Banyak Berzikir dan Pandai Bersyukur

KH BACHTIAR NASIR

(Tausiah pada Subuh Berjama’ah di Masjid At Taubah, Jakasampurna, Bekasi)

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. an-Nisa:147)

Makna dari ayat ini adalah Allah tidak akan menyiksa hamba-Nya jika ia bersykur dan beriman. Ini adalah sebuah pertanyaan unik yang tujuannya untuk menekankan bahwa Allah SWT tidak akan pernah menyiksa hamba-Nya yang bersyukur dan beriman. Dalam ayat lain mendahulukan zikir lalu perintah bersyukur.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Q.S. al-Baqarah:152)

Dalam ayat ini Allah SWT mendahulukan zikir sebelum bersyukur. Karena tidak mungkin bisa bersyukur sebelum berzikir. Artinya, hanya orang yang banyak berzikir punya kemampuan bersyukur. Maka mustahil menjadi orang pandai bersyukur sebelum terbiasa berzikir. Sehingga muqaddimah dari sykur itu adalah zikrullah (mengingat Allah).

Secara logika, tidak mungkin seorang hamba pandai bersyukur kalau sering lupa kepada Allah SWT. Orang yang selalu bersyukur adalah orang bisa merasakan nikmat Allah kepadanya. Maka semakin banyak ia mendeteksi keberadaan nikmat pada dirinya maka semakin banyak pula ia bersyukur. Semakin kecil ia mendeteksi nikmat dalam dirinya maka semakin kecil pula daya syukurnya. Daya syukur seseorang sangat ditentukan oleh daya zikirnya.

Betapa bahagianya menjadi orang yang senantiasa membenarkan Allah SWT (shidqullah) dan selalu membenarkan janji-janji-Nya. Apalagi dibarengi dengan selalu husnudzon (berperasangka baik) kepada Allah SWT. Orang seperti inilah yang punya dasar ideologi dan dasar motivasi hidup untuk senantiasa shidqullah sehingga selalu berzikir kepada Allah SWT.

Orang yang suka berzikir itu sangat jelas yaitu hatinya selalu tenteram bersama ketika mengingat Allah SWT.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Q.S. ar-Rad:28)

Hanya orang-orang yang selalu berzikir kepada Allah SWT yang akan mendapatkan nikmat ketentraman hati dan hidupnya selalu bahagia. Setelah hati menjadi tenang tentu pikiran cerah, pada saat itulah ia mampu menangkap sinyal-sinyal kebaikan Allah lalu ia menjadi orang yang pandai bersyukur. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Ini adalah dua kaidah penting dalam kehidupan manusia.”

Ketika seseorang dimampukan berzikir maka dia telah diberi ketenangan dalam hatinya. Jika Allah menghendaki seseorang untuk dikayakan maka ia dimampukan untuk bersyukur kepada-Nya.

Ukuran bahagia dan sengsara itu adalah seberapa dekat kita dengan Allah SWT dan seberapa jauh kita dari-Nya. Oleh karena itu, surga yang paling hebat adalah Surga Firdaus karena jaraknya paling dekat dengan Arasy Allah SWT serta neraka yang paling berbahaya adalah Neraka Jahannam karena letaknya paling jauh dari Arasy ar-Rahman. Begitu juga manusia yang ada di dunia ini, ukuran bahagia dan sengsara seseorang adalah dekat dan jauhnya ia dari penciptanya.

Perjuangan untuk selalu membenarkan Allah adalah sebuah perjuangan yang tidak boleh berhenti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Q.S. al-Ahzab:41-42)

Dalam ayat ini Allah megajarkan bagaimana agar seseorang selalu dekat dengan-Nya. Yaitu, dengan berzikir sebanyak-banyaknya dan bertasbih di waktu pagi dan petang. Zikir itu bisa setiap saat tapi untuk bertasbih Allah telah tentukan waktunya. Makanya cara untuk selalu dekat dengan Allah adalah zikrullah dan semakin sedikit bersyukur maka ia juga akan kurang qonaah (rasa puas). Semakin tinggi rasa syukur seseorang maka semakin tinggi juga rasa kepuasan batinnya. Karena kebahagiaan itu tidak dipengaruhi oleh sedikit atau banyaknya materi tetapi bagaimana mengimplementasikan zikir dan syukur dalam diri.

Buah dari energi ini adalah wahusni ibadatika (selalu memperindah dan memperbanyak ibadahnya). Membaca al-Qur’an adalah bagian dari zikir.

Dalam al-Qur’an juga disebutkan bahwa al-Qur’an adalah perkataan yang paling baik.

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun” (Q.S. az-Zumar:23) *muhajir

Sebarkan Kebaikan!