Fragmentasi Ruh Jihad

 

KH Bachtiar Nasir

SEJAK Aksi 411 dan Aksi 212 di Monas, Jakarta, banyak umat protes karena tidak ada gerakan revolusi untuk mengubah situasi bangsa dari ketidakdilan. Padahal massa yang datang sudah tiga kali lipat dari aksi Reformasi 1998. Psikologi massa yang marah tentu sangat mudah diarahkan pada aksi adu fisik. Namun, Aksi 411 dan 212 adalah aksi damai. Jauh dari aksi bakar-bakaran, menggoyang pagar, hingga desakan siding istimewa MPR.

Kedamaian yang terjadi pada aksi umat Islam menunjukkan estetika persaudaraan yang sangat indah. Apalagi, image yang selama ini dianut kebanyakan masyarakat tentang demonstrasi adalah bakar sana bakar sini. Dalam Islam, kekerasan itu bukan sesuatu yang diutamakan, ia menjadi poin perlawanan ketika musuh menyerang dengan kekerasan, barulah dibolehkan angkat senjata. Akan tetapi, untuk kasus yang terjadi di Indonesia, penista al-Qur’an yang terus dibiarkan tentu akan mengundang reaksi dan perlawanan dari umat Islam, yaitu menegakkan hukum sesuai syariat.

Ketika kesabaran meredam emosi lalu pulang sambil bertaqwa kepada Allah SWT, saat itu sebenarnya fragmentasi ruh jihad semakin menguat. Hal itu terbukti pada Aksi 212, walau dilarang massa tetap datang. Apabila gerakan ini masih dipandang enteng, tentu umat Islam akan kembali bergerak. Kita tidak dalam posisi menentukan takdir sendiri tapi biarlah Allah yang menentukan takdir. Seorang hamba hanya diminta untuk bersabar dan bertawakkal untuk mengikuti takdir-takdir Allah SWT. Untuk itu, bersabarlah terhadap situasi yang sedang terjadi. Karena kesabaran itu akan mendatangkan keajaiban, dan keajaiban itu berawal dari sesuatu yang tidak disangka dan tidak pernah direncanakan. Sebagaimana mukjizat para Nabi, semua di luar dari rencana mereka. Musa AS tidak serta bisa mengubah tongkatnya menjadi ular atau membela lautan, mukjizat terjadi atas kehendak Allah SWT. 

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُون

 Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (al-Anfaal: 60)

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka…..”  Yang dimaksud ‘mereka’ dalam ayat ini adalah musuh-musuh Islam, baik musuh yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Dalam ayat ini pula, Allah SWT memerintahkan kita untuk mempersiapkan keuatan apa saja yang kita sanggupi. Semangat yang membara tanpa persiapan yang matang pasti menyusahkan ketika telah berada di lapangan, membuat kekacauan, dan orang yang seperti itu biasanya gampang terjebak dalam provokasi.

Kekuatan apa saja yang kamu sanggupi….” Yang perlu disiapkan adalah semua potensi yang kita miliki. Orang yang pandai di bidang teknologi informasi (TI), maka berjihadlah dengan itu. Yang ahli dalam penulisan, maka berjihadlah dengan tulisan. Dan berjihadlah menurut profesi yang kita miliki.

Jika ayat ini dikaitkan dengan kekinian melihat fenomena darurat pemimpin muslim yang melanda Indonesia, tentu memilih pemimpin muslim dalam Pilkada adalah bagian dari cabang jihad. Jihad yang dimaksud ketika berbicara Pilkada adalah perang ideologi, perang program kerja, perang strategi, dan perang mempertahankan eksistensi agama Islam.

Akan tetapi, dalam menyikapi persoalan yang sedang terjadi, masih banyak orang yang tidak terlalu paham dan anggapannya tentang politik masih sekuler. Misalnya, tidak perlu membicarakan politik di masjid. Sesungguhnya, orang beranggapan bahwa agama tidak ada hubungannya dengan politik telah terjadi kekacauan dalam cara berpikirnya. Perang yang dilakukan Rasulullah SAW adalah dalil yang kuat, dan semua strategi itu dimusyawarahkan di masjid. Politik perang, poilitik budaya, dan politik tata negara telah dibahas dalam syariat Islam. Hanya orang-orang koslet pikirannya yang memisahkan antara politik dan agama. Dalam Islam, masalah kencing saja diatur oleh syariat apalagi sesuatu yang mengandung kemaslahatan masyarakat, tentu pengaturannya lebih detil lagi.

Perang Badar terjadi ketika Rasulullah SAW memerintahkan sahabatnya untuk mencegat kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam. Jika tidak melek sejarah, hal ini akan difahami sebagai premanisme. Tetapi, ini adalah bagian untuk menunjukkan izzah kepada musuh-musuh Islam. Secara syariat kudeta terhadap suatu pemerintahan sah itu haram. Akan tetapi jika yang memimpin itu adalah seorang kafir (memimpin mayoritas muslim) maka itu bisa dibenarkan. Karena bicara politik itu berarti bicara soal kalah dan menang. Siapa yang menang maka dialah yang berhak menentukan undang-undang yang akan diterapkan. Ketika pemimpin kafir itu (misalnya kalau kafir menang) menentukan hukum, bagaimanapun protesnya umat Islam, yang menetapkan hukum tetaplah dia.

“Dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.…………)” . Setelah menyiapkan apa saja yang kita miliki, maka yang kedua yang harus dipersiapkan adalah “kuda” atau kendaraan. Kata kuda disini hanya simbol yang mewakili kendaraan. Tujuan dari persiapan itu adalah untuk menggetarkan musuh-musuh Allah. Yaitu musuh yang kita ketahui batang hidungnya dan musuh yang tidak diketahui namun Allah mengetahuinya.

“Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”  Ketika ada ayat jihad pasti ayat setelahnya bercerita tentang infak. Ayat jihad dan infak itu selalu bergandengan, tidak mungkin menang dalam peperangan jika tidak ada logistik/infak. Dan dari 10 ayat tentang jihad yang selalu didahulukan adalah harta, hanya satu yang yang mendahulukan nyawa/jiwa. Karena sebaik-baik jihad adalah dengan harta sendiri.

“Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” Dan pada akhirnya kita diminta untuk berinfak, sedikit atau banyak. Jakarta dengan iklim yang sedang terjadi, meminta kita tidak hanya menginfakkan harta tapi tenaga. Pemuda-pemuda Kalimantan Barat telah berdomisili beberapa minggu di Jakarta. Mereka memakai biaya sendiri dan siap untuk ditempatkan  di TPS mana pun. Anak muda yang mempunyai kemampuan di bidang TI, pergunakan itu untuk melawan hacker-hacker mereka. Kalau berbicara jihad dan tidak berinfak itu berarti surah al-Anfal ayat 60 ini tidak berlaku buat Anda. Jihad tanpa infak tidak akan menang.

Dalam tafsir (as-Sa’di)  ayat tersebut dijelaskan bahwa, persiapkanlah olehmu untuk menghadapi musuhmu yang kafir dan berusaha menghancurkan serta menistakan agamamu. Persiapan yang bisa Anda persiapkan, mulai dari kekuatan akal secara strategis, kekuatan fisik secara jasadi, kekuatan persenjataan, logistik, dan semua yang bisa diperesiapkan untuk melawan mereka.

Dalam hal persiapan kata Imam as-Sa’di yang perlu dipersiapkan juga adalah teknologi untuk menyiapkan persenjataan dan peralatan lainnya, seperti amunisi, senjata, pesawat tempur, tank, kapal perang laut, benteng, dan semua yang bisa melindungi serta apa saja yang bisa mempertahankan diri kalian. Yang tak kalah penting adalah strategi politik untuk menahan dan mengalahkan serangan musuh-musuh Islam. Termasuk di dalamnya keberanian dan ilmu management.

Di antara yang harus dipersiapkan adalah kendaraan, makanya yang disebutkan pertama kali adalah kuda-kuda yang ditambak (sebagai simbol kendaraan). Kenapa kendaraaan? Berjalan kaki dari Ciamis adalah simbol energik tapi apakah bisa berjalan kaki dari Kalimantan?

Kenapa harus mempersiapkan? Karena jika terjadi ketimpangan antara yang kuat terlalu kuat dan yang lemah terlalu lemah maka akan terjadi kedzaliman. Umat Islam dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan terbuka sehingga menggetarkan hati musuh-musuh. Alasan untuk melakukan persiapan itu adalah untuk menghilangkan kedzaliman dan menunjukkan kekuatan. Kalaupun hari ini belum memiliki apa-apa. Maka persiapan itu tetap wajib, menyiapkan segalanya dengan yang kita miliki. Untuk menggetarkan musuh yang diketahui dan musuh-musuh yang tidak diketahui, tapi Allah mengetahuinya.

Aksi yang dilakukan umat Islam pada 411 dan 212 adalah sebuah apel yang menggetarkan dunia, dengan kedamaian yang dahsyat itu merupakan keajaiban dan tanda-tanda pertolongan Allah swt.

Dalam ayat 60 Surat al-Anfal, musuh-musuh umat Islam sangat jelas, yaitu orang-orang kafir yang ingin menghancurkan dan menista agama. Di Indonesia ada oknum tertentu yang ingin mengadu domba antara umat Islam. Ditambah lagi dengan adanya muslim yang masih koslet pikirannya. Sok intelek tapi ngambil refrensi dari barat. Sehingga, memisahkan antara agama dan politik. Merekalah para penikung, Fir’aun modern yang berpakaian muslim. Sehingga menjadi musuh yang sulit dikenali.

Ketika berbicara politik secara militer pun agama menganjurkan itu. Al-Qur’an telah mengatur semua sisi kehidupan manusia, sampai seseorang menaksir janda pun ada aturannya, yaitu menunggu sampai habis masa iddahnya. Secara sempurna diatur dalam al-Qur’an, sampai urusan perasaan, apalagi persoalan politik.

Yang mereka takuti adalah ketika politik sudah dibicarakan di dalam masjid. Dan ini terbukti, berapa masjid yang diserang dalam bentuk brosur, buku-buku. Bahkan pengurus DKM-nya diiming-imingi dengan materi murahan, mulai dari janji kontrakan, gaji bulanan, sampai umrah. Mereka telah bekerja sedangkan umat masih meeting.

Ketika Islam runtuh di Andalusia, Islam bangkit di Istambul. Monumentalnya adalah ketika Muhammad al-Fatih menaklukkan benteng Konstatinofel. Maka bangkitlah Islam di Turki atau Ottoman. Akan tetapi 1924 khilafah Islamiyah kembali runtuh dan tiba-tiba bangkitlah Islam di Asia Tenggara dan di Indonesia menjadi umat Islam terbesar.

Sekarang 2017, secara analitif 7 tahun lagi Islam akan bangkit, tapi itu tidak mutlak, bisa lambat dan bisa lebih cepat. Akan tetapi, Turki sekarang berada pada ujian yang sangat berat, sedang butuh kawan, yaitu Indonesia. Sepertinya izzah Islam sedang Allah turunkan di Indonesia. Nikmat terbesar yang kita rasakan saat ini adalah umat Islam dipersatukan dalam satu naungan. Tidak lagi mengenal sekat-sekat dan kelompok, organisasi dan lain-lain.

Persaudaraan yang Allah berikan akan kita coba rajut untuk menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Kita akan menangkan politik Islam, kepemimpinan Islam secara konstitusional, dan itu adalah jihad, Insya Allah.

Ketika ditanya manakah yang kita pilih bangkit dari bakar-bakaran sehingga ekonomi Indonesia jatuh pada -5 atau -7? Atau sekarang kita jaga baik-baik negeri ini untuk meningkatkannya jauh lebih baik lagi? Prinsip dasar perjuangan umat Islam adalah damai, kecuali jika mereka mengajak perang. Maka besabarlah dalam bertindak.

Apakah kekerasan dibenarkan untuk menegakkan kebenaran? Dalam teori politik global harus ada perimbangan kekuatan di muka bumi ini. Misalnya, kenapa terjadi konflik di Suriah dan Irak, hal ini telah diperediksi oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits akhir zaman. Kekerasan bukanlah sebuah keharusan. Karena damai juga merupakan jalan pada kemenangan. Karena kedua-duanya terjadi pada masa Rasulullah SAW bahkan tiga perang besar dalam Islam tanpa kekerasan, di antaranya adalah Fathul Makkah. Dikuasainya kembali Kota Mekkah tidak dengan kekerasan, tapi dengan damai. Akan tetapi, semua itu tentu melalui proses persiapan yang matang. Itu juga terkait dengan momentum, dan ketika momentum itu dimanfaatkan maka terjadilah kemenangan itu.

Kemudian, kekerasan juga adalah sebuah pilihan tidak bisa dielakkan. Sebab sejak dunia ini ada proses pengalihan kekuasaan, chaos itu ada kerusakan dan pertumpahan darah. Agama tentu punya cara pandang sendiri dalam melihat peristiwa ini, dan menjadikan kekerasan bukan yang pertama dan yang utama. Agama mengedapankan prinsip-prinsip perdamaian, ini tentu yang menjadi pilihan. Chaos kekerasan itu sifatnya devensif. Dalam Islam, akhlak berperang itu ada dan telah diatur sedemikian rupa. Tujuannya adalah agar umat tidak mati konyol. Kita tidak mau mengulangi Peristiwa 66, 68, 98. Umat hanya mati konyol dan pada akhirnya siapa yang berkuasa? Kita harus pintar sehingga tidak menjadi korban yang dibenturkan dan dikorbankan demi kepentingan kelompok.

Yang terpenting adalah musuh kita saat ini bukan negara dan aparatnya akan tetapi ada oknum yang ingin membenturkan umat Islam dengan aparat. Siapa kafir yang memusuhi kita dan siapa agen asing yang hendak mengusir kita dari negeri sendiri? Siapa yang merusak agama itulah yang harus diinventarisasi secara pelan-pelan dan sabar. Disinilah dibutuhkan kecerdasan dan kesabaran serta tawakal kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah Maha Tahu, kita tunggu saja momentumnya. * (Disampaikan oleh Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir di Masjid at-Tihad, Jalan Tebet Mas Indah I, Jakarta Selatan, 14 Maret 2017)

 

 

Sebarkan Kebaikan!