Cara Hamka Mengisi Waktu Ramadhan

UNTUK mengetahui cara HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) mengisi watu di bulan Ramadhan, maka perlu diulas kembali kisah beliau yang dipenjara pada masa rezim Orde Lama di bawah pimpinan Presiden Soekarno. Pengalaman masuk bui ini, paling tidak bisa menggambarkan bagaimana sosok Hamka memanfaatkan momen Ramadhan.

Pada hari Senin, 27 Januari 1964 yang bertepatan dengan 12 Ramadhan 1383, seperti biasa, Hamka mengisi pengajian tafsir mingguan untuk ibu-ibu yang dihadiri sekitar seratus orang. Saat itu, yang ditafsirkan adalah Surah Al-Baqarah ayat 255 atau yang lebih dikenal dengan Ayat Kursi. Pengajian ini selesai pukul sebelas. Seusai pengajian, beliau pulang ke rumah untuk istirahat sambil menunggu dzuhur.

Saat berada di rumah menunggu Dzuhur, tiba-tiba Hamka diberi tahu anaknya bahwa ada empat tamu yang membawa mobil Fiat yang hendak bertemu dengannya. Waktu itu, Hamka mengira mereka adalah tamu yang ingin mengundangnya mengisi tabligh tarawih dan puasa. Ternyata dugaan beliau meleset. Keempat orang itu adalah polisi berpakaian preman yang mengirimkan surat penangkapan terhadap Buya Hamka berdasarkan Pen. Pres. (Penetapan Presiden), no. 11/1963.

Dalam kondisi letih berpuasa, dan tidak tahu menahu apa kesalahannya, Hamka dijemput dengan kekerasan untuk kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Empat hari kemudian, baru beliau tahu bahwa tuduhannya adalah mendapat bantuan Tengku Abdurrahman (Perdana Menteri Malaysia) empat juta dolar untuk membunuh Menteri Agama, Saifudin Zuhri dan hendak mengadakan Coup d’etat. Tuduhan lain yang tidak kalah keji adalah menghasut mahasiswa pada kuliah di IAIN Ciputat agar meneruskan pemberontakan Kartosuwiryo dan kawan-kawan.

Sebagai catatan penting, meski dalam kondisi yang sangat sulit, menghadapi ujian berat, Hamka tak putus menjalani ibadah wajib puasa Ramadhan. (Shobahussurur, Mengenang 100 tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah Hamka [2008])

Singkat cerita, akibat tuduhan ini, Hamka dipenjara dua tahun empan bulan dari tahun 1964-1966.  Takdir masuk bui ini, rupanya anugerah besar bagi kehidupan Hamka. Pasalnya, tafsir yang sudah direncanakan sejak akhir 1985 dan belum rampung sampai tahun 1964, ternyata bisa dirampungkan dalam tahanan. Tafsir yang ditulis di penjara ini kelak masyhur dengan nama Tafsir Al-Azhar yang menjadi magnum opus beliau.

selama dipenjara beliau sampai khatam 100 kali.”

Selain menulis tafsir, aktifitas Hamka selama di penjara adalah saat malam digunakan untuk berkhalwat,  beribadah dengan khusyuk, bermunajat, dan shalat tahajud. Sedangkan siang, digunakan untuk mengarang, tafakkur dan muthala’ah, membaca al-Qur`an dan buku-buku lainnya. Khusus membaca al-Qur`an, selama dipenjara beliau sampai khatam seratus kali. (Hamka, Tafsiir al-Azhar, 2005: I/66-77).

Setiap Ramadhan, beliau biasa mengkhatamkan al-Qur`an sebanyak lima kali.”

Terkhusus mengenai bacaan al-Qur`an beliau, Irfan Hamka dalam buku Ayah…Kisah Buya Hamka (2016: 213-214)  menuturkan bahwa Hamka sangat kuat membaca al-Qur`an. Beliau tidak akan berhenti membaca al-Qur`an sebelum mengantuk. Beliau akan terus membacanya 2-3 jam. Dalam sehari, Hamka bisa menghabiskan 5-6 jam hanya untuk membaca al-Qur`an. Setiap Ramadhan, beliau biasa mengkhatamkan al-Qur`an sebanyak lima kali. Pasca istrinya meninggal, beliau bisa mengkhatamkan 6-7 kali dalam sebulan.

            Ulama yang berilmu luas ini akhirnya wafat pada 23 Juli 1981 M, bertepatan dengan 22 Ramadhan 1401 H di Rumah Sakit Umum Pertamina. Kemudian dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir (Rusydi, 2016: 61).

Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa cara Hamka mengisi momen Ramadhan adalah beribadah, menulis, membaca, berdakwah, berkarya dan terlebih khusus adalah membaca al-Qur`an. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!