Dua Kata Kunci Perjuangan Politik Islam

PERJUANGAN politik umat Islam secara umum terdapat pada dua kata kunci, yaitu: an-Nashr wa at-Tamkiin. “An-Nashr” berarti kemenangan. Maksudnya, kemenangan dari dua sisi: Pertama, perjuangan kita yang melahirkan kemenangan akibat an-Nashr dari Allah. Kedua, at-Tamkin yang berarti kebebasan untuk menjalankan agamanya. Keduanya bertolak dari dua tujuan politik Islam, yaitu: hirasatuddin wahimayatu ra’iyah (menjaga tegaknya agama dan bagaimana melindungi rakyatnya secara berkeadilan).

Ironisnya, ketika berbicara gerakan Islam, acap kali ada penolakan baik secara internal maupun eksternal. Sebab, orang Indonesia jauh lebih suka menyebut Indonesia sebagai “Negara Hukum” daripada “Negara Agama”. Yang menjadi pertanyaan, jika dikatakan Negara Hukum, lantas hukum siapa?

Padahal, dalam perundang-undangan Indonesia banyak juga agama di dalamnya dan bahkan mayoritas. Sebab, pada awalnya yang mentukan hukum Indonesia itu adalah orang-orang yang beragama dan menghormati agama. Untuk itu, apapun istilahnya ketika dakwah terus berjalan, mau kemasan apapun yang jelas isinya tetap sama. Di situlah perjuangan para pendiri bangsa selama ini.

            Andai pendiri bangsa ini menghendaki Indonesia sebagai daulah islamiyah (negara berdasarkan Islam). Mungkin, Indonesia sudah terbagi dua dari dulu. Tapi, dengan perdebatan yang panjang secara intelektual dan mengesampingkan ego sehingga Indonesia menjadi Negara Kesatuan setelah dibacakan proklamasi dan terbentuklah undang-undang dasar 45 itu. Ini sebuah kombinasi antara perjuangan dengan taufiknya Allah SWT.

Dalam konteks perjuangan Islam saat ini, secara demokratis umat Islam harus memenangkan umat Islam di Jakarta. Karena umat Islam sudah sepakat bahwa orang Nasrani biarlah dipimpin oleh orang Nasrani, Budha dengan Budha, dan kita umat Islam berhak memilih pemimpin dari umat Islam dan itu adalah perintah Allah SWT.

Mayoritas penduduk Indonesa adalah umat Islam maka wajar kalau meminta presiden dan wakilnya adalah umat Islam. Ini sangat demokratis dan halal. Apa yang kita lakukan ini tentu sesuai dengan amanah undang-undang dasar. Kalau kita bicara jangka pendek. Akan tetapi, tujuan akhirnya adalah nashrun wa tamkinun. Menegakan agama dengan cara kebinekaan, tidak ada diskriminasi agama.

Terkait masalah diskriminasi dan marjinalisasi Islam dan umat Islam, kondisi di lapangan, seakan minoritas mengendalikan mayoritas. Ada arogansi minoritas terhadap mayoritas. Seperti yang sering muncul di media, walaupun subjektif. Orang yang puasa disuruh menghormati yang tidak puasa, padahal orang yang tidak nyepi disuruh menghormati yang nypei. Walau ini adalah angle (sudut pandang) yang subjektif yang sering diangkat.

Belum lagi tuduhan terorisme selalu dipojokkan terhadap Islam dan umat Islam. Dan yang paling terasa saat ini adalah diskriminatif antara pemodal dan umat Islam. Sehingga kemarahan yang satu ditambah dengan kemarahan yang lain lagi. Lalu, ketika masuk ke politik, Islam yang paling dihujat.

            Kedamaian yang dibawa umat Islam dalam aksi-aksinya adalah modal sosial yang sangat dahsyat. Tinggal itu mau dibawa kemana. NKRI harga mati, Bhineka Tunggal Ika, pancasila, dan undang-undang dasar 45  telah menjadi ijma’ (kesepakatan) politik umat Islam di Indonesia. Umat islam Indonesia sudah sepakat dengan 4 pilar kebangsaa ini. dan ini sudah menjadi makanan anak-anak di sekolah, perguruan tinggi.

Kalau memang ini sudah menjadi kesepakatan bersama dan membawa Indonesia pada kemajuannya. Maka mari bercermin keluar, Ikhwanul Muslimin itu ditumbangkan di Mesir itu tidak dalam keadaan lemah tapi ketika dalam keadaan berkuasa, yaitu kudeta Mursi. Padahal ikhwanul muslimin sebagai harakah islamiyah (gerakan Islam) sudah mencapai 80 tahun usianya.

Sebagai sebuah geakan Islam yang sangat politis di Mesir. Berbeda dengan Erdogan di Turki dengan prosesnya yang gradual dan masa kepemimpinan erdogan yang telah mencapai puncaknya dan sekarang agak mulai meredup lagi, karena tantangan internal dan eksternal. Internalnya diperhadapkan oleh kelompok agama dan eksternalnya Amerika, Rusia dan Iran yang tentu tidak menginginkan ini. Hal ini yang membuat erdogan akhirnya bekerja sama dengan rusia.

Melihat kondisi demikian, lalu Indonesia mau kemana? Indonesia harus jadi Indonesia. Maka kita harus sepakati satu kata kunci yaitu: an-nashr wa tamkin, bagaimana kita menang secara konstitusional dan bagaimana kita mendapatkan posisi yang kuat untuk menegakkan agama kita, dan kita mendapatkan perlakuan yang adil sebagai mayoritas di bangsa ini.

(Sari Kuliah Shubuh KH Bachtiar Nasir 02/04/2017)

*Laporan: Muhajir

*Editor   : Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!