Dewasa dalam Berpuasa

SEWAKTU masih di usia kanak-kanak, kebanyakan cara berpuasanya masih “puasa balas dendam”. Maksudnya, di siang hari bulan Ramadhan, segala imajinasi makanan yang ada di benak seolah ingin disiapkan semua untuk dilahap ketika berbuka. Padahal, saat berbuka tiba, belum tentu sanggup menghabiskan semua yang disiapkan sejak siang atau sore hari itu. Ujung-ujungnya perut sangat kenyang, dan yang pasti akan merasa berat menjalankan shalat Tarawih atau ibadah lainnya di masjid karena kondisi perut kenyang menyebabkan badan malas dan mengantuk.

Pada realitanya, keaadaan ini bisa saja menimpa remaja bahkan orang tua. Suatu kondisi di mana puasa hanya dipahami sekadar ranah fikih saja. Sehingga, yang penting bisa menahan diri dari makan, minum dan berhubungan intim (bagi suami-istri) dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, maka sudah beres. Dengan demikian, subtansi puasa berupa pengendalian diri secara jasmana dan ruhani, tereduksi hanya pada masalah jasmani. Sehingga, puasa yang sejatinya mengajarkan nilai hidup “pengendalian” di tengah pola hidup “pelampiasan” malah menjadi berbalik karena pola pikir puasa jenis demikian.

Terkait hal ini, ada anekdot Arab yang perlu dicermati. Suatu ketika, ada salah seorang yang mengundang suatu komunitas untuk berbuka bersama. Ketika adzan Maghrib dikumandangkan, salah seorang tamu undangan kecewa saat melihat makanan yang disajikan begitu sederhana. Di atas meja makan, tidak terlihat aneka hidangan, sehingga tidak membangkitkan nafsu makan.

Melihat situasi demikian, akhirnya orang yang melihat hidangan sederhana ini berkomentar, “Sepatutnya kamu meningkatkan perhatian terhadap tamu-tamu undanganmu dalam bulan Ramadhan.” Sang pengundang pun merespon, “Jika tamu-tamuku adalah orang-orang beriman yang sedang berpuasa dan berakal, maka yang disajikan di atas meja hidangan itu sudah mencukupi mereka. Tapi, jika mereka tidak demikian, maka di atas meja lebih banyak dari apa yang mereka berhak menerimanya.” (Rabih Khadusi, Tharâ`if ‘Arabiyah, 21).

Puasa mengajarkan diri untuk pandai mengontrol, mengendalikan, dan membatasi diri. Meski ada waktu berbuka, ia tidak melampiaskannya hingga kadar berlebihan. Bagi orang yang berpuasa, makan sederhana saja sudah cukup memenuhi kebutuhannya dalam berbuka. Inilah yang disebut kedewasaan dalam berpuasa.”

Anekdot Arab ini memang tepat. Orang beriman dan berakal yang berpuasa, dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahu bahwa puasa mengajarkan diri untuk pandai mengontrol, mengendalikan, dan membatasi diri. Meski ada waktu berbuka, ia tidak melampiaskannya hingga kadar berlebihan. Bagi orang yang berpuasa, makan sederhana saja sudah cukup memenuhi kebutuhannya dalam berbuka. Inilah yang disebut kedewasaan dalam berpuasa. Sebaliknya, orang yang tidak berpuasa kemudian dijamu dengan jamuan demikian sudah lebih dari cukup karena pada dasarnya dia tidak berpuasa, sedangkan hidangan takjil untuk orang-orang yang berpuasa. Wallahu a’lam.

*  Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!