Belajar Tadabbur Kepada Ibnu Umar [Bagian: I]

JARANG dijumpai orang yang  benar-benar mau mentadabburi al-Qur`an. Bahkan, membacanya pun terkadang musiman. Bila pun ada yang mentadabburi, kadang-kadang salah dan semakin jauh dari nilai al-Qur`an. Karenanya, bagi yang ingin mentadabburi al-Qur`an secara benar, 8 metode yang disarikan dari Abdullah bin Umar ini bisa dicoba.

Pertama, manjadikan al-Qur`an sebagai acuan dalam memandang berbagai momentum dan peristiwa. Suatu waktu, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu meminum air dingin. Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu. Ada yang bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “(Tiba-tiba) Aku ingat firman Allah subhanahu wata’ala, Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini,” (QS. Saba [34] : 54) seketika itu, aku tahu kelak yang dingini penghuni neraka hanya air dingin (QS. al-A’raf [7] : 50).

Dalam kisah ini Ibnu Umar langsung teringat dengan al-Qur`an serta mengingatkan sesuatu yang sering dilalaikan kebanyakan manusia. (HR. Baihaqi dalam syu’abu al-Iman no. 4249).

Kedua, membacanya dengan pelan-pelan atau tidak tergesah-gesah. Imam Malik dalam al-Muwaththa` menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar mempelajari Surah al-Baqarah selama delapan tahun (HR. Malik no. 695). Ini menjunjukkan, apa yang dilakukan beliau bukan sekadar membaca tapi juga menghatayi, meresapi, mentadabburi dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, menangis dan khusyu` saat membaca atau mendengarkan al-Qur`an. Nafi’, Maula Ibnu Umar bercerita, “Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ketika membaca ayat, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid [57] : 16) beliau menangis terisak-isak (Abu Nu’aim, Hilyatu al-Auliya,  I/305).

Keempat, mentadabburi al-Qur`an melalui shalat Malam. “Sebaik-baik orang,” pujian dan nasihat Rasulullah, “adalah Abdullah  sekiranya dia menunaikan shalat malam.” (HR. Bukhrari Muslim). Pernyataan ini keluar saat Ibnu Umar menceritakan mimpinya kepada nabi melalui Hafshah. Sejak saat itu, ia hanya tidur sedikit di malam hari. Di waktu malam itulah Umar juga intens bertadabbur.

Kelima, mengaitkan ayat dengan realita dan memosisikannya sesuai dengan sudut pandang al-Qur`an. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu sangat sering mengaitkan ayat al-Qur`an dengan realita di sekitarnya. Ketika ia melihat pedagang pasar yang segera bergegas saat azan dikumandangkan untuk menunaikan shalat, sahabat yang masuk kategori ‘abaadillah ini pun berkomentar, “Merekalah orang-orang yang mengingat Allah sebagaimana yang termaktub dalam QS. An-Nur [24] : 37. (Thabari, XVIII/146). [Bersambung]

 

*Disarikan dari artikel: DR. Zakariya bin Abdurrahman

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!