Berkurban dengan Ikhlas dan Berkualitas

DI ANTARA ayat yang sering disebut ketika membahas kurban adalah Al-Kautsar, ayat kedua, sebagaimana berikut:

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2]

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. al-Kausar [108]: 2)

Setelah pada ayat sebelumnya menjelaskan anugerah yang begitu banyak yang telah dikaruniakan kepada Muhammad sebagai penyampai wahyu kepada umatnya, maka pada ayat kedua ada perintah untuk menunaikan shalat fardu dan salat sunat dengan ikhlas karena Allah dan juga dalam semua gerakanmu. Sembahlah Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan sembelihlah korbanmu dengan menyebut nama-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Kata “nahr” berarti menyembelih hewan kurban. Karena itulah maka Rasulullah SAW seusai salat Idul Adha segera menyembelih kurbannya, lalu bersabda:

«مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا، وَنَسَكَ نُسُكَنَا، فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ، فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ وَلاَ نُسُكَ لَهُ» ، فَقَالَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ خَالُ البَرَاءِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنِّي نَسَكْتُ شَاتِي قَبْلَ الصَّلاَةِ، وَعَرَفْتُ أَنَّ اليَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِي أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِي بَيْتِي، فَذَبَحْتُ شَاتِي وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِيَ الصَّلاَةَ، قَالَ: «شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ» قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنَّ عِنْدَنَا عَنَاقًا لَنَا جَذَعَةً هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ شَاتَيْنِ، أَفَتَجْزِي عَنِّي؟ قَالَ: «نَعَمْ وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ»

 

“Barangsiapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti kami menyembelih kurban, maka sesungguhnya dia telah menunaikan kurbannya. Dan barang siapa yang menyembelih kurban sebelum shalat (hari raya) maka tiada kurban baginya.” Maka Abu Burdah Niyar bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat, dan aku mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang semua orang menyukai daging padanya?” Rasulullah Saw. menjawab: “Kambingmu itu adalah daging kambing biasa (bukan kurban).” Abu Burdah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seekor anak kambing kacang yang lebih aku sukai daripada dua ekor kambing biasa, apakah itu cukup untuk kurbanku?” Rasulullah SAW menjawab: “Cukup untukmu, tetapi tidak cukup untuk orang lain sesudahmu.”  (HR. Bukhari, Abu Daud)

                Abu Ja’far bin Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari ayat ini ialah: “Jadikanlah shalatmu semuanya tulus ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau sembahan selain-Nya. Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala sebagai ungkapan rasa syukurmu terhadap-Nya atas kemuliaan dan kebaikan tiada taranya yang dikhususkan-Nya buatmu sebagai anugerah dari-Nya.”

Sebagai refleksi dari ayat tersebut, mengingat banyak nikmat yang diberikan kepadamu maka sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat besar itu, dirikanlah shalat murni karena Allah SWT lalu sertakanlah dengan berkurban. Dalam riwayat disebutkan bahwa, dosa orang yang berkurban itu diampunkan sebanyak bulu-bulu hewan yang dia kurbankan. Maka pilihannya kembali ke kita masing-masing, dosa kita mau diampunkan sebanyak bulu domba, sapi, atau unta? Jangan sampai kita ingin diampunkan dosanya sebesar bulu sapi tapi kurbannya kambing, tentu tidak memenuhi syarat. Kemudian, ingin mendapat pahala sebanyak bulu domba, sapi, atau unta? Ingin dijauhkan dari musibah sebanyak bulu domba, sapi, atau unta? Akan tetapi, berkurbanlah dari yang terbaik, bukan dari terdomba atau tersapi karena Pembalasan Allah itu sesuai dengan yang kita usahakan.

Jika muhasabah diri, kita akan mengetahui bahwa dosa kita tidak akan tertebus dengan 10 unta sekalipun. Makanya, untuk orang yang kaya atau yang mampu berkurban terlalu sombong jika tidak bersungguh-sungguh dalam menyambut seruan kurban dengan memberikan kurban terbaik. Maka perhatikan ayat ini:

 

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj [22] : 37)

Dari kurban itu Allah tidak meminta dagingnya biarkan itu menjadi hak orang miskin. Dia juga tidak meminta darahnya karena pekerjaan orang kafir yang menumpahkan darah di atas bukit lalu mereka sembah-sembah, dan yang diminta oleh Allah adalah takwa. Seberapa takwa hati kita kepada-Nya dan seberapa berat kita lakukan kurban itu. Maka berkurbanlah dengan yang terbaik dan berdasarkan takwa. Karena banyak di antara kita berkurban dengan kambing itu sangat kecil tapi ada juga berkurban dengan kambing itu sangat berat disebabkan faktor ekonomi, maka berkubanlah atas dasar takwa.

UBN

*Transkip: Muhajir

Sebarkan Kebaikan!