Bangkit Bersama Masjid [Bagian II]

SAAT hijrah ke Madinah, yang dilakukan pertama kali oleh beliau adalah membangun Masjid. Pertama membangun Masjid Quba. Sesampainya di Madinah, membangun Masjid An-Nabawi. Bukan suatu kebetulan jika yang menjadi prioritas utama adalah masjid, karena memang masjid adalah pusat kebangkitan umat Islam.

Masjid Era Dakwah Madinah

Selama sepuluh tahun di Madinah, fungsi masjid bukan saja sebagai tempat ibadah “mahdhah” seperti shalat dzikir dan lain sebagainya. Ada beberapa fungsi lain yang tidak kalah penting bagi kebangkitan umat:

          Pertama, sebagai media untuk dakwah, transfer ilmu dan pengembangan pendidikan. Saat Dhimam bin Tsa’labah Dhimam bin Tsa’labah ke masjid, nabi dengan sabar dan telaten memberi pelajaran dan pendidikan kepadanya. Sampai akhirnya ia berkata, “Aku beriman dengan apa yang engkau bawa dan aku adalah utusan kaumku, aku Dhimam bin Tsa’labah saudara dari Bani Sa’d bin Bakr.” (HR. Bukhari).

          Prof. Dr. Radhib As-Sirjāni dalam buku Mādza Qaddama al-Muslimūna li al-‘Ālām (2009:199) mencatat salah satu peran pengajaran dan pendidikan ini dengan sangat baik. Masjid menjadi sebagai markas (pusat) untuk menyebarkan wawasan (budaya) keislaman dan di antara lembaga pengajaran yang sangat vital.

          Kedua, sebagai tempat melepas pasukan, musyawarah dalam menentukan strategi politik dan militer. Beliau biasa melepas pasukan sariyyah-nya dari masjid sebagaimana cerita Harts bin Hassan yang pernah melihat Rasulullah berdiri di atas mimbar masjid menyambut kedatangan pasukan yang datang dari misi jihad(HR. Ibnu Majah).

Imam Ahmad bin Hanbali juga meriwayatkan kejadian serupa. Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melepas kepergian ekspedisi militer pimpinan Amru bin Ash di masjid dengan membawa bendera hitam, sedangkan Bilal membawa pedang.

Menjelang perang Uhud, Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya bermusyawarah dengan para sahabat untuk membicarakan strategi perang. Rasulullah sendiri mengusulkan strategi defensif di Madinah. Sedangkan sahabat yang tidak ikut perang Badar mengusulkan strategi ofensif di luar Madinah. Pada akhirnya, Rasulullah memutuskan berperang di luar Madinah, yaitu di Uhud (Ibnu Katsir, 1395: III/24-25).

          Ketiga, sebagai tempat “i’dad” (persiapan jihad). Dalam satu riwayat disebutkan bahwa orang-orang dari keturunan Habsyi bermain tombak dan pedang di masjid. Pada waktu itu Rasulullah dan sahabatnya menonton. ‘Aisyah pun berlindung di balik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana penuturannya sendiri, “Saya lihat Rasulul lah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadang saya waktu saya melihat orang-orang Habasyah bermain (pedang) di masjid.” (HR. Bukhari, Muslim).

          Keempat, sebagai tempat untuk menampung orang yang kurang mampu secara ekonomi. Seperti Ahlus Shuffah, para musafir dan lain sebagainya. Salah satu jebolan Ahlu Shuffah adalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mahmud Thahan dalam Taisīr Mushtalah al-Hadīts bahwa riwayat Abu Hurairah mencapai 5374 hadits (2004: 244).

          Kelima,  sebagai tempat untuk menyambut delegasi-delegasi atau tamu. Tahun kesembilan Hijriah, adalah tahun di mana orang-orang Arab sekitar mengutus delegasi-delegasinya. Tujuannya, jika tidak masuk Islam, maka berdamai dengan membayar jizya. Mereka ini oleh Rasulullah disambut dengan hangat di masjid.

          Keenam, media untuk menampilkan kesenian. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam pernah melayani tantangan dari delegasi Bani Tamim yang mengajak bertanding adu skill syair dan orasi (khutbah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengutus Hassan bin Tsabit dan Tsabit bin Qais untuk meladeni mereka. Keduanya pun memenangkan duel kesenian tersebut (Ibnu Hisyam, 1375: II/567 dan Abu Sa’ad, 1424: II/135-138).

          Ketujuh, tempat untuk melangsungkan akad nikah. ‘Aisyah meriwayatkan sabda nabi, “Beritakanlah pernikahan ini dan selenggarakanlah ia di dalam masjid, lalu pukullah rebana-rebana”. (HR. Tirmidzi).

          Kedelapan, untuk merawat pasien yang terluka dalam perang. Seperti Sa’ad bin Mu’adz yang dibuatkan kemah khusus untuk merawatnya akibat luka panah yang mengenai lengannya. Lebih dari itu, masjid juga pernah dijadikan tempat untuk menjerat tawanan. Sebagaimana Tsumāmah bin Atsal yang diikat di tiang masjid.

Dengan fungsi dan perang yang beranekaragam ini, tidak mengherankan jika masjid pada zaman nabi sebagai muara kebangkitan umat. Mereka benar-benar memakmurkan masjid. Menjalankan fungsi-fungsinya dengan sangat baik. Mereka adalah para peretas kebangkitan bersama masjid. Beberapa tahun sepeninggal mereka, umat Islam mampu menyuguhkan peradaban gemilang kepada seantero dunia. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!