Fokus Pemburuan Lailatul Qadar

DI sepuluh terakhir bulan Ramadhan, ritual yang biasa dikerjakan oleh orang Islam –selain ibadah pada umumnya seperti: puasa, shalat malam, iktikaf dan lainnya- adalah memburu malam istimewa yang disebut dengan istilah Lailatul Qadar. Ketika membicarakan pemburuan Lailatul Qadar, kebanyakan orang berfokus pada pencarian malam agung tersebut yang ditegaskan al-Qur`an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Menurut refleksi Gus Mus banyak orang yang melakukan pemburuan malam yang istimewa ini laiknya menunggu pembukaan undian dan menganggap sebagai anugerah tiban yang menggambarkan keuntungan materi atau keberuntungan duniawi (Mustofa Bisyri, Mencari Beningnya Mata Air, 146).

            Dalam beberapa hadits, memang nabi sendiri menyarankan untuk mencarinya. Kata-kata yang digunakan misalnya taharrau, tahayyanu, dan iltamisu yang masing-masing adalah kata kerja perintah untuk mencari momentum langkah ini. Sayangnya, jika pemburuan malam mulia ini didasari dengan pola pikir materialisme sehingga yang menjadi fokus utama adalah sekadar memburu malam yang lebih baik dari seribu bulan diikuti keinginan-keinginan yang materialistik.”

Ketika Allah subhanahu wata’ala berfirman;

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)} [القدر: 1 – 3]

Sesungguhnya Kami turunkan (al-Qur`an) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan) (1) Dan apakah yang kamu ketahui tentang Lailatul Qadar (2) Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan (3).” (QS. al-Qadar [97]: 1-3). Kira-kira, orang lebih fokus kepada malam yang lebih baik daripada seribu bulan atau kepada al-Qur`annya? Kebanyakan orang berfokus kepada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Padahal, yang tidak kalah penting ketika memandang Lalatul Qadar sebagai momentum diturunkannya al-Qur`an.

Dengan fokus pada momentum penurunan al-Qur`an, maka orang yang hendak memburu Lailatul Qadar sebagai malam istimewa, tidak hanya terpaku kepada bonus seribu bulan yang dikandungnya (meski ini sebenarnya sah-sah saja), tapi juga berusaha sedemikian rupa mentadabburi keagungan al-Qur`an dalam jiwanya secara berusaha maksimal untuk mengamalkannya. Fokus kepada al-Qur`an dalam pemburuan ini malah membuka peluang besar mendapatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.

Sebagai bandingan, firman Allah subhanahu wata’ala berikut bisa dicermati:

{وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [الأنفال: 41]

dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan , yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal [8]: 41). Ketika membaca ayat ini, fokus yang utama apakah pertempuran Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan yang disibut hari Furqân (yang memisahkan atau membedakan antara yang haq  dan bathil) atau kepada al-Qur`an yang diturunkan pada momen tersebut?

Jadi, alangkah baiknya jika fokus pemburuan Lailatul Qadar  ditingkatkan kembali ke ranah yang lebih subtantif: penghayatan dan pengamalan al-Qur`an di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Dengan fokus seperti ini, di luar bulan Ramadhan bisa terlihat siapakah orang-orang yang berhasil mendapatkan Lailatul Qadar. Mereka adalah yang konsisten beramal di luar bulan Ramadhan serta menjadikan al-Qur`an sebagai imam dalam kehidupan sehari-harinya, dan yang tidak kalah penting berusaha secara giat untuk mengamalkan al-Qur`an dalam kehidupannya. Wallahu a’lam.

Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!