ArtikelTausiyah
Trending

Bisa Jadi ini Ramadhan Terakhir Kita, Jangan Sia-Siakan!

SAAT ini kita tengah menanti menjadi hamba yang terpilih mendapat anugerah Lailatul Qodar.  Namun, ini bukan Ramadhan yang pertama kali kita lalui. Mari kita bertanya kepada diri sendiri, sudah berapi kali kita menjalani Ramadhan? Sudah berapa kali kita menghabiskan malam-malam terakhir dengan i’tikaf? Apakah kita termasuk manusia pilihan itu?

Rasanya, mungkin belum. Anggaplah ini Ramadhan terakhir kita, tahun depan belum tentu kita bersua lagi dengan bulan penuh berkah ini. Anggaplah, ini malam terakhir kita untuk beri’tikaf.  Segala daya kita upayakan, rasa kantuk kita tahan, mulut dan hati kita penuhi zikir dan tilawah quran. Lalu, segala doa kita panjatkan agar tidak menjadi orang yang merugi. Jangan sampai Ramadhan berlalu, tapi dosa-dosa kita tak terampuni.

Kita patut bersyukur, menjadi umat nabi besar Muhammad Saw. ini, sungguh dimanja oleh Swt.. Ketika para sahabat nabi hijrah dari Mekah ke Madinah, sesungguhnya mereka terusir dari kampung halamannya. Mereka tinggalkan semua harta miliknya, termasuk keluarga yang masih belum beriman. Mereka memulai hidup baru di sebuah daerah yang disebut oleh Rasululluh dengan al Madinah al Munawwaroh. Hanya keimanan yang mendorong mereka.

Sebagian ulama berpendapat surat ini turun di Madinah, setelah surat Al Muthaffifiin, meskipun ada sebagian yang mengatakan surat ini termasuk Makiyyah. Saat itu, Rasululloh berkisah tentang seorang mujtahid dari kaum bani Israil yang beribadah selama seribu bulan, seluruh siangnya  ia gunakan untuk berjihad, sedangkan seluruh malamnya,  ia gunakan untuk bermunajat kepada Allah.

Para sahabat pun begitu takjub dengan sosok itu, dan bersedih tak mampu mengejar apalagi meraih kemuliaan sebagaimana sang mujtahid. Rupanya, Allah begitu sayang dengan umat Rasulullah. Lalu, Allah hibur dengan menurunkan surat al-Qadar. Hanya dengan satu malam saja, kita bisa mengejar seperti mujtahid bani Israil itu, bahkan lebih darinya. Orang yang mendapat anugerah Lailatul Qadar, mendapat kebaikan dan keutamaan lebih dari ibadah seribu bulan.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qodar:1-5)

kita telah berada di penghujung  ramadhan, jangan sia-siakan. Sungguh Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya di sepuluh terakhir ramadhan, dan membanungkan keluarganya.

“Dari Aisyah RA, ia berkata, Rasulullah SAW ketika masuk 10 hari terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (muttafaq ‘alaih).

Jangan sampai amal sholeh kita di bulan ramadhan sama dengan bulan lainnya. Jangan sampau sepuluh terakhir ini ibadah kita sama dengan hari-hari sebelumnya. Malam hari harus lebih giat, semoga kita salah satu hamba yang dianugerahi berkah Lailatul Qadar.

Setidaknya adalah amalan-amalan prioritas di sepuluh terakhir ini, yaitu, shalat jamaah magrib isya dan subuh, tarawih, qiyamullail dan witir, tilawah al-Quran, berzikir dan berdoa sebanyak-banyaknya, Istighfar di waktu sahur, sedekah dan berinfak, i’tikaf, siaga satu untuk menghadapi Lailatul Qadar, dan yang paling penting berbakti kepada orang tua, silaturahmi, dan memberi sahur kepada peserta i’tikaf.

Sungguh merugi kita di bulan ini jika semua pintu surag dibuka selebar-lebarnya dan kita tidak berhasil masuk surga. Sungguh merugi saat semua pintu neraka ditutup dan kita menjadi salah satu hamba yang dijebloskan ke dalamnya. Orang seperti ini adalah orang yang tidak sunguh-sungguh menyambut ramadhan.*Ditulis dari tausiyah KH Bachtiar Nasir.

*Muhajir

 

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close