Bersahabat dengan Tiang Masjid

JAKARTA (AQLNEWS) – Pengajian Tadabbur Al-Qur’an Kamis Malam (2/3/17) berbeda dari biasanya. Kali ini, KH Bachtiar Nasir menjadi host dengan menampilkan Penasehat Hukum GNPF-MUI Kapitra Ampera sebagai pembicara seputar kecintaan kepada masjid.

“Ketika banyak orang yang melihat kita tentu ada satu yang memperhatikan. Yang satu inilah yang sulit ditemukan oleh manusia sehingga orang susah mengerti apa arti sebuah kehidupan. Dia adalah cinta. Cinta akan mendorong seluruh energi dalam diri seseorang untuk memperhatikan yang satu itu,” kata Ustadz Kapitra Ampera.

Dalam sebuah hadis, akan ada suatu hari dimana tidak naungan kecuali naungan Allah SWT. Salah satu dari ketujuh naungan itu adalah hati yang selalu tergantung di masjid. Namun, bagaimana hati ini bergantung pada masjid jika tidak paham apa itu masjid? Inilah dialog bagaimana menggantungkan hati di masjid serta menjadikan masjid sebagai tujuan dalam perjalanan hidup ini. KH Bachtiar Nasir yang bertanya, Ustadz Kapitra yang menjawab:

Apa yang bisa membuat seseorang bisa tergantung hatinya di masjid? Punya pengalaman bersahabat dengan tiang-tiang masjid?

Saya mengenal masjid baru sembilan tahun. Biasanya kalau saya masuk jam 10.00 atau jam 11.00, saya keluar jam 20.00. makanya jika ke masjid Ijtihad, tanyakan pada tiangnya, kenal nggak sama Pak Kapitra? Kenapa begitu? Dalam kehidupan ini dua tipe manusia yaitu; travel dan journey. Traveler itu adalah orang yang menikmati perjalanan, kadang-kadang lupa terhadap tujuan. Saking menikmatinya perjalanan, terkadang sampai kemana sebenarnya tujuannya. Nah, banyak orang ke masjid sebagai traveler. Sibuk dengan perjalanannya sehingga lupa tujuan sebenarnya ke masjid.

Sedangkan journey, adalah orang bepergian yang sangat menikmati tempat yang dituju (tujuan) sampai lupa pulang. Karena dia menikmati tujuan. Journey juga bisa diartikan sebagai sebuah perjalanan hidup seseorang. Kita sebagai muslim, apakah sekadar menikmati perjalanan, atau menikmati tujuan perjalanan kita?

Ada sebuah dialog antara Hasan al-Basri dengan pendeta Majusi, Simon. Tetangga Hasan al-Basri pernah berpesan kepadanya, tolonglah lihat Simon, dia sudah sakaratul maut. Ketika beliau bertemu Simon beliau lansung menawarkan Islam, “Maukah kau masuk Islam?” Simon menjawab, “Tidak”. Kata Hasan al-Basri, “tahu tidak, api yang kau sembah ini pasti akan berkhianat padamu!” kata Hasan. Simon lalu menjawab, “tidak Mungkin”. Lalu Hasan Basri mengajak si pendeta itu untuk memegang api lalu mengatakan “kamu yang 70 tahun menyembah api dan saya yang tidak pernah menyembah api apakah Anda tidak akan terbakar?” tapi apa yang terjadi tangan keduanya ternyata terbakar. “Tuhan yang kamu sembah itu berkhianat kepadamu. Mau aku tawarkan Islam kepadamu?” kata Hasan.

Simon menjawab “TIdak”. Lalu ditimpali lagi, “kenapa kamu tidak mau masuk Islam, padahal tuhanmu jelas-jelas telah mengkhianatimu.” Simon lalu menjawab, “Ada tiga hal yang membuat saya tidak mau masuk Islam. Pertama; mereka tahu bahwa hidup ini hanya sementara tapi dicarinya siang dan malam. Kedua; mereka tahu bahwa mati itu pasti tapi tidak pernah menyiapkan diri untuk menyambut kematian itu, ketiga; mereka tau jika telah mati akan bertemu dengan Tuhannya. Tapi ketika di dunia mereka melakukan hal-hal yang dibenci oleh Tuhannya.”

Setelah mendengar alasan Simon, Hasan Basri lalu mengatakan, “Inilah hidayah yang sedang masuk kepadamu, maka kamu harus masuk Islam.” Oke, kata Simon, “Saya ini telah 70 tahun menyembah api, apakah Tuhanmu masih mau mengampuni saya?”

Lalu Hasan Basri menjawab, Allah pasti akan mengampunimu. Baiklah, kata Simon, “saya akan masuk Islam, tapi buatlah surat pernyataan bahwa saya telah masuk Islam dan supaya Tuhanmu tidak menghukum saya.” Singkat cerita Hasan al-Banna membuat surat pernyataan itu.

Sebelum Simon meninggal ia sempat berwasiat kepada Hasan Basri untuk menggenggamkan surat pernyataan itu saat dia akan dikubur. Ketika selesai dikubur Hasan Basri kemudian kepikiran, “Bagaimana mungkin orang yang tenggelam menolong orang yang tenggelam dan bagaimana mungkin seorang hamba bisa mengambil kewenangan Tuhannya.” Di tengah konflik yang terjadi dalam dirinya ia tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi melihat dengan Simon di suatu taman yang indah, di kepalanya ada mahkota. Ketika terbangun, Hasan Basri berkata, “Ya Allah orang menyembah api selama 70 tahun engakau selamatkan hanya dengan satu kalimat, yaitu Laa ilaaha illallah Muhammadan Rasulullah. Bagaiamana dengan hamba-Mu yang menyembah-Mu selama 70 tahun akankah engkau perlakukan juga seperti dia?”

Syahadat itu dapat menempatkan manusia di tempat yang mulia dunia dan akhirat. Syahadat adalah dua kesaksian, yaitu kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu pertanyaanya, pernahkah kita datang ke rumah Allah? Berapa kali sehari kita mengunjungi rumah Allah? Ketika ke masjid berapa jam disana?

Hidup ini sementara. Dikejarnya siang malam sehingga meninggalkan rumah Allah SWT. Apapun yang bersentuhan dengan rumah Allah SWT, maka akan dimuliakan. Karpet misalnya, jika di hotel ia hanya akan diinjak-injak, tapi di masjid, ia dimuliakan karena berhubungan dengan Alllah SWT. Demikian pula dengan Ka’bah, itu hanya susunan batu yang tak seberapa nilainya, tapi karena dia bersentuhan dengan Allah maka dia menjadi mulia. Sekarang, kita kan mahluk mulia, kok tidak mulia? Karena kita tidak bersentuhan dengan Allah SWT. Kalau ingin terus bersentuhan dengan Allah maka harus dekat dengan kepada-Nya, bukan berdiam diri di rumah lalu tidak mendatangi masjid untuk mendekatkan diri. Masa mau minta rahmat Allah di rumah aja.

Menurut pak Kapitra masjid itu apa sih?

Masjid itu last station (persinggahan terakhir). Ikhtiar yang paling tinggi adalah tawakkal. Tuhan yang memberi makan Maryam yang hanya dalam mihrab shalat adalah Tuhan yang melihat kita saat ini. Lalu apa bedanya kita dengan Maryam. Maryam sering mengunjungi rumah Tuhannya, sedangkan kita sering mengunjungi rumah makhluknya. Masjid adalah tempat segala kasih sayang Allah tercurah kepda hambanya.

Lalu apa yang mendorong kita agar mau ke masjid?

Cinta. Jika malam minggu ada janji, biarpun hujan lebat pasti dipaksakan. Allah SWT mengimbau kepada hamba-Nya agar tidak seperti seorang perempuan yang memintal benang lalu setelah jadi kain kembali diuraikannya lagi. Atau lihat bagaimana laba-laba membuat sarang. Jika Tuhan yang melihat Maryam adalah Tuhan kita juga lalu dimanakah kita mencari Allah? Di pasar, di mal, atau ke kantor? Maka Allah mengatakan rumahku yang ada di masjid itu adalah masjid.

Saya dengar dulu Pak Kapitra membawa (mobil) Ferrari Sport ke masjid. Apa hubungannya dengan ayat “Khuzuu zinatakum ‘inda kulli masjidin”?

Ketika saya datang ke masjid bawa Mercy Sport. Saya duduk di tangga masjid lalu ada narasi dalam hati saya. ‘itu mobil engkau bawa ke tempat-tempat yang dimuliakan oleh Allah dan dibenci’. Saya kaget. Ketika saya tanya pada istri, dia hanya bilang ‘beli Mercy yang paling baru atau yang lebih dari itu, lalu bawa ke mesjid, kasih tau semua orang yang pergi di masjid, bukan orang yang tidak berkemampuan, orang lemah, dan orang-orang yang sudah sekarat.’

Ketika akan menghadiri pesta atau acara apapun pakaian selalu rapi, jas, dasi lengkap dengan sepatu. Kita bisa berbuat seperti itu tetapi kepada sesuatu yang kongkrit kita hanya memakai bekas tidur, kan tidak wajar. Makanya kalau saya mau ke masjid sangat memperhatikan pakaian saya, karena akan bertemu dengan kekasih saya. Dan ke masjid itu tidak mengenal masa, Allah memerintahkan harus wangi, bersih, dan rapi.

Energy apa sih yang dirasakan ketika berada dalam masjid dan ketika keluar dari masjid?

Hidup itu memuaskan hati, maka lakukanlah sesuatu yang bisa membuat hatimu puas. Jika kamu membunuh orang memuaskanmu, maka bunuhlah. Jika kamu ditangkap polisi maka jadikanlah penjara itu sebagai kepuasan hati. Saya telah keliling ke tempat-tempat yang mewah tapi tidak ada yang menggetarkan hati. Kebahagiaan itu hanya ada di masjid.

Dalam perspektif Pak Kapitra, kenapa sih proses menembus eskalasi langit harus melalui masjid? Apa korelasi kekinian untuk lebih taat kepada Allah SWT?

Coba bayangkan! Kalau kita naik buroq, kita lihat bintang dan benda-benda angkasa lainnya. Menikmati perjalanan nggak? Kalau kita sudah menikmati duluan maka akan habis energi disitu. Rasulullah SAW naik dengan spiritual journey, sampai ke atas lalu dia membawa sesuatu yang sangat besar. Dari masjid ke masjid itu menjemput sesuatu yang berharga yang terabaikan hari ini. Apa yang diambil? Shalat. Lalu shalat itu di bawah di hatinya, dijalankan syariatnya, lalu diamalkan dalam kehidupannya. Maka dia mencegah perbuatan keji dan mungkar. Inilah pondasi kebaikan itu dimulai dari masjid ke masjid. *

Reporter: Muhajir / Editor: Azhar

Sebarkan Kebaikan!