Gemar Berinfak, Tak Akan Mengurangi Harta     

KITA tentu tahu, bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah. Kita juga tahu, bahwa berinfak itu tidak akan mengurangi harta. Lalu, apa yang membuat kita enggan untuk berinfak? Dengan kesadaran yang kita miliki, tanpa perlu diminta pun pasti kita berinfak. Tidak kah tertarik dengan janji Rasulullah SAW., “Sedekah menghapus dosa, seperti air memadamkan api”. (Tirmidzi, 2/4210)

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, ketika menafsirkan surat Al Hadiid ayat 11, Abdullah bin Mas’ud RA menceritakan bahwa tatkala turun firman Allah Swt.

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

 

“Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11);

Abu Darda Al Anshori mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Rasulullah SAW menjawab, “Betul, wahai Abu Darda.” Kemudian Abu Darda pun berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah tanganmu.” Rasulullah SAW pun menyodorkan tangannya. Abu Darda pun mengatakan, “Aku telah memberi pinjaman pada Rabbku kebunku ini. Kebun tersebut memiliki 600 pohon kurma.”

Ummu Darda, istri dari Abu Darda bersama keluarganya ketika itu berada di kebun tersebut, lalu Abu Darda datang dan berkata, “Wahai Ummu Darda!” “Iya,” jawab istrinya. Abud Darda mengatakan, “Keluarlah dari kebun ini. Aku baru saja memberi pinjaman kebun ini pada Rabbku.”

Dalam riwayat lain, Ummu Darda menjawab, “Engkau telah beruntung dengan penjualanmu, wahai Abu Darda.” Ummu Darda pun pergi dari kebun tadi, begitu pula anak-anaknya.

Rasulullah SAW pun terkagum dengan Abud Darda. Beliau lantas mengatakan, “Begitu banyak tandan anggur dan harum-haruman untuk Abu Darda di surga.” Dalam lafazh yang lain disebutkan, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Darda di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).”  (13/414-415, Muassasah Qurthubah)

Sebagaimana yang kita pahami bahwa menginfakkan harta di jalan Allah tidak akan mengurangi harta kita. hal itu berdasarkan firman Allah dalam As Saba’ ayat 39, Allah Swt. berfirman:

 

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِين

 

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini mengatakan bahwa, “Selama engkau menginfakkan sebagian hartamu pada jalan yang Allah perintahkan dan jalan yang dibolehkan, maka Allah-lah yang akan memberi ganti pada kalian di dunia, juga akan memberi ganti berupa pahala dan balasan di akhirat kelak.”

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA juga disebutkan,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Nabi SAW pun menyemangati sahabat Bilal bin Robbah RA untuk berinfak dan beliau katakan jangan khawatir miskin. Beliau bersabda,

أَنْفِقْ بِلاَل ! وَ لاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً

Berinfaklah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi).” (HR. Al Bazzar dan Ath Thobroni dalam Al Kabir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 1512)

Bahkan Nabi SAW menegaskan sendiri bahwa harta tidaklah mungkin berkurang dengan sedekah. Beliau bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah)

Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran: Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan lama-kelamaan terbiasa merasakannya. Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.

Jadi, apa yang lagi membua kita ragu untuk berinfak?

 *Gubahan M

Sebarkan Kebaikan!