Berlari Mendekati Allah

“Jika kita ingin intropeksi, kebanyakan waktu kita berikan untuk Allah atau untuk perut? Kebanyakan tenaga kita gunakan untuk menghamba kepada Allah atau malah menghamba kepada mahluk? Coba kita intropeksi diri lagi”

Dalam kehidupan ini, hubungan horizontal kita dengan Allah subhana wa ta’aala menjadi kewajiban mutlak bagi seorang hamba. Kita dituntut untuk selalu menjaga kedekatan kepada-Nya agar terwujud konsistensi atau istiqamah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Hadis ini mengandung motivasi yang sangat tinggi bagi orang-orang yang berada dipinggir jurang keputus asaan. Rasulullah menegaskan bahwa, jangan putus asa dari rahmat Allah karena Dia menyambut kita dua kali lipat dari cara kita mendekatinya.

Imam Nawawi menempatkan hadis ini dalam bab bersegerah berbuat baik. Jangan putus asa dan merasa terhalang dari kebaikan, sebab Allah akan membalas setiap kebaikan yang kita kerjakan. Maka teruslah berbuat baik, menjadi orang baik, dan bersegerah mengerjakanm kebaikan. Kebaikan yang dilakukan dengan niat mencari ridha-Nya maka akan mendekatkan hamba tersebut kepada Tuhannya.

Salah satu kebaikan subtantif yang sering dilupakan oleh manusia adalah mendekatkan diri kepada Allah. Terkadang lupa mendekatkan diri kepada penciptanya karena disebabkan aktivitas duniawi yang banyak membuat perbuatan-perbuatan kita yang sia-sia. Sehingga, jika ada yang paling prioritas untuk kita perhatikan setiap hari adalah bagaimana membangun hubungan kita kepada Allah subhana wa ta’aala.

Dalam menjalani kehidupan ini terkadang kita punya masalah dengan mahluk Allah, sehingga menimbulkan rasa galau dan merasa dikucilkan oleh lingkungan kita sendiri, maka hidup kita resah. Padahal, Allah sudah memberikan rahasianya, jika punya masalah dengan manusia maka bangun hubungan dengan Allah, maka Dia akan memperbaiki hubungan kita dengan mahluk-Nya. Jika hubungan vertical baik maka Dia akan menolong kita untuk memperbaiki hubungan horizontal kita.

Jika ingin memperbaiki hubungan Allah maka mulailah dari shalat. Lalu, kapan kondisi terdekat kita dengan Allah pada saat shalat? Yaitu pada sujud. Karena sujud adalah kondisi dimana seorang hamba sangat dekat dengan Dzat yang maha dekat. Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah pernahkah kita merasakan kedekatan dengan Allah pada saat sujud? Dan bisakah kita merasakan kenikmatan subhana rabbiya al-A’laa pada saat sujud? Apakah ada perbedaan yang kita rasakan ketika berdiri, rukuk, dan sujud dalam shalat? Kadang kita luput memperhatikan ini dan justru sibuk dengan hal yang tidak penting. Padahal dalam hidup, jika ada kuliahan yang paling priotas yang kejar adalah jurusan yang bisa mendekatkan kepada Allah subhana wa ta’aala.

Teruslah bangun kedekatan dengan Allah sambil memperhatikan dimana kondisi terdekat kita dengan-Nya. Misalnya, ketika bertemu dengan sekampung kita yang telah lama tidak bertemu. Pada saat suasan pertemuan itu kita tetap fokus pada smartphone, sehingga yang jauh menjadi dekat dan yang dekat terabaikan. Terkadang hubungan kita dengan Allah seperti ilustrasi tersebut. Allah maha dekat tapi kita tidak berusaha mendekati-Nya, bahkan kita terkadan menjauhi-Nya tanpa disadari. Selalu terhubung dengan yang jauh tapi mengabaikan yang maha dekat dan tidak merasakan kedekatan dengan-Nya. Maka perbaikilah sujud untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah subhana wa ta’alla.

Sama halnya dengan pendidikan tinggi, universitas itu tidak bernilai jika para akademisi tidak membawa para mahasisawa pada kedekatan dengan Allah, karena seharusnya semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi hubungan dengan-Nya. Lalu, jika kita mengambil skala prioritas apakah lulusan pendidikan tinggi saat ini semakin jauh kepada Allah atau malah semakin jauh dengan ilmu yang didapatkan? Hal ini bisa dilatar belakangi oleh dua kemungkinan, bisa saja dosen yang salah dalam mengajar dan mahasiswa yang salah belajar.

Belum kering dalam ingatan kita tentang statmen seorang akademisi bingung sehingga mengatakan, “tidak usah marah dengan orang atheis, Karena tuhan sendiri tidak bertuhan”. Apa jadinya hidup jika tidak pakai akal dan agama? Kita tida usah jauh dalam mengambil contoh, apa jadinya fashion kita jika tidak ada peran agama dan akal? Mungkin dandanan para wanita akan setebal tembok dan memakai baju yang belum jadi. Lalu, apa jadinya jika anak remaja tidak punya agama dan akal dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari?

Kenapa masih ada orang yang bingung padahal berstatus akademisi? Karena tidak terbangun hubungan kedekatan dan ketaatan  kepada Allah subhana wa ta’aala. Pendidikan itu harus berujung kepada tauhid. Akan tetapi, jangan sampai juga bertauhid tapi hanya karena tekanan makro, sehingga tidak sampai pada tingkatan rasa. Artinya, kita sudah bersujud tapi tidak merasakan kedekatan dengan Allah.

Sudahkah kita menikmati sujud, padahal sujud adalah kondisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya?Apakah dengan ilmu yang didapatkan sudah membawa kita pada pengagungan dengan pengagungan yang sesungguhnya? Coba perhatikan kehidupan kita sehari-hari, apakah kita sudah mengagungkan Allah sebagaimana patutnya Dia diagungkan. Pertanyakan hal ini setiap hari dalam hati serta perbuatan kita.

Salah satu contoh, niat orang-orang musyrik ingin mengagungkan tuhannya, tapi perbuatan mereka malah menghina tuhan. Misalnya, sekelompk agama di Indonesia ini selalu menyisakan sisa makanannya dalam bentuk sesajian untuk ditujukan kepada tuhannya. Niatnya ingin memuliakan tapi malah menghina. Pada saat yang sama kita sebagai orang Islam sudah merasa mengagungkan Allah tapi belum tentu Tuhan agung dengan cara kita. Rezeki itu dari Allah dan jika kita bertanya pada diri sendiri, selama ini kita memberikan sisa-sisa rezeki kita untuk Allah atau sebaliknya. Maka jangan sampai kita seperti orang-orang musyrik itu dalam mengagungkan tuhannya. Apa bedanya dengan orang musyrik yang memberikan sisa makannya untuk tuhannya dan kita yang memberikan yang sisa untuk Islam?

Jika kita ingin intropeksi diri, kebanyakan waktu yang diberikan untuk Allah atau untuk perut? Kebanyakan tenaga kita gunakan untuk menghamba kepada Allah atau malah menghamba kepada mahluk? Coba kita intropeksi diri lagi.

Kebanyakan dedikasikan tenaga, waktu, dan harta hanya mengabdi kepada hawa nafsu, padahal semua itu berasal dari Allah. Banyakan mana kita bawa untuk mengabdi kepada Allah atau mengabdi kepada hawa nafsu. Maka mari kita mengevaluasi diri dari hal yang paling subtantif. Kita terus berkarya, tapi apakah hal itu semakin mendekatkan diri kepada Allah atau malah menjauhkan?

Kemudian, karena shalat menjadi moment yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka coba tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah sudah benar dilakukan untuk Allah atau hanya sekedar ritual saja?

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162)

Selanjutnya, untuk lebih menguak dan mencabut kesombongan dalam diri kita, coba renungkan firman Allah subhana wa ta’aala dalam surat az-Zumar ayat 9

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Allah lebih mendahulukan sujud daripada berdiri dalam ayat ini, padahal secara aplikatif berdiri lebih dulu dari pada sujud. Kenapa Allah mendahulukan sujud? Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa kondisi dekat-sedekatnya seorang hamba dengan Allah adalah pada saat sujud. Lalu apakah kita sudah merasakan getaran cinta di dalam sujud? Pertanyaan ini sengaja diulang untuk lebih mengorek-ngorek kesombongan diri dan tercabut sampai keakar-akarnya.

Manusia-manusia malam yang sedang beribadah mempunyai orientasinya sendiri. Orang yang memperhatikan kedekatan dengan Allah pasti akan selalu mengejar momentum bisa dekat dengan kekasihnya dan di antaranya adalah waktu malam. Selain untuk membangun suasana keakhiratan di dalam jiwa juga untuk mengejar ridha-Nya. Orang-orang yang membangun kedekatan dengan melakukan praktek sujud serta berdiri di malam hari karena ingin merasakan dua hal penting seperti yang disebutkan dalam surat az-Zumar ayat 9. Merasakan akan kegetiran goncangan azab di akhirat dan mengharapkan keridhaan Allah subhana wa ta’aala. Sebab kondisi membangun keakhiratan itu tidak bisa di siang hari. Secara normal dan mulus untuk membangun suasana keakhiratan itu cocoknya pada malam hari.

Allah telah mejadikan malam sebagai waktu yang paling syahdu untuk berdua dengan-Nya dan menjadikan sujud sebagai moment yang paling dahsyat untuk merasakan getaran cinta-Nya.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

Tentu sangat berbeda orientasi orang yang mengetahui kedahsyatan waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada orang yang tidak mengetahui. Allahu a’alam bish shawab

Sebarkan Kebaikan!