ArtikelOpiniSirah

Bukan Hanya Kartini

RADEN Ajeng Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904) yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional NKRI pada tahun 1964 (Mutiara Sumber Widya, 2004: 42), adalah figur perempuan yang paling tersohor dibanding wanita-wanita lainnya. Bahkan, setiap tanggal 21 April, ada peringatan khusus yang biasa disebut sebagai “Hari Kartini” sebagai simbol kepahlawanan wanita Indonesia pada masanya. Lantas apa kelebihan Kartini dan apa hanya beliau yang memiliki keistimewaan itu?

Dari sosok Kartini, biasanya, ada beberapa segmen yang digambarkan sebagai kata kunci kepahlawanannya. Pertama, pejuang pendidikan. Kartini memiliki cita-cita luhur sebagai seorang guru. Karenanya, ia sangat ingin mendirikan sekolah bagi anak perempuan. Cita-cita itu, meski tidak begitu massif, bisa terealisasi di Jepara sebelum dirinya menikah, dan pasca menjadi istri Adipati Djojoadiningrat di Rembang. Pendirian sekolah ini juga menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah perempuan lainnya.

Kedua, pejuang nasionalisme. Dalam surat-suratnya dengan Stella tergambar dengan jelas bagaimana Kartini muda peduli dengan masalah nasionalisme bahkan menjadi inspirator pergerakan di awal abad 19. Tjipto Mangoenkoesoemo (Tokoh sentral Indische Partij) misalnya, menggunakan konsep “sadar” Kartini (yang berarti peralihan dari keadaan tertidur ke siuman) untuk mendukung tujuan Indies los van Netherland. Organisasi perempuan Poetri Mardika (1912) pun mengukuhkannya sebagai kias sumber nyala api bagi pergerakan nasional dalam surat kabar. (JJ  Rizal, Kartini Sebagai Ide, Tempo 28 April 2013, 97).

Ketiga, ranah kepenulisan. Kartini piawai menulis. Surat-suratnya kepada Stella adalah bukti nyata mengenai kemahirannya ini. Di samping itu ia juga mempublikasikan karangannya di sejumlah media dan jurnal. Sala satu ciri khas tulisannya ialah ia tidak pernah mencantumkan nama aslinya. Karangan-karangan di majalah De Echo –majalah perempuan Hindia yang berpusat di Yogyakarta- menggunakan nama samaran Tiga Saudara.

Keempat, pejuang kesetaraan gender. Melihat buku bacaan yang sedemikian rupa dari tanah Eropa yang pada waktu itu geliat feminisme lagi kuat-kuatnya. Mau tidak mau memang Kartini terpengaruh. Kemajuan perempuan di Eropa ingin ditularkan di nusantara. Maka ide kesataraan gender, adalah bagian dari feminisme. Bahkan, Kartina adalah termasuk sosok yang getol melawan praktik poligami, meski pada akhirnya ia mau dipoligami.

Kelima, kepeduliannya terhadap orang yang tertindas. Sebagai contoh, dirinya adalah salah satu sosok yang membantu kesenian batik dan seni pahat di Jepara bisa menjadi maju. Sebelum dibantu Kartini, nasib mereka sungguh memprihatinkan. Kehadiran Kartini dalam kehidupan mereka seolah menjadi angin segar yang memperbaiki taraf hidup mereka.

Dari kelima kunci kepahlawanan ini, apakah hanya seorang Kartini yang menyandangnya? Ternyata, bila dirujuk dari literatur sejarah, lima kata kunci itu juga dimiliki tokoh atau pergerakan perempuan lainnya.

Dalam dunia pendidikan misalnya, Rahmah El Yunusia (1900-1969) merupakan pelopor pendidikan kaum perempuan. Untuk mengentas nasib pendidikan perempuan, beliau mendirikan sejumlah sekolah hingga perguruan tinggi. Atas jasa-jasanya dalam dunia pendidikan, beliau sampai mendapat gelar “Syaikhah” dari Universitas Al-Azar pada tahun 1957. Al-Azhar pun terinspirasi sehingga mendirikan perguruan tinggi untuk perempuan yang disebut Kulliyatul Banât.

Terkait masalah nasionalisme misalnya, di sana ada sosok Cut Nyak Dien yang semangat nasionalisme melawan penjajah bukan sekadar di ranah pikiran tapi turut serta beerjuang di medan laga melawan penjajah. Dari organisasi Muslimat NO kita juga bisa mengambil pelajaran. Mereka turut serta berjuang membantu membela tanah air ketika Belanda mau merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Rahma El Yunusia juga menjadi ketua Haha no Kai (Organisasi Perempuan) di Padang Panjang yang membantu pemuda yang terhimpun dalam Gyu Gun (laskar rakyat) yang dipersiapkan untuk revolusi perjuangan bangsa.

Dalam dunia kepenulisan dan jurnalistik, sosok Rohanna Koeddoes juga bisa diangkat. Pada 10 Juli 1912 ia menerbitkan surat kabar Soenting Melajoe yang berarti “Perempuan Melayu”. Selain itu, NUM (Nahdhatul Ulama Muslimat) dalam masalah kepedulian sosial juga lumayan banyak. Bahkan mereka membentuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat. Muslimat NO ini sangat peduli dalam ranah sosial.

Kepahlawanan adalah hasil kolektif akumulasi peran dari orang-orang sebelumnya.”

Dengan demikian, bukan hanya Kartini yang melakukan tindakan-tindakan hebat kepahlawanan. Meski begitu, kita tidak berarti mengecilkan peran Kartini. Di samping itu, tak terlalu membesar-besarkannya, serta tidak menutup mata terhadap peran-peran wanita selain Kartini. Karena pada dasarnya, kepahlawanan adalah hasil kolektif akumulasi peran dari orang-orang sebelumnya. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close