Dasar-Dasar Pendidikan Islam

KUNCI sukses untuk menjadi orang benar, menjadi orang mulia, dan menjadi pemenang adalah dengan menjadi orang beriman dan beramal shalih yang dasarnya adalah ilmu yang benar, yaitu Al-Qur’an. Ilmu itu tidak bersumber dari barat dan timur, walau pun mereka maju dari sisi sains dan teknologi. Karena ilmu yang sesungguhnya adalah qalallah wa qala rasul, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena sangat berbeda orang berilmu dengan ilmu yang benar dan hanya orang berpengatahuan dengan pengatahuan yang berasal dari riset manusia.

 

ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

 

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

Andai seluruh universitas runtuh di muka bumi, seluruh perpustakaan tenggelam ditelan bumi, dan hanya tinggal satu kitab yaitu Al-Qur’an, manusia bisa mencapai puncak pengetahuan yang sesungguhnya dan bisa membangun peradaban. Dengan Al-Qur’an manusia bisa menjadi manusia seutuhnya. Al-Qur’an adalah tonggak kebangkitan peradaban baru, peradaban keseimbangan, dan peradaban yang membawa manusia pada kemuliaan dan kebahagiaan hakiki.

Sebagaimana awal diturunkan Al-Qur’an, saat itu Romawi dan Persia menjadi ikon keilmuan dan perdaban. Kedua bangsa ini menjadi bangsa adikuasa ketika Rasulullah diutus. Akan tetapi, pada hakikatnya keilmuan pada masa itu adalah puncak kehancuran kemanusiaan manusia, karena manusia tidak lagi menghamba kepada pencipta manusia. puncak kegagalan ilmu manusia adalah ketika manusia menyembah ciptaan Tuhan.

Sama halnya dengan apa yang terjadi pada saat ini. Banyak manusia yang menjadi buta, tersilaukan oleh gemerlap sains dan teknologi sehingga (lambat-laun) meninggalkan Tuhan. Ideologi materialisme dan ideologi atheisme sebenarnya adalah puncak kemerosotan moral, ketika ilmu manusia tidak lagi mengantarkannya kepada Tuhan yang Maha Esa. Itulah sebenarnya puncak daripada runtuhnya peradaban manusia. lalu ke mana kita harus berkiblat untuk mengetahui ilmu yang sebenarnya?

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,” (1) membaca mempunyai makna yang sangat luas, tidak hanya membaca teks tapi membaca alam semesta untuk mengenal penciptanya. Kita sudah dikatakan sudah membaca, jika bacaan itu membuat sadar bahwa ada yang menciptakan kita. Kemudian, ilmu akan naik satu tingkat jika sudah sadar dengan esensi ilmu.

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (QS. Al-Alaq: 2). Harus disadari bahwa kita hanya mahluk yang tercipta dari segumpal darah pada awalnya, lalu menjadi daging, lalu terlahir di dunia sebagai manusia. ilmu kita akan naik tingkat berikutnya jika sudah meyakini bahwa hanya Allah Maha Baik, Maha Mulia dengan segala kebaikan dan kemuliaan-Nya. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,’. “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,” (QS. Al-Alaq: 3-4). Mahluk yang pertama kali diciptakan adalah Al-Qalam. Allah memerintahkannya untuk menuliskan semua yang dititahkan kepadanya, setelah itu terjadilah apa yang menjadi kehendak-Nya.

Hal terpenting dari pencarian ilmu dan ilmu yang paling tinggi yang harus kita cari adalah  “Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”, (QS. Al-Alaq : 5).  Allah yang akan mengajarkan kepada manusia pengetahuan yang tidak pernah diketahui oleh manusia pada masanya.

Ketika ‘iqra’ belum diturunkan manusia berada dalam kesesatan, bahkan Nabi Muhammad tidak faham apa itu Iman? Ketika diturunkan kepadanya wahyu tidak faham itu apa itu Al-Kitab?

Pada saat manusia sudah sampai pada era kebobrotan dan kehancuran moral, Allah kemudian mengutus Rasulnya untuk memperbaiki moral yang runtuh itu. Memang, ketika seorang Nabi telah diutus itu menandakan ahlak telah hancur. Sebagaimana Nabi Nuh Rasul pertama di muka bumi. Pada masa itu manusia sudah lebih bejat dari binatang.

Ironinya, hal itu juga terjadi pada kita saat ini. sistem pendidikan dan pergaulan menjadikan anak-anak cepat dewasa secara syahwat, tapi lambat dewasa akal budinya, hal itu karena jauh dari kitab sucinya. Dengan Al-Qur’an kita akan mencapai puncak keilmuan. Sebagaimana Rasulullah yang mampu membangun peradaban Islam hanya dalam kurun waktu 23 tahun, itu menjadi waktu terisngkat dalam sejarah peradaban manusia.

Manusia jika telah jauh dari Al-Qur’an maka tunggulah kehancuran. Negara kita kaya raya, tapi kenapa utangnya menumpuk? Karena kita belum kembali ke jati diri bangsa kita dan menjauhkan Al-Qur’an dari sistem pemerintahan. Jati diri bangsa kita adalah ketuhanan yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Tauhid dengan menyatakan hanya ada satu Tuhan, kemudian kita harus mengikat diri dengan kalimat tauhid, yaitu laa ilaha illallah. Lebih baik mati daripada lepas ikatan tauhid di dalam jiwa. Itulah yang namanya akidah. Selama umat Islam dan bangsa Indonesia yang berketuhanan yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab punya pegangan akidah, maka Indonesia akan selamanya berdaulat dan tidak ada yang bisa menjajahnya.

Saat ini peadaban barat mulai runtuh, karena tinggal sedikit yang bisa dijajah. Lalu setelah itu bangkitlah peradaban timur dengan atheis-komunismenya. 40% produk dunia saat ini dikuasai oleh China. Dan peradaban ini sedang bangkit. Dampaknya pada Indonesia, anak anak kita dididik dengan sistem sekuler, sehinga mereka alergi terhadap Islam dan simbol-simbolnya. Inilah yang menjadi tantangan kita sebagai umat Islam. bagaimana memasyarakatkan konsep dasar pendidikan Islam.

Suatu ketika ada orang yang berteriak di pasar, “saya sudah membunuh Tuhan, tidak ada lagi Tuhan di muka bumi ini”. setelah itu, ada orang yang mendatanginya, lalu bertanya, “anda katanya tidak percaya adanya Tuhan, tapi kenapa ada mengatakan anda sudah membunuh Tuhan?”

 

Arus pemikiran yang melanda pelajar kita saat ini sangat deras. Sehingga banyak generasi kita yang takut memegang bendera tauhid. Padahal hanya narasai Al-Qur’an yang bisa menjelaskan makna sila pertama pancasila, yaitu surat Al-Ikhlas.

 

Akan tetapi, apa pun peradaban yang kuat saat ini jika berhadapan dengan peradaban Islam maka mereka akan tumbang. Dahulu, ada dua anak muda yang menumbangkan jenderal besar kaum musyrikin, sehingga tumbanglah peradaban musyrik pada saat itu. Kesalahan terbesar manusia adalah ketika gagal mengenal Tuhannya sehingga gagal mengenal Tuhannya. kesuskesan sebuah pendidikan adalah ketika berhasil mengenal dirinya dan tunduk kepada Tuhannya. karena ilmu adalah alamat untuk menganal Tuhan. *Ditulis dari tausiyah UBN di Masjid Al-Manar, Tonra, Bone, Sulawesi-Selatan.

Sebarkan Kebaikan!