TadabburTausiyah
Trending

Dia-lah Allah yang Maha Esa

TIDAK berlebihan jika dikatakan bahwa pemikiran kita sangat butuh penuntun di dalam aktivitasnya, apalagi dalam membahas tauhid. Tanpa penuntun maka kita akan mengalami kesesatan. Surat al-Ikhlas menjadi salah satu penuntun kuat untuk memahami Allah yang Maha Esa. Surat ini berbicara tentang sifat-sifat Allah Yang Maha Esa, Maha mengumpulkan semua sifat Kesempurnaaan, Maha dibutuhkan untuk selamanya, Yang tidak butuh kepada selain-Nya, Suci dari sifat-sifat kekurangan, sejenis, dan serupa.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

Tafsir Jalalain

(Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa”) lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.

Tadabbur

Memulai dengan mentabburi nama surat ini, terdapat perbedaan antara kata ikhlas dan rela, ikhlas ikut kehendak Allah walau harus menekan sampai habis keinginan sendiri, dan rela biasanya kita melakukan sesuatu karena sesuai dengan keinginan kita. ikhlas artinya murni, seumpama emas murni artinya tidak tercampur sedikitpun partikel-partikel lain.

Ikhlas berarti memurnikan penghambaan kepada Allah Swt., tidak tercampur dengan kesyirikan. Sebab banyak di antara kita yang masih menghambakan diri kepada harta, kekuasaan, dan bahkan orang yang dicintai.

Hidayah agung dalam surat al-Ikhlas adalah tauhid. Allah menunjukkan ke-Esaan-Nya. Dia sudah ada sebelum kata ada itu ada, dan akan ada selamanya walaupun kata ada itu sudah tida ada. Semua mahluk di alam semesta ini bergantung pada keberadaan-Nya, dan semua yang ada tidak akan ada jika tidak diadakan oleh Dia. Tidak ada hakikat selain hakikat-Nya. Tidak ada subtansi kecuali bersumber dari subtansi-Nya. Segala eksistensi yang lain hanya akan berkembang dari eksistensi-Nya.

Tauhid adalah kunci kebahagiaan hidup seseorang. Tak perlu lagi ada ketakuatan terhadap mahluk. Tak perlu merasa terancam terhadap musuh. Hidup menjadi ringan, dada menjadi lapang, ikhlas selalu menjadi tema aktivitas setiap saat, dan hanya kepada Allah kita berserah diri.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (QS. asy-Syura: 11)

Tidak akan ada yang pernah sama, dan tidak akan ada yang setara dengan-Nya. Jika sudah sampai pada ­ahadiyah Allah, maka kita telah sampai pada pemahaman eksistensi-Nya. Tidak ada yang meyerupai-Nya, tidak memiliki bandingan maupun tandingan.

Kata qul dalam ayat pertama surat al-Ikhlas tidak hanya bermakna “katakan”, tapi juga meyakini dalam hati. “katakanlah” juga bermakna bahwa keimanan harus diikrarkan. Kaum liberal dan sekuler selalu mengatakan bahwa keimanan cukup dalam hati. Namun dalam melalui surat al-Ikhlas Allah memerintahkan kita untuk mendeklarasikan keimanan. Kedua, ayat ini juga mengandung kewajiban untuk berdakwah. Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk mengenalkan Allah, menyampaikan ke-Esaan-Nya kepada orang yang belum mengenal Dzat-Nya.

Al-Qur’an diturunkan untuk mengukuhkan ke-Esaan-Nya. Sebab misi semua Rasul adalah untuk membawa umatnya ke jalan lurus, terbebas dari kesyirikan. Hidup akan bermakna jika bertauhid; ringan, mudah, dan ditolong oleh Allah Swt..

Orang yang paling bahagia adalah mereka yang paling tinggi dalam mengesakan Allah. Demikian juga sebaliknya, semakin kurang tauhid maka hidup semakin tersandera, hidup tidak merdeka, sebab ada cinta selain-Nya, ada sandaran selain-Nya, dan berharap dari selain-Nya.

Orang yang bertauhid tidak pernah risau apalagi sedih jika kehilangan harta, tahta dan wanitanya, sebab bagi mereka “Semua itu boleh pergi tapi Allah selalu ada dalam hatiku. Aku lebih takut kehilangan-Nya daripada kehilangan harta, tahta, dan wanitaku.” *Ditulis dari Kajian tadabbur KH. Bachtiar Nasir di Masjid Raya Pondok Indah, Selasa. 4/9/2018.

*Muhajir

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close