Dua Dimensi Idul Fitri

 

IDUL Fitri berasal dari bahasa Arab, terdiri dari kata “’id” atau “’aid” yang berarti: kembali gembira, hari raya dan tempat mulia (Asy-Syaukani, Nalil al-Authâr, III/337).. Dan “al-fithri” asal artinya: membelah atau memecah. Namun, juga memiliki beberapa makna, di antaranya: Pertama, makan. Kedua, penciptaan (Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arabi, V/58). Jadi, kalau kedua kata ini digabung, makna harfiahnya adalah kembali makan (karena sebulan sebelumnya berpuasa penuh di siang hari) atau kembali ke “fithrah” penciptaan Allah atas manusia.

Melihat pengertian Idul Fitri secara etimologis, maka Idul Fitri memiliki dua dimensi makna penting. Pertama, dimensi material yang berkaitan dengan makan. Kedua, dimensi spiritual yang berkenaan dengan fitrah Allah atas manusia.

Untuk dimensi “makan” (yang bersifat materil) misalnya, apa iya Idul Fitri sebagai simbol “makan-makan” dalam pengertian “pelampiasan” setelah dikekang sebulan penuh pada momen Ramadhan? Ternyata tidak. Hadits Nabi Muhammad berikut, paling tidak menjadi pijakan penting:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ»

Dari  Abu Ayyub Al-Anshari RA, beliau meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian setelah itu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti puasa setahun penuh.” (HR. Muslim, Abu Dawud).

            Hadits ini secara implisit menunjukkan bahwa Idul Fitri bukanlah bulan pelampiasan dan balas dendam makanan, karena masih ada puasa enam hari di bulan Syawal. Bahkan, puasa sunnah lain juga masi tetap ada sepanjang tahun hingga berjumpa Ramadhan kembali seperti: Puasa Senin dan Kamis, Daud, Ayyamul Bidh (13, 14, 15 bulan qamariyah), dan lain sebagainya. Ini artinya, makan tetap ada pengontrolnya.”

Adapun yang bersifat spiritual, mengingatkan kita mengenai firman Allah SWT:

{فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ } [الروم: 30]

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).

Di sini ada perintah untuk menetapi fitrah Allah. Apa yang dimaksud fitrah Allah? Jawabannya bisa dijumpai pada ayat berikut:

{وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ} [الأعراف: 172]

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raf [7]: 172).

Jadi, fitrah Allah atas manusia adalah tauhid bagaikan bayi yang disabdakan nabi, “Setiap bayi terlahir di atas fitrah. Kedua orangtuanyakag yang membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani maupun Majusi.” (HR. Bukhari, Muslim). Ketika orang beridulfitri secara spiritual berarti, ia berusaha sedimikian rupa untuk kembali kepada fitrahnya yaitu: tauhid. Indikasi riil dalam kembali ke fitrah ialah bersihnya jiwa dari noda syirik dan segala bentuk kemaksiatan.    Berangkat dari sini, maka tidak mengherankan jika Idul Fitri oleh sebagian orang diartikan: kembali suci. Karena, diibaratkan seperti bayi yang masih suci berada pada fitrahnya.

Sudut pandang mengenai Idul Fitri yang memiliki dua dimensi ini ternyata diaffirmasi oleh para salafus shalih. Saat Idul Fitri tiba, anak-anak perempuan Umar bin Abdul ‘Aziz mengungjungi bapaknya. Pada saat itu, baju mereka lengkap dengan berbagai pernik perhiasan. Raut wajah kegembiraan tersirat jelas dari wajah mereka. Ketika anak-anak melihat bapaknya memakai baju bekas dan makanan yang sangat sederhana, maka mereka menawarkan baju baru dan makanan yang layak. Umar pun menimpali, “Idul Fitri itu bukan dengan baju baru, tapi hanyalah untuk orang yang takut dengan Hari Kiamat. Hari ini kita Idul Fitri, besok Idul Fitri bagi kita. Bahkan, setiap hari di mana kita tidak bermaksiat kepada Allah adalah Idul Fitri bagi kita.” (Arsip Multaqa Ahlul Hadits I, 16/225).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam buku Lathâif al-Ma’ârif (1424: 295)    menyebutkan perkataan Hasan al-Bashri terkait Idul Fitri, “Idul Fitri adalah setiap hari yang engkau tidak melakukan kemaksiatan di dalamnya adalah Idul Fitri bagimu.” Suatu hari, sebagian orang arif dan bijak didatangi seorang tamu yang ingin berbicara. Kata orang arif tersebut, “Hari ini adalah Idul Fitri kami.” Tamu itu pun pamit pergi. Pada kesempatan lain, saat hendak bertemu kembali, dijawab dengan jawaban yang sama. Peristiwa ini berulang tiga kali. Sampai pada kali ketiga, tamu ini berkomentar, “Banyak sekali Idul Fitrimu.” Seketika orang arif itu menjawab, “Apa kamu tidak tahu, setiap hari yang engkau tidak bermaksiat kepada Allah maka itu adalah Idul Fitri. Segenap waktu orang arif semuanya adalah kebahagiaan dan kegembiraan dengan bermunajat kepada Allah SWT.”

Suatu hari, beliau didataingi seorang lelaki pada Hari Raya Idul Fitri. Pada waktu itu, menantu Rasulullah ini sedang memakan roti kasar. Orang tersebut lantas berkomentar, “Sekarang `kan hari raya, mengapa Anda memakan roti kasar?” Imam Ali dengan bijak menjawab, “Hari ini adalah Idul Fitri bagi orang yang diterima puasanya, dihargai usahanya, dan diampuni dosanya. Hari ini adalah hari raya Idul Fitri, besok juga Idul Fitri bagi kami. Dan setiap hari yang kita tidak bermaksiat kepada Allah, maka itu adalah Idul Fitri kami.” (Abdul Qadir Jailani, al-Ghaniyyah li Thâlibî Tharîq al-Haqq, II/34).”

Kisah senada juga dialami oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Suatu hari, beliau didataingi seorang lelaki pada Hari Raya Idul Fitri. Pada waktu itu, menantu Rasulullah ini sedang memakan roti kasar. Orang tersebut lantas berkomentar, “Sekarang `kan hari raya, mengapa Anda memakan roti kasar?” Imam Ali dengan bijak menjawab, “Hari ini adalah Idul Fitri bagi orang yang diterima puasanya, dihargai usahanya, dan diampuni dosanya. Hari ini adalah hari raya Idul Fitri, besok juga Idul Fitri bagi kami. Dan setiap hari yang kita tidak bermaksiat kepada Allah, maka itu adalah Idul Fitri kami.” (Abdul Qadir Jailani, al-Ghaniyyah li Thâlibî Tharîq al-Haqq, II/34).

Dari pembahasan tadi, kita bisa merefleksikan Idul Fitri kita di tahun 1438. Bahwa Idul Fitri bukan sekadar urusan perayaan “makan” tapi juga diharmonikan dengan kontrol spiritual berupa pengendalian diri secara kontinu dari berbagai perbuatan maksiat dan selalu berupaya berada pada titik koordinat fitrah tauhid. Itulah refleksi Idul Fitri hakiki. Wallâhu a’lam.

* Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!