Bangkit Bersama Masjid [Bagian: I]

MASJID memiliki peran signifikan dalam kebangkitan umat. Dalam sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  telah terbukti bahwa selama umat Islam konsisten membersamai dan memakmurkannya, maka kebangkitan umat akan lahir.

Masjid Era Dakwah Mekkah

Selama 13 tahun di Mekah, walaupun belum memiliki kekuatan  untuk memakmurkan Masjid, tapi paling tidak ada dua poin yang bisa menggambarkan fungsi masjid pada fase ini: Pertama, tempat ibadah. Kedua, sarana untuk menggencarkan dakwah.

Kisah seperti diganggunya nabi  ketika sujud, dengan isi kotoran unta oleh ‘Uqbah bin Abi Mu’aith (yang diprovokasi Abu Jahal), atau dipukulnya Ibnu Mas’ud ketika membaca al-Qur`an, adalah wujud nyata bahwa beliau sangat dekat dengan masjid.

Abu Dzar al-Ghifari, saat pertama kali mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lokasi yang dicari pertama kali adalah Masjidil Haram. Bahkan, saat memeluk Islam di hadapan nabi, sahabat asal Ghifar ini mengumumkan syahadatnya di hadapan orang kafir Qurays di Masjidil Haram. Kesaksiannya ini, membuatnya babak belur di tangan orang Qurays. Meski demikian, paling tidak Abu Dzar sudah meretas kebangkitan melalui masjid.

Saat Utbah bin Rabi’ah berniat menemui nabi untuk menawarkan hal yang menggiurkan, saat itu nabi sedang shalat di Masjidil Haram. Seusai shalat, baru beliau dirayu dengan berbagai tawaran duniawi. Semua yang disampaikan oleh ‘Utbah di masjid, didengarnya dengan baik.

Setelah itu beliau berdakwah dengan bahasa yang santun kepada ‘Utbah dengan membacakan Surah Fushhilat (1-14). Sebenarnya ‘Utbah tertarik dengan dakwah yang disampaikan nabi, tapi karena kegengsiannya, maka dakwah nabi ditolaknya.

Pada tahun keenam kenabian, Hamzah bin Abdul Muthallib menyatakan keislamannya di hadapan Abu Jahal ketika di Masjidil Haram. Sahabat yang berjuluk Asadullah (Singa Allah) ini tidak terima atas perlakuan Abu Jahal, ketika di Shafa, terhadap keponakannya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) yang merendahkan, menghina, bahkan memukulnya sampai bercucuran darah.

Tiga hari setelah keislaman Hamzah, Umar bin Khattab pun memeluk Islam di hadapan Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam. Setelah itu beliau meminta izin kepada nabi untuk shalat secara terang-terangan di Masjid. Bersama Hamzah ia berangkat ke Masjidil Haram dengan membawa dua shaf sahabat.

Apa yang dilakukan Umar dan Hamzah tentu saja menunjukkan kebangkitan Islam saat di Mekkah. Pada waktu itu kaum kafir Qurays begitu berduka atas keislaman kedua orang tersebut.

Ibnu Mas’ud, sampai memberi komentar khusus atas peristiwa ini, “Kami menjadi ‘aizzah (mulia, terhormat, kuat) sejak keislaman Umar.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat lain disebutkan, “Kami baru bisa shalat dengan leluasa di Masjidil Haram sejak keislaman Umar bin Khattab.” (Ibnu Hisyam, 1375: I/342).

Hal lain yang tak kalah menarik, sekembalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dakwah dari Thaif (yang mengalami penolakan keras), melalui suaka Muth’im bin ‘Addi, yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali adalah memasuki Masjidil Haram sembari tetap berdakwah.

            Kendati nabi dan para sahabatnya begitu dipersempit aksesnya dalam mengelola masjid, namun mereka tidak pernah menyerah. Di antara puncak peristiwa yang terjadi di Mekkah adalah kejadian Isra dan Mi’raj. Kisah ini secara implisit menegaskan betapa pentingnya peran masjid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha untuk selanjutnya ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha, yang mendapat perintah agung berupa: shalat lima waktu.

Perintah shalat ini begitu pentingnya sampai-sampai perintahnya langsung turun dari Allah subhanahu wata’ala. Seperti yang sudah maklum, wadah untuk menunaikan shalat adalah masjid. Maka tidak mengherankan jika kelak masjid menjadi prioritas nabi saat tiba di Madinah.

Pada saat ayat tentang diperjalankannya nabi dari Masjidil Haram dan Aqsha (QS. Al-Isra [17] : 1) ini turun, mungkin kebanyakan orang belum menyangka bahwa kebangkitan Islam pasca nabi wafat benar-benar melampaui wilayah Palestina dan sekitarnya.

Ternyata, pada kekhilafaan Umar bin Khattab, kebangkitan Islam sudah melampaui al-Quds, Palestina, Mesir. Bahkan, setelah Khalifah Kedua ini,  kebangkitan Islam bertambah meluas ke seantero dunia.

            Muhammad Ghazali dalam Fiqh al-Sīrah (1427: 142) memberi catatan menarik mengenai isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, “Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tahu perjalanan ini menunjukkan bahwa risalahnya akan tersebar ke penjuru dunia, menempati lembah-lembah subur yang dikelilingin sungai Nil dan Eufort, dan mencabut kekuasaan Majusi Persia, dan Trinitas Romawi.”

Kebangkitan itu jauh-jauh hari sudah diprediksi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya. Maka sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yg dihimpunkan untukku,” (HR. Muslim). [Bersambung]

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!