Beribadah Level Ihsan

TUJUAN diciptakan jin dan manusia sejak awal adalah untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariat [51]: 56). Namun, ibadah seperti apa yang bernilai di sisi Allah? Apa sekadar rutinitas belaka yang tidak berefek dalam kehidupan sehari-hari, atau lebih dari itu?

Suatu hari Qasim bin Muhammad bepergian bersama Ibnu Mubarak. Sejak lama Qasim penasaran dengan sosok Ibnu Mubarak. Mengapa beliau mendapatkan kemasyhuran yang demikian luas. Sepanjang perjalanan, diam-diam dirinya membatin. Kira-kira apa yang istimewa dari figur karismatik ini. Kalau standarnya adalah shalat, puasa, berpartisipasi dalam perang, dan berhaji, maka dirinya beserta orang muslim pada umumnya juga melakukan amalan tersebut.

Dalam perjalanan bersama menuju Syam, rasa penasarannya terjawab. Saat makan malam di suatu rumah, tiba-tiba ada insiden lampu mati. Salah seorang dari teman Qasim berdiri lalu keluar mencari lampu. Tak lama setelah itu ia datang membawa lampu. Saat itu juga Qasim melihat ke wajah Ibnu Mubarak yang jenggotnya basah dengan air mata. Akhirnya, Qasim membatin, “Dengan rasa takut seperti ini, pantas saja orang ini diistimewakan atas kami. Bisa jadi, ketika lampu mati, tiba-tiba ia ingat kiamat.” (Hani Al-Haj, Alfu Qishshah, 115).

Apa yang dilakukan Ibnu Mubarak adalah ibadah yang dibalut dengan ihsan. Beribadah kepada Allah dengan kesadaran melihat-Nya, jika pun pada realitanya tidak, maka Allah pasti melihatnya.”

Jadi, memang benar Ibnu Mubarak sama-sama shalat, berpuasa, berperang dan berhaji, namun nilai lebih figur ulama ini adalah ibadah yang dilakukannya bukan sekadar ibadah. Ibadahnya, selain beriring ketulusan, keikhlasan, juga dibarengi kesadaran tingkat tinggi akan pengawasan Allah. Kesadaran tentang akhirat begitu mendarah daging. Apa yang dilakukan Ibnu Mubarak adalah ibadah yang dibalut dengan ihsan. Beribadah kepada Allah dengan kesadaran melihat-Nya, jika pun pada realitanya tidak, maka Allah pasti melihatnya. Itulah nilai unggul Ibnu Mubarak.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!