Sirah

FAJAR DI UFUK INDONESIA

Kelamnya peradaban sebelum Islam bukan karena manusianya tak mengenal Allah. Insan itu menuai kegelapan karena adanya keyakinan bahwa ada ilah selain Allah. Kondisi inilah yang menyebabkan manusia mengalami fase kelam dalam selimut gelap. Bangsa Arab mengaku dan mengakui keberadaan Allah tapi tak mengesakannya. Dimulai dari Abdullah bin luhay yang meletakkan berhala dalam kabbah. Kemusyrikan merajalela hingga seluruh jazirah Arab.

Bangsa Quraisy amat bangga dengan statusnya sebagai penjaga kabbah. Kekelaman itu diiringi dengan keyakinan pada kekuatan langkah manat, latta, dan Uzza sebagai berhala pemberi rizki dan penghindar madhorat. Penduduk Quraisy itu biasanya memberi sumpah dengan mengucapkan demi Allah, demi latta, demi uzzah, dan demi manna.

kelam dalam selimut gelap.

Bangsa romawi pra-Islam memilki peradaban tertinggi di dunia saat itu, mereka adalah penguasa setengah dunia. Bangsa romawi mengaku sebagai penganut ajaran Isla al-Masih. Namun kesucian Isa putra Maryam diikuti dengan kepercayaan bahwa ia adalah anak Tuhan. Bagi bangsa Romawi, Allah adalah Tuhan yang memilki anak yang Dia titipkan ke rahim perawan suci Maryam. Bangsa romawi dengan keyakinan nasrani yang dia peluk menjadi penguasa bumi Syam, negeri yang menjadi kiblat pada masa itu. Kekuatan besar yang mampu mengimbangi romawi adalah Persia. Adikuasa pada masa itu adalah romawi dan Persia.

Bangsa Persia memilih api sebagai tuhan mereka. Tak hanya syirik penguasa Persia juga gemar menyiksa rakyatnya. Persia merupakan bangsa pertama yang mengenalkan pagan kepada bangsanya. Sifat api yang bercahaya justru mengelamkan kehidupan Persia. Api menjadi tuhan sesembahan.

kelam dalam selimut gelap.

Di negeri timur jaya, bangsa Cina mengenal kekuatan para dewa. Salah satu bangsa tertua di dunia ini juga percaya kekuatan mahluk ghaib serupa naga. Ada lebih seribu dewa dan dewi yang diyakini terucap dalam kehidupan manusia. pertanda baik dan kebahagian bisa tampak dari fenomena alam, turunnya hujan dipercaya sebagai pembuka keberkahan. Sebailknya, kekeliruan dalam menentukan arah rumah bisa mengundang petaka.

Lalu pada masa itu, bagaimana dengan nenek moyang kita penghuni nusantara pra-Islam. kelam dalam selimut gelap. Agama di Nusantara dimulai dari fase persembahan benda mati, pohon dan batu. Kemudian berkembang ke dalam sistem mitodologi dan banyak dewa. Karena pengaruh imigran yang datang ke katulistiwa, nusantara pernah disebut sebagai pusat dunia karena kemegahan peradabannya. Namun, asma Allah adalah sesuatu yang asing bagi penghuni katulistiwa ini. kelam dalam selimut gelap.

Sampai tiba saatnya semburat harapan. Semburat harapan itu muncul tak lama setelah pasukan gajah dihancurkan oleh burung ababil. Dari rahim aminah lahir Nabi dan Rasul terakhir, sebuah semburat cahaya. Kelahirannya merobek tabir-tabi kegelapan. Kelahirannya diringi sinar cahaya terang dari jalan lahirnya. Cahaya itu berpendar di Mekkah hingga mampu menerangi langit negeri Syam yang seribu kilo meter jaraknya dari Mekkah. Tanda-tanda risalah Muhammad bin Abdullah telah Nampak. Semburat fajar harapan.

Ketika gereja-gereja amblas ditelan bumi di hari lahirnya, api yang dituhankan oleh bangsa majusi lansung padam. Kehidupan Muhammad terus mengalirkan keberkahan bagi keluarganya, kaumnya dan bangsanya. Ia memiliki julukan sebagai orang yang terpercaya karena kejujuran dan ahlaknya sempurna sebagai seorang manusia. Muhammad adalah kunci dari segala permasalahan untuk menemukan jalan keluar. Mulai dari sengketa dagang hingga siapakah yang berhak meletakkan batu suci hajar aswad ketika terjadi renovasi kabbah. Semburat fajar harapan mulai muncul.

Hatinya yang telah disuci oleh jibril tak mampu mengakui kekuatan latta dan uzzah. Di usianya yang matang ia memutuskan untuk menyendiri mencari jawaban mengapa tanah airnya diselimuti kemusyrikan. Hingga Allah mengutus sang raja malaikat jibril menemui ditempatnya menyendiri. Allah langsung yang membimbingnya untuk mengucapkan

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq: 1-5)

Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul penyempurna risalah dari Nabi dan Rasul sebelumnya. Risalahnya mencakup seluruh manusia tanpa memandang suku, bangsa, dan bahasa. Dimulai dari sebuah rumah sederhana dan sembunyi-sembunyi. Permulaan dakwah Nabi hanya diikuti oleh orang-orang lemah, namun keimanan adalah sumber kekuatan. Meski harus menghadapi beratnya siksaan yang harus berhadapan dengan kekuatan pemuka Quraisy, mulai dari abu jahal hingga abu lahab sang paman sendiri dan di kota kelahirannya. Ia harus menghadapi pemboikotan yang memaksa umatnya miskin dan kelaparan hingga tiba saatnya Rasulullah dan para sahabatnya pergi berhijrah ke Madinah. Di kota inilah Islam berkembang cepat dan pesat. Kekuatan yang berhasil mengalahkan ribuan tentara, kaum muslimin semakin kuat hingga berhasil membebaskan kabbah dan mekkah dari eksistensi 360 berhala. Sampai akhirnya fajar kebangkitan Islam pun datang.

Nabi Muhammad SAW berhasil menerangi peradaban, dia tak hanya menjadi pemimpin agama tapi sistem sosial dan ekonomi terbangun dengan sempurna. Ketika Allah menyiratkan masa akhir kehidupannya, Madina adalah ibu kota perdaban yang madani. Kesempurnaan Islam sebagai landasan hidup dan kehidupan dilanjutkan oleh empat sahabat yang berjuluk khulafa’ur rasyidin. Tongkat estafet ini kemudian berlanjut ke generasi berikutnya. Tiga generasi pertama umat Islam inilah yang disebut generasi terbaik. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Ketika terjadi keseimbangan antara dunia dan akhirat. Islam semakin meluas seiring dengan takluknya Persia dan mundurnya Romawi maka syariat Islam diterapkan secara sempurna. Tidak  hanya di bidang ibadah saja tapi tidak ada ketakuan dan kekhawatiran bagi yang tidak seakidah, karena Islam menjamin mereka untuk tetap beribadah. Sebab, Islam adalah agama penyebar kedamaian.

Ketika Rasulullah berhasil membersihkan mekkah dari berhala. Di masa Umar bin Khattab kesyirikan di bumi Syam telah musnah. Islam pada masa itu menyatukan tiga kota suci, Mekah, Madinah, dan al-Aqsha. Fajar kebangkitan Islam terus menyebar, menyebar ke berbagai penjuru dunia. Di bawah khalifah Umar bin Khattab Islam menyebar melintasi laut merah, bangsa Qibti berhasil ditaklukkan dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Islam di kawasan Afrika utara memuluskan jalan untuk masuk ke Eropa dan jadilah Andalusia gerbang Islam di sana. Masa kejayaan Islam terjadi ketika agama ini menguasai dunia, tak semata karena kekuatan militernya tapi ilmuwan dan filusuf muslim berhasil menyempurnakan kehidupan lewat pemikiran. Al-Jabbar berhasil menyemburnaka matematik sedangkan Ibnu Sina berhasil menuliskan dasar-dasar ilu kedokteran modern.

Fajar kebangkitan itu pun akhirnya sampai ke bumi nusantara, sebuah negeri yang sangat jauh. Nusantara mengenal Islam melalui jalur pedagang.  Bermula dari Aceh ajaran ini kemudian meluas ke pulau Jawa hingga ke Halmaherah. Para Ulama di masa bani Umayyah mengenalkan Islam kepada sultan dan Raja nusantara. Islamnya sang pemimpin berimbas kepada Islamnya nusantara.

Islam juga menjadi ruh dan nafas perjuangan melawan penjajahan. Hal itu terbukti dalam kalimat pertama dalam konstitusi Negara bahwa kemerdekaan adalah rahmat dari Allah. Indonesia adalah bangsa yang bertauhid karena menjadikan keyakinan pada keesaan Allah dalam dasar negaranya. Fajar kebangkitan itu terus menelusuk ke pelosok nusantara.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan lantunan takbir. Resolusi jihad yang digelorakan oleh Hasyim asy’ari yang sebelumnya telah diogelorakan oleh KH Ahmda Dahlan lewat ilmu pendidikan dan kesehatan. Semangat dalam berbagai bidang kemudian menggelorakan perang di Surabaya pada tanggal 10 november. Para pemuda pemberani dari seluruh Indonesia bertempur melawan kekuatan musuh yang diiringi dengan kalimat takbir. Bung Tomo pernah berkata, “Jika tak ada takbir, entah kalimat apa yang bisa diucapkan untuk mebakar are-are suroboyo dalam melawan penjajah”.

Islam tak akan pernah terpisah dari Indonesia karena negeri ini mampu merdeka karena tetesan darah para ulama dan para santri. *Orasi KH Bachtiar Nasir dalam milad AQL yang ke-9, Balai Sarbini, 14 Oktober 2017.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close