Berlawan Tapi Berkawan

SUHU politik di Indonesia dewasa ini kian memanas. Perbedaan tajam sisa-sisa Pilgub DKI masih berlanjut dengan bentuk yang semakin memprihatinkan. Masing-masing belum bisa move on dari perbedaan dalam ranah politik. Yang menang, dipandang jemawa. Sedangkan yang kalah, dirundung kecewa. Bahkan, tak jarang yang saling menyudutkan, merendahkan dan mencaci maki di media sosial. Konflik demikian harusnya segera disudahi, demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan anak bangsa di bumi pertiwi.

            Perbedaan dalam ideologi, pendapat atau apapun namanya sebenarnya adalah hal lumrah. Masalahnya, jika setiap perbedaan tidak disikapi dengan kearifan dan kedewasaan,  maka hanya akan menimbulkan perpecahan. Bayangkan, apakah Indonesia bisa merdeka jika masing-masing kelompok yang saat itu ideologinya bersebrangan bersikukuh dengan pandangannya?

Para tokoh pendahulu dalam negeri ini sudah memberikan teladan terbaik dalam masalah ini. Meski mereka berbeda bahkan berlawanan dalam ideologi, namun di luar itu mereka tetap berkawan dengan baik. Pihak yang berlawanan secara ideologi atau pendapat,  dijadikan sebagai sparring partner sehingga secara konstruktif bisa mendorong perkembangan menjadi lebih baik. Dalam satu diskusi mereka mungkin terlihat tegang, naik pitam, bahkan sampai membanting meja, tapi di luar itu, perkawanan masih terjalin dengan baik.

Soekarno-Hatta misalnya, yang dikenal dengan Dwi Tunggalnya, perbedaan pandangan antara keduanya cukup tajam, tapi uniknya, masing-masing tetap menjaga perkawanan. Meski pada akhirnya “Dwi Tunggal” menjadi “Dwi Tanggal”, dengan pengunduran diri Hatta, tapi toh hubungan mereka tetap terjalin baik. Ketika Hatta sakit, Soekarno menjenguknya (Kasenda, 2014: 71). Sebaliknya, ketika Soekarno sakit, Hatta juga membesuknya. Bahkan, Hatta mau memenuhi permintaan Soekarno untuk mewakili keluarga Soekarno dalam pernikahan Guntur Soekarno Putra di Bandung (Hadi dkk, 2008: .174).

Selain dengan Hatta, Soekarno juga pernah berpolemik dengan A. Hassan (Guru Utama Persis) mengenai asas negara. Dalam masalah ini, Soekarno berpandangan sekuler sebagaimana Kemal Attaturk, Turki. Sedangkan A. Hassan bersama Natsir, memilih asas Islam sebagai dasar negara. Masing-masing dari keduanya bertempur, berpolemik di media cetak, tapi menariknya, mereka tetap berkawan baik.

Saat Soekarno diasingkan di Endeh, A. Hassan sering mengiriminya buku-buku agama, bahkan jambu mede kesukaan Soekarno (Wildan, 1997: 36). Demikian juga, saat Soekarno dipenjara di Sukamiskin Bandung, A. Hassan dan teman-teman Persis membesuknya. Sebaliknya, ketika A. Hassan sakit paru-paru dan dirawat di RS. Malang, tanpa sepengetahuan A. Hassan, Soekarno mengirimkan uang 12.500 [waktu itu jumlahnya besar] untuk biaya pengobatannya (Wildan, 1997: 44).

Kisah lain yang patut diteladani ialah dari Buya Muhammad Natsir. Pendiri dan Ketua DDII ini adalah musuh ideologis Dipa Nusantara Aidit. Menurut penuturan Yusril Ihza Mahendra –yang mendengar langsung dari Natsir-, dalam sebuah forum keduanya saling berbeda pendapat. Bahkan suatu saat Natsir saking jengkelnya rasanya ingin menghajar kepala Aidit dengan kursi. Namun, di luar forum keduanya tetap berinteraksi secara baik sebagai kawan. Malah Aidit membawakannya kopi lalu ngerumpi masalah keluarga masing-masing. Bahkan, kalau setelah rapat tidak ada tumpangan, Pak Natsir sering digonceng Aidit dari Pejambon (Tempo, Volume 37, hal: 88).

            Dengan tokoh Katolik seperti I.J. Kasimo, F.S. Hariyadi serta J. Leimana dan A.M. Tambunan, beliau juga bersebrangan ideologi. Natsir memperjuangankan asas Islam, sedangkan mereka memperjuangakan Pancasila. Tapi toh ketika Natsir mengeluarkan mosi integral, mereka berada di belakang Natsir.

KH. Isa Anshari, salah seorang ulama Persis yang sangat gigih menentang komunisme, tentu saja juga sangat bersebrangan dengan D.N. Aidit dan Njoto. Tapi setelah berdebat di parlemen, beliau sering mengajak makan sate mereka berdua. Bahkan, ketika Aidit pulang ke Sukabumi, ia menginap di rumah Isa Anshari. (Sudarmanto, 2011: 179).

Teladan lain yang tak kalah mengharukan adalah Buya Hamka. Meski Soekarno pernah menjebloskannya ke penjara, beliau tetap mau menshalati jenazahnya. Demikian juga dengan M. Yamin, meski Hamka bersebrangan dengannya, saat Yamin meninggal beliau menemani jenazahnya ke kampung halaman. Lebih dari itu, dengan Pramoedya yang membabat habis dirinya di Harian Rakyat dan Bintang Timur dengan tuduhan plagiat, tapi toh ketika Pram menyuruh anak dan calon menantunya belajar agama Islam kepada Hamka, Buya pun menerimanya dengan hangat. (Irfan, 2016: 255-265)

Sebenarnya masih banyak lagi contoh lain yang menunjukkan perbedaan pandangan tidak harus merusak perkawanan. Hanya saja, contoh tersebut dirasa cukup menjadi pelajaran bagi anak bangsa. Jangan mau diadu domba dengan perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada seyogianya disikapi dan dikelola dengan baik sehingga tercipta rasa aman, nyaman dan sentausa di negeri tercinta ini. Sesama anak bangsa, jangan pernah mau diadu domba. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!