Belajar Tadabbur Kepada Ibnu Umar [Bagian: II]

PADA waktu lain, ada orang yang bercerita kepada Ibnu Umar bahwa Mukhtar Tsaqafi mengaku mendapat wahyu. Beliau berkomentar, “Memang benar,” kemudian membaca: “Sesungguhnya syaitan itu memberi wahyu (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (QS. Al-An’am [6] : 121). (HR. Ibnu Abi Hatim no. 482). Ini menunjukkan, pengakuan Mukhtar Tsaqafi yang merasa mendapat wahyu, dipatahkan oleh Ibnu Umar dengan sudut pandang al-Qur`an.

Keenam, memperhatikan dilalah (makna, isyarat) lafal ayat. Pernah beliau mentadabburi ayat berikut, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. al-Ahzab [33] : 58) Menuduh orang beriman tanpan kesalahan yang diperbuat saja disebut menyakiti, apa lagi jika menyakiti orang  yang berbuat kebajikan, maka jauh lebih dahsyat siksaannya. (Thabari, 22/45).

Ketujuh, mengamalkan al-Qur`an. Ini merupakan buah tadabbur. Sebagai contoh kecil, Ibnu Umar adalah orang yang banyak tadabbur dan mengamalkan al-Qur`an. Diceritakan oleh Nafi`  bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu terbiasa menghidupkan malamnya dengan shalat. Suatu saat ia bertanya, “Ya Nafi`, apa sudah masuk waktu sahur.” Nafi’ menjawab, “Belum.” Lalu Ibnu Umar melaksanakan shalat kembali. Ketika Nafi’ mengatakan sudah waktu sahur, maka Ibnu Umar segera beristighfar dan berdoa hingga shubuh (Ibnu Jarir, III/208). Amalan ini merupakan buah tadabbur dari, “Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.”(QS. Adz-Dzariyat [51] 18).

Mengamalkan al-Qur`an adalah buah dari taadabbur.”

Kedelapan, mengingkari orang mengada-ngada, lebay atau berlebihan dalam bertadabbur. Sa’id bin Abdurrahman al-Jumahi meriwayatkan bahwa suatu ketika Ibnu Umar menjumpai seorang yang berasal dari Irak menjatuhkan diri. Ia lalu bertanya,”Kenapa orang ini menjatuhkan dirinya?” Ternyata ia melakukan demikian setiap kali dibacakan al-Qur`an atau mendengar dzikir. Ibnu Umar pun berkomentar, “Kami ini sungguh takut kepada Allah tapi tidak menjatuhkan diri [sepertinya].” (Tafsir al-Quthubi, XV/249) Lanjutnya, “Sesungguhnya setan itu bisa masuk ke dalam jiwa kalian. Ini tidak pernah dilakukan oleh sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (Qurthubi, 15/249).

Intinya, ada delapan metode yang bisa dipelajari dari Ibnu Umar dalam bertadabbur: manjadikan al-Qur`an sebagai acuan dalam memandang berbagai momentum dan peristiwa. membacanya dengan pelan-pelan atau tidak tergesah-gesah; menangis dan khusyu` saat membaca atau mendengarkan al-Qur`an; mentadabburi al-Qur`an melalui shalat Malam; mengaitkan ayat dengan realita dan memosisikannya sesuai dengan sudut pandang al-Qur`an; memperhatikan dilalah (makna, isyarat) lafal ayat; mengamalkan al-Qur`andan mengingkari orang mengada-ngada, lebay atau berlebihan dalam bertadabbur. Wallahu a’lam.

*Disarikan dari artikel: DR. Zakariya bin Abdurrahman

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!