Bisnis Anti Rugi yang Sukses Dunia Akhirat

Dalam pelajaran Bahasa sekitar tahun 60-an, ada cerita kusir yang melihat kudanya malas, dicambuk dan dicambuk tetap tidak mau jalan. Ternyata kuda itu lapar, lalu digantungkanlah pas didepan mata kuda itu dedak dan rumput. Tentu sudah ditebak bagaimana kelanjutannya. Kuda itu lari terus dengan sangat bersemangat sampai dia capek, dan tetap saja dia tidak bisa mendapatkan dedak dan rumput yang telah digantung di depannya. Kemudian sang kusir itu turun dan memberinya makanan itu.

Ini adalah cerita dulu. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, banyak orang yang cara kerjanya seperti itu. Yang motivasi kerjanya adalah materi. Umumnya kalau ditanya tujuan kerjanya ia akan menjawab, “Mencari sesuap nasi dan segenggam berlian”. Orang yang kerja dengan motif materi maka ukuran kesuksesannya juga materi. Cara pandang yang seperti inilah yang diibaratkan dengan kuda yang diletakkan makanan di depan matanya. Kalau bukan karena kebaikan majikan tentu kuda itu tidak bisa makan, sampai kapan pun dia tidak akan pernah dapat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ


“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih?” (QS ash-Shaf: 10)

Allah memberitakan kepada orang-orang beriman bahwa ada perniagaan yang tidak akan pernah merugi dan pasti terbebas dari azab yang pedih, baik di dunia mau pun di akhirat. Pada kenyataanya, banyak orang yang berkarir sebagai PNS selama bertahun-tahun tapi dirasuki nafsu materialisme yang akhirnya jabatan itu menjatuhkan dirinya sendiri. Setelah ia menjadi hina di depan keluarga dan masyarakatnya, masa depannya juga menjadi suram hanya karena menuruti nafsu sesaat. Di dunia saja demikian bagaimana jika di akhirat, tentu lebih parah.

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’aala juga menginformasikan bahwa ada sebuah karir yang membuat kita sukses tanpa perlu keja keras. Karir akan mulia dan hidup akan bahagia dengan karir itu. Namun, yang terpenting adalah ada jaminan bebas dari adzab Allah. Coba perhatikan ayat ini, kenapa yang disebutkan terbebas dari api neraka? Sebab, jaminan terbebas dari siksaan adalah puncak kebahagiaan. Dalam surat Ash-Shaf ini, Allah memperlihatkan kepada kita bagaimana cara berkarir dengan karir yang mulia, sukses, memberi kebahagiaan dan yang terpenting adalah dibebaskan dari azab yang pedih. Lalu karir atau bisnis yang dimaksud itu apa?

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS ash-Shaf: 11).

Ciri dari perniagaan tanpa rugi itu adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian berjihad dengan harta dan jiwa. Inilah bisnis anti-rugi dan satu-satunya bisnis yang mempunyai jaminan lansung oleh Allah, baik kesuksesan maupun terhindarnya dari adzab yang pedih.

Pada saat itu Umar mengundang Said untuk mendukungnya, Umar berkata, “Wahai Said, aku menyerahkan kota Himsh kepadamu.” Maka Said menjawab, “Wahai Umar, dengan nama Allah aku memohon kepadamu agar mencoret namaku.” Maka Umar marah, dia berkata, “Celaka kalian, kalian meletakkan perkara ini di pundakku kemudian kalian berlari dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.”

Umar mengangkat Said sebagai gubernur Himsh, Umar bertanya kepadanya, “Aku akan menetapkan gaji untukmu.” Said menjawab, “Apa yang aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian dari baitul maal kepadaku melebihi kebutuhanku.” Said pun berangkat ke Himsh menunaikan tugasnya.

Tidak lama berselang, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab didatangi oleh orang-orang yang bisa dipercaya dari penduduk Himsh, Umar berkata kepada mereka, “Tulislah nama penduduk miskin dari Himsh agar aku bisa membantu mereka.”

Mereka menulis dalam sebuah lembaran, di dalamnya tercantum nama fulan dan fulan serta Said bin Amir.

Umar bertanya, “Siapa Said bin Amir?”

Mereka menjawab, “Gubernur kami.”

Umar menegaskan, “Gubernur kalian miskin?”

Mereka menjawab, “Benar di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang cukup lama.”

Maka Umar menangis hingga air matanya membasahi janggutnya, kemudian dia mengambil seribu dinar dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong. Umar berkata, “Sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan harta ini agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Delegasi pun pulang dan mendatangi rumah Said dengan menyerahkan kantong dari Umar bin Khatthab. Said melihatnya dan ternyata isinya adalah dinar, maka dia menyingkirkannya seraya berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Seolah-olah Said sedang ditimpa musibah besar atau perkara berat.

Istrinya datang tergopoh-gopoh dengan penuh kecemasan, dia berkata, “Apa yang terjadi wahai Said? Apakah Amirul Mukimin wafat?” Said menjawab, “Lebih besar dari itu.”

Istrinya bertanya, “Apa yang lebih besar ?”

Said menjawab, “Dunia datang kepadaku untuk merusak akhiratku, sebuat fitnah telah menerpa rumahku.”

Istrinya berkata, “Engkau harus berlepas diri darinya,” Dia belum mengerti apa pun terkait dengan perkara dinar tersebut.

Said bertanya, “Kamu bersedia membantuku?”

Istrinya menjawab, “Ya”

Maka Said mengambil dinar itu, memasukkannya ke dalam kantong-kantong dan membagi-baginya kepada kaum muslimin yang miskin.

Jika ingin bisnis anti-rugi maka kuncinya adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta beriman kepada hari akhirat. Karena biasanya, orang yang hanya beriman kepada hari akhirat pikirannya jadi kacau. Banyak dalil setelah menyebutkan keimanan kepada Allah diikuti setelahnya beriman kepada hari akhir. Sebab, Akhlak kita akan lurus dalam bekerja kalau sudah beriman kepada Allah dan hari akhir.

Kalau mau lebih hebat lagi “Dan berjihadlah di jalan Allah dengan harta dan jiwamu’. Tidak mudah menjadi seorang pejabat, tapi jika kita mampu menjadikan jabatan itu sebagai jembatan menuju Allah,  maka “Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Para pahlawan mendirikan bangsa ini dengan darah dan nyawa mereka. Setiap jengkal tanah kesatuan Indonesia di bayar dengan tangisan anak-anak yang menjadi yatim dan para ibu yang menjadi janda. Warisan mereka yang begitu luas ini, menjadi bukti betapa luasnya jiwa para pahlawan, karena luasnya keikhlasan mereka dalam perjuangan, kelapangan hati mereka yang diisi dengan asma-asma Allah. Itu mereka buktikan dengan pekikan takbir saat berjuang. Hal itu mereka buktikan dengan laa ilaha illallah ketika meninggal  dunia. Dan mereka tidak pernah mengharapkan materi sekecil apapun, sehingga Indonesia menjadi luas seperti ini. mereka berkorban bukan hanya harta tapi juga nyawa mereka.

Siapa kita dibanding mereka? Suatu saat nanti kita akan dikumpulkan dalam satu tempat, yaitu padang mahsyar. Kita dan mereka akan saling berjumpa. Bagaimana kalau mereka berkata, “Hai, di zamanku belum punya jendral, di zamanku Indonesia tidak punya senjata, hanya bambu runcing, di zamanku kami makan seadanya, bukan makanan bergizi yang seperti kalian punya, tapi di zamankulah Indonesia merdeka, di zamanku kami bisa mewariskan Indonesia yang sangat luas ini, ada apa dengan kamu?”

Kira-kira kita akan jawab apa. Disinilah perbedaaanya. “Hal adullukum ala tijaaratin tunjiikum min azaabinalim”  Perbedaan mereka dengan kita adalah cara mereka ‘berdagang ‘ dengan Allah. Mudah-mudahan kita termasuk hambanya yang pintar berdagang dengan-Nya.

Sebarkan Kebaikan!