AQL InfoNasionalNews

Dari Pattallikang Menuju Mangempang, Perjuangan Menembus Wilayah Terisolir

GOWA (AQLNEWS)- Seakan bumi belum usai menangis merespon dosa-dosa manusia. Selat Sunda masih menyisakan pilu. Palu? Proses bangkit. Kini Sul-Sel menjadi ayat kauniyah yang mengharuskan kita rehat sejenak dari rutinitas, berhenti sejenak dari berbagai aktivitas.

Tentu, ujian berbagai ujian. Bencana alam demi bencana alam, bukan sekedar fenomena alam semata. Ada peringatan yang mesti kita cerna dengan perenungan panjang.

Hari ini, 26 Januari 2019, tim AQL Peduli melakukan perjalanan menuju Desa Sapaya, wilayah paling parah terdampak longsor.

Tak sesuai ekspektasi, dalam imaji roda empat bisa membantu. Perjalanan terhenti di daerah Pattallikang. Transportasi terhenti akibat jembatan Lemoa di daerah tersebut putus terbawa arus. “Kita jalan kaki saja.” Ucap Ustadz Firman.

Dengan bantuan beberapa warga, logistik berhasil dibawa ke seberang jembatan. Menyapa TNI, Polri, dan warga yang berjibaku membuat jembatan darurat, salah seorang warga berbaik hati memberikan tumpangan menuju Desa Pattiro.

“Iye tidak apa-apa, kita nai’mi saja. Tapi sampai di Pattiro saja, karena di situ longsor, tertimbunki jalanan.” tuturnya.

Tangisan bumi menyertai. Duka tersimpan rapi. Lelah? Pasti. Longsor di Pattiro yang mengakibatkan 22 jiwa tertimbun mencipta pilu dalam hati.

“Di sini ada 22 orang meninggal, hari ini baru 9 yang ditemukan. Di sini perempuan yang banyak meninggal, karena laki-laki banyak pergi ke sawah, “Ucap Serang (25), korban longsor

Berita yang mengejutkan adalah, kebanyakan korban adalah wanita. “Yang banyak meninggal itu ibu-ibu. Karena kita laki-laki ke sawah.” Lanjut Serang.

Usai membagikan logistik ke korban longsor di Pattiro. Ditemani pak Mursalin, tim AQL Peduli berjalan kaki memikul logistik ke daerah Mangempang. “Tidak bisa naik motor, harus jalan kaki.” Ucapnya.

Berjuta dosa, bahkan tak terhitung telah kita lakukan. Jika belum mampu membuka mata kita, lalu apa lagi?

Bukankah tangis para korban adalah pesan? Bagaimana jika itu terjadi kepada kita. Semoga tidak.

Tetes embun membasahi mata hati. Mencoba bertahan di atas puing-puing yang telah rapuh. Tak hanya satu, puluhan longsor ringan menutupi jalan.

“Sekitar lima jam lagi kalau mau ke Sapaya. Kita mampir saja di rumah pak dusun Mangempang istirahat. Besok pagi kalau mau lanjut lagi.” Ucap Pak Mursalin, saat lelah menemani perjalanan tim AQL Peduli.

Perjalanan menuju Mangempang mencipta lelah yang sangat. Terukir kisah pilu. Sejak perbatasan longsor sudah terlihat menutup jalan-jalan.
Rumah-rumah kosong, akibat penghuni yang trauma terjadi longsor susulan. Hingga beberapa meter tiba di rumah tujuan, tim harus berhadapan dengan longsor yang sangat parah.

Jalan terputus total, dan belum terlihat tim evakuasi. “Khusus di desa Mangempang 7 korban meninggal,yang tertimbun. 6 warga tertimbun satu belum ditemukan. 1 orang meninggal di jalan akibat trauma, namanya Ibu Nurmiyanti.” Ucap bapak Nujun, Kepala Dusun Bangkeng Batu, Des. Mangempang, Gowa, sul sel.

Hal yang paling menyakitkan adalah, tidak ada sinyal. Mungkin penderitaan ini hanya dialami para wartawan (intermezzo).

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close