Berpuasa Bukan Berarti Berleha-leha

PUASA memang membuat orang lapar, haus dan berbagai keluhan fisik lainnya. Tapi, bukan berarti menjustifikasi seseorang untuk berleha-leha atau malas bekerja. Di situlah tantangannya. Bisakah muslim tetap berjuang di kala situasi sulit mendera. Perjuangan-perjuangan besar di masa Nabi Muhammad SAW, di antaranya dijalani ketika mereka sedang berpuasa.

Kisah menarik Abdullah bin Rawahah RA  pada saat perang Mu’tah (8 H) bisa dijadikan teladan. Pada waktu itu, beliau adalah salah seorang sahabat yang dipilih menjadi komando ketika Ja’far bin Abi Thalib dan Zaid bin  Haritsah gugur di medan tempur.

            Menariknya, dalam kondisi perang yang begitu mencekam, sahabat yang merupakan penyair muslim kondang ini dalam kondisi berpuasa. Pasca gugurnya dua panglima (Zaid dan Ja’far), ia langsung mengambil alih bendera perang memimpin perlawanan.”

Sebelum memulai perang kembali, beliau bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah matahari sudah terbenam?” “Ya,” jawab mereka serempak. Kemudian sahabat yang ikut dalam Perjanjian ‘Aqabah ini berdoa lalu berbuka dengan satu suapan daging.

Dikunyahlah makanan tersebut. Namun, apa yang masuk dalam mulutnya, sama sekali tak ada rasa. Bagaimana mungkin ia bisa merasakan nikmanya makanan pada saat kedua panglima gugur di medan juang. Akhirnya makanan itu dimuntahkannya, lalu bergegas mengambil sebilah pedang dan segera memimpin perjuangan.

Sebelum dimulai, sahabat yang berasal dari kabilah Anshar ini menatap ke langit sembari membaca sya’ir:

Aku bersumpah wahai jiwaku, kamu pasti turun di medan laga

            Kamu pasti turun walau kamu tak menyukainya

Jika orang-orang berteriak, berkumpul dengan suara tangis

            Aku tidak melihatmu membenci surga

Sudah lama kamu dalam kondisi tentram

            Kamu hanyalah seperti seteguk  air jernih di tempat minum yang akan sirna

(Ibnu Hisyam, 1375: II/379).

Setelah menyenandungkan syair, dengan tangkas beliau berjuang di medan laga, hingga syahid di jalan Allah SWT. Beliau menutup usianya dengan husnul khatimah (akhir yang baik). Kisah ini menunjukkan bahwa puasa bukanlah alasan orang untuk berleha-leha. Malah, momen puasa dijadikan sebagai sarana untuk melejitkan perjuangan secara maksimal. Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!