Belajar Mencintai Buku Dari Bung Hatta

KETIKA mendengar nama Mohammad Hatta (1902-1980), yang lebih populer adalah perannya sebagai sang proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno. Sebenarnya masih banyak sisi lain yang tak banyak diketahui dari founding fathers ini. Misalnya, sebagaimana yang akan ditulis di sini: kecintaan beliau terhadap buku.

Dalam buku Tamar Jaya yang berjudul Soekarno-Hatta: Persamaan dan Perbedaannya (1981: 31) diceritakan bahwa Hatta sampai hari tuanya terkenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah. Karena sedimikian taatnya –sebagai canda- istrinya Rahmi Hatta pernah mengatakan, bahwa suaminya punya tiga istri yang sangat dicintainya.

Sontak saja jawaban istri Hatta ini membuat wartawan terkejut. Mereka tahu bahwa Hatta adalah sosok yang sangat konsekwen dan setia kepada satu istri. Ketika ditanya: “Siapa saja istrinya?”  Rachmi pun menjawab,  “Pertama tikar sembahyangnya, kedua buku-bukunya, ketiga saya sendiri!”

            Lain lagi dengan penuturan Basyariah Sanusi Galib (adik bungsu Hatta), dalam buku Bung Hatta Kita: dalam Pandangan Masyarakat (1982: 81), ketika membahas kenangan tentang hubungan kakaknya dengan buku, ia bertutur, “Buku itulah pacar dua.”  Meski demikian menurutnya, “Hatta sebenarnya bukan pacar yang pencemburu. Ia bahkan suka sekali menyumbangkan buku-bukunya yang kebetulan dimilikinya lebih dari satu misalnya pada Pustaka Hatta, Bukit Tinggi.”

Pahlawan nasional kelahiran Bukit Tinggi ini, begitu cintanya terhadap buku, sampai tersinggung jika ada buku yang dilipat. Dalam buku yang berjudul Pribadi Manusia Hatta: Hatta dan Sumpahnya (2002: 50) dikisahkan bahwa suatu hari Hatta melihat orang membaca buku sambil melipatnya sehingga bagian kulit depan dan bagian kulit belakang buku bertemu satu sama lain. Melihat kejadian tersebut, Hatta marah seketika seraya berkomentar, “Tak boleh buku dilipat semacam itu.”

Masih dalam buku yang sama (2002: 47), Talip menceritakan bahwa beliau yang mengatur sendiri letak buku-buku koleksinya, tidak suka melihat buku terbalik,  kalau mau membaca buku beliau tiup dulu agar bersih, dan saat membaca buku terbitan lama yang sudah tidak terbit lagi, beliau sangat hati-hati supaya tidak sobek. Selain itu, menurut penuturan anaknya (2002: 30), Hatta mencintai buku dan berusaha memenanamkan rasa cinta buku kepada ketiga anaknya. Oleh karenanya, sejak kecil mereka diberi bacaan-bacaan bermutu.

Lebih menarik dari itu, saat dalam pengasingan di Banda Neira (1 Februari 1942), beliau membawa 16 peti yang semuanya berisi buku. Dalam buku edisi khusus Tempo berjudul Hatta Jejak yang Melampaui Zaman (2010: 9), buku-buku tersebut dibawa sebagai amunisi yang cukup untuk meluncurkan tulisan-tulisan salvon-nya ke koran di Batavia maupun di Den Haag. Di samping itu, buku juga dijadikan hiburan untuk mengisi waktu senggangnya saat di tanah pengasingan.

Dalam buku yang sama (2010: 9) dikisahkan saat menikahi Rachmi Rahim, mahar yang diberikan Hatta begitu unik. Buku karyanya sendiri yang berjudul Alam Pikiran Yunani dipilih sebagai mahar terbaik untuk wanita yang disuntingnya tersebut. Sebuah pilihan mahar yang tak dipikirkan oleh kebanyakan orang di zamannya.

Itulah beberapa kisah yang menunjukkan betapa cintanya Hatta terhadap buku. Tidak berlebihan jika ada pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan buku, wawasan Hatta tentang dunia begitu luas dan arif. Dalam Islam sendiri, wahyu yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Membaca buku yang tersurat seperti terlampir dalam al-Qur`an mapun yang tersurat seperti yang terhampar di alam raya. Tapi niatnya satu: karena Allah subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!