merupakan sesuatu yang pasti. Siapa pun yang mengatakan Al-Quran bohong, berarti dia telah menodai Islam. “Jadi kalau ada yang menghinakan tentang keesaan Allah maka itu penodaan,” tegas Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) ini.

Habib Rizieq menyatakan, terdapat dua metode penerjemahan dalam penafsiran, yakni harfiyah dan tafsiriyah. Karena itu, seseorang tidak boleh sembarangan menerjemahkan al-Qur’an. Misalnya, terjemahan kata ‘auliya’ dalam Surat Al-Maidah 51 yang menjadi objek perkara kasus penistaan al-Qur’an. “Auliya itu dari kata wali yang dalam Bahasa Arab punya banyak makna, ada teman setia, orang kepercayaan, pelindung, penolong, juga pemimpin,” urai Kandidat doktor di International Islamic University of Malaysia ini.

Padahal, dalam kitab tafsir, kelima makna auliya itu diartikan oleh semua ahli tafsir salaf (tiga generasi setelah Nabi) maupun khalaf, bahwa ayat tersebut adalah sah tentang haramnya orang kafir dijadikan pemimpin. “Setiap teman setia belum tentu menjadi pemimpin, tapi setiap pemimpin harus menjadi teman setia,” terangnya.

Sebagaimana diketahui, Ahok terseret ke kursi pesakitan akibat pidatonya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, karena menyatakan, “Jangan mau dibohongin pake al-Maidah dan macem-macem itu.” Bahkan, tidak hanya sekali Ahok melontarkan pernyataan senada. Ahok seolah membantah makna auliya dalam Al-Maidah 51 berbicara tentang kepemimpinan.

Habib Rizieq mencatat enam ungkapan yang salah oleh Ahok di Kepulauan Seribu, 27 September 2016 lalu. Pertama, “Jangan percaya”. Kedua, “Enggak pilih saya.” Ketiga, “Dibohongi pake surat Al-Maidah ayat 51.” Keempat, “Macam-macam itu.” Kelima, “Karena saya takut masuk neraka.” Keenam, “Dibodohi.”

Habib menilai, pernyataan itu bukan hanya urusan pribadi akan tetapi mencakup masyarakat luas, khususnya umat Islam. “Ini mencakup masyarakat luas, dan ini masalah hukum, masalah penodaan agama,” katanya.

Ungkapan “Jadi jangan percaya sama orang”, kata Habib Rizieq, merupakan sebuah ajakan kepada masyarakat agar jangan percaya siapa pun yang menggunakan surat Al-Maidah ayat 51.

Kedua, kata-kata “tidak pilih saya” memperjelas bahwa itu dalam konteks pilkada dan tidak ada hubungannya dengan kunjungan kerja.

“Kata dibohongi pake Al-Maidah itu memunculkan pertanyaan, siapa yang dibohongi? Tentu umat Islam, tentu maksudnya kalau dibohongi berarti surat Al-Maidah dijadikan sebagai sumber kebohongan,” jelas Habib Rizieq.

Karenanya, hal itu jelas merupakan penodaan terhadap Islam. “Ini sebuah penodaan. Jadi Al-Qur’an itu diartikan sebagai sumber kebohongan. Siapa yang dibohongi, ya umat Islam siapa pun yang menggunakan Al-Maidah 51 agar tidak memilih pemimpin umat Islam,” ujar Habib Rizieq. *azh

Sumber: Islamic News Agency (INA)

Sebarkan Kebaikan!