Bismillah; Jangan Salah Kaprah!

ORANG Islam mana yang tak kenal “bismillah”? Kalimat yang menjadi bagian dari Surah al-Fatihah (bagi sebagian ulama); pembuka bagi tiap-tiap surah dalam al-Qur`an (kecuali Surah At-Taubah); diulang-ulang dalam shalat fardhu yang jahr (seperti: Maghrib, Isya dan Shubuh) maupun sirr (Dhuhur dan Ashar); bahkan manjadi bagian dari doa-doa dan merupakan awal surat yang ditulis oleh Nabi Sulaiman AS juga menggunakan kalimat ini.

Bila digali satu persatu makna “basmallah”, maka sebenarnya kalimat ini terdiri dari tiga kata yang memiliki makna cukup dalam. Pertama, huruf “bi”. Huruf jarr (yang membuat isim [kata benda] yang didahuluinya berharakat majrur [kasrah dan variannya]) bermakna: aku mengawali ini (bisa perbuatan atau apa saja) dengan pertolongan. Kedua, kata “ism” yang memiliki akar kata sumuw (tinggi, agung) dan simah (alamat, tanda) yang biasa diartikan nama. Ketiga, kata “Allah” adalah nama Allah teragung yang mencakup semua al-Asmâ al-Husnâ (nama-nama Allah yang terindah). Allah sendiri yang memberi tahu nama agung ini kepada makhluknya.

Ketika disatukan, ketiga kata ini bermakna: berkat pertolongan asma (nama) Allah, maka aku memulai (pekerjaan atau aktivitas kebaikan apapun). Jadi, kalimat “bismillah” mengandung kesadaran akidah yang sangat tinggi. Bahwa aktivitas apa pun yang dilakukan, tidak lepas dari peran dan pertolongan Allah. Maka, dirinya memulai segenap pekerjaan dengan asma-Nya yang teragung.

Kesadaran akidah dari kalimat “bismillah” ini, bila ditarik pada berbagai segmen kehidupan, pengaruhnya sungguh dahsyat. Allah akan menjadi dasar pekerjaan, pertimbangan pekerjaan dan amalnya. Di sisi lain, tidak salah kaprah dalam melihat sebab, akibat, dan yang membuat sebab.

Ketika orang berobat ke dokter misalnya, dirinya sadar dokter (baik modern atau tradisional) adalah sarana untuk menyembuhkan penyakit. Tapi dari kesadarannya terdalam, ia mengimani bahwa zat yang menyembuhkan adalah Allah yang salah satu nama-Nya adalah Asy-Syâfî (Zat Yang Maha Menyembuhkan). Hal ini juga bisa ditarik ke segmen-segmen kehidupan lainnya yang berkaitan erat dengan sebab-akibat. Karena, segala sesuatu tidak akan terjadi, melainkan berkat kehendak dan kekuasaan-Nya.

Imam Ar-Râzî dalam tafsirnya yang berjudul Mafâtîh al-Ghaib (I/152) menceritakan kisah Nabi Musa AS yang salah kaprah. Suatu saat, Nabi Musa AS sakit perut. Kian waktu sakitnya bertambah parah. Dalam kondisi demikian, beliau mangadu kepada Allah SWT dan menanyakan obatnya. Allah pun memberitahukan obat kepadanya berupa herbal (tumbuhan) yang berada di gurun. Setelah musa menelan obat tersebut, seketika beliau sembuh atas izin-Nya SWT.

Di lain kesempatan, sakit perut itu ternyata kambuh. Dalam kondisi sakit parah yang sama, hal pertama yang diingat oleh Nabi Musa AS bukanlah Allah Zat Yang Maha Menyembuhkan, tapi obat yang ditunjukkan oleh Allah SWT. Seolah, dirinya meyakini bahwa tumbuhan itulah yang dapat mengobati sakit serupa. Tanpa diduga, obat sejenis yang diminum semakin membuat sakit semakin menjadi-jadi. Akhirnya ia mengadu kepada Allah, “Ya Rabb! Mengapa saat pertama kali aku memakannya, aku bisa sembuh. Tapi di lain waktu, malah bertambah parah?”

Allah pun menjawab, “Pada sakit yang pertama, kamu pergi mencari obat tersebut karena perintahku, maka kemudian kamu bisa sembuh (Artinya, pada momen pertama sakit, yang diingat olehmu adalah Aku). Sedangkan pada kesempatan kedua, kamu percaya bahwa obat itu yang membuat sembuh sehingga kamu pergi mencarinya untuk kesembuhanmu, maka sakitmu bertambah parah. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya dunia semuanya adalah racun yang mematikan, sedangkan penawarnya adalah asma-Ku.”

“Teguran Allah kepada Nabi Musa AS, “Pada sakit yang pertama, kamu pergi mencari obat tersebut karena perintahku, maka kemudian kamu bisa sembuh (Artinya, pada momen pertama sakit, yang diingat olehmu adalah Aku). Sedangkan pada kesempatan kedua, kamu percaya bahwa obat itu yang membuat sembuh sehingga kamu pergi mencarinya untuk kesembuhanmu, maka sakitmu bertambah parah. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya dunia semuanya adalah racun yang mematikan, sedangkan penawarnya adalah asma-Ku.”

Kisah ini memang disebutkan tanpa sanad (riwayat hadits). Hanya saja, maknanya bisa diambil sebagai pelajaran berharga. Dalam menjalani hidup, jangan sampai salah kaprah. Kalimat “bismillah” mengajarkan umat Islam untuk meluruskan orientasi, akidah, niat sejak dini. Segala hal bermula dari Allah, maka mulailah segala yang baik dengan asma Allah. Yang tidak kalah penting, jangan berhenti pada sebab dan akibat duniawi, tapi ingatlah kepada Musabbibu al-Asbâb (Pencipta Sebab), sehingga kita tidak salah langkah dan salah kaprah dalam mengarungi kehidupan yang penuh ujian ini menuju akhirat yang merupakan negeri keabadian. Wallâhu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!