Artikel
Trending

Belajar dari Sejarah

Dengan amat terencana, menempatkan pasukan sesuai keahlian, rasa takut telah tercerabut dari jiwa para sahabat. Tapi mengapa perang uhud menyisakan kisah yang memilukan?

MENYOAL sejarah. Memetik hikmah dari perjalanan hidup manusia di masa lampau. Kala jatuh, jangan melamun dan meratapi nasib karena hal itu tak akan membantu untuk bangkit. Cepat berdiri atau bergerak ke tepi, agar tidak terinjak-injak dan jatuh lebih parah lagi.

Sukses? Terbetik tanya dalam kosakata ini. Hanya satu kata namun setiap orang akan datang dengan definisinya masing-masing. Lalu apakah Islam telah menunjukkan satu jalan yang mesti dilalui untuk mencapai derajat tersebut? Atau apakah Qur’an telah mendefinisikan kata tersebut?

Defenisi kesuksesan akan terungkap jika kita mampu memetik hikmah dibalik sejarah perang uhud. Meresapi hikmah tersebut, maka kita telah berhasil memetakan jalan menuju kesuksesan yang hakiki. Dengan amat terencana, menempatkan pasukan sesuai keahlian, rasa takut telah tercerabut dari jiwa para sahabat. Tapi mengapa perang uhud menyisakan kisah yang memilukan?

Puluhan sahabat syahid. Mereka pun yang hidup dipenuhi dengan puluhan sayatan dan berbagai luka di tubuh. Walau kabar terbunuhnya adalah hoax, namun Rasulullah saw. pun terkena pukulan dan mengalami luka bagian dahi, pipi, bibir bagian bawah, gigi seri, dan bahu. Isaknya kian menjadi saat menshalatkan para sahabat yang syahid dan pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Di antara hikmah yang bisa kita temui adalah ketaatan. Kekalahan bermula saat pasukan panah yang ditempatkan di bukit melanggar perintah Rasulullah sebab tergoda kenikmatan duniawi. Saat siasat kejahatan lebih rapi dan taat komando, dari balik bukit mereka menyerang. Alhasil, pasukan muslim tak mengecap kemenangan.

Jalan-jalan menuju kesuksesan telah terbentang di dalam al-Qur’an. Cukup merealisasikan perintah Allah dan RasulNya, maka kesuksesan akan datang. Ukuran kesuksesan itu pun tak seperti teori-teori manusia. Seperti yang termaktub dalam Qur’an, bahwa ukuran kesuksesan hamba adalah ketakwaan.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. (QS. al-Hujurat: 13)

Untuk menjadi pengukir sejarah dalam kehidupan, jangan terhenti hanya mengagumi prestasi yang telah diraih oleh para pelaku sejarah, ukirlah sejarahmu sendiri. Jangan pula mengulangi kesalahan pasukan panah yang tergoda oleh duniawi. Dahulukan ketaatan, kemenangan akan kita raih.

Tak ada ukuran paling hebat kecuali ukuran yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.. standarisasi itupun telah diiplementasikan oleh orang-orang terhebat yang pernah hidup di dunia. Para Rasul, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka telah membentang jalan kesuksesan untuk kita pelajari agar tidak terjebak pada kesalahan yang sama.

Untuk hidup dan mati yang hanya sekali ini, jangan memakai sistem coba-coba. Tiap rakaat dalam shalat, sebanyak itu pula kita meminta kesuksesan kepada Allah Swt. “Tunjuklah kami jalan yang lurus” (QS. al-Fatihah: 6)

Jalan lurus itulah kesuksesan yang hakiki, jalan menuju ketakwaan. Jalan itulah yang telah dilalui oleh para nabi dan rasul, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin. Keberhasilan mereka tercatat dengan tinta emas di dalam lembaran sejarah. Jadi, tidak perlu mencari jalan lain untuk menggapai kesuksesan, apalagi mencoba-coba jalan baru. Hidup hanya sekali, mati pun hanya sekali, maka lalui jalan yang telah pasti membawa pada kesuksesan sejati. “Shirathal mustaqim”.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close