Bahaya Sekuler Kiri dan Kanan

“Dari sisi ruhiyah kita, selalulah bertanya di mana Allah subhanahu wata’ala  di dalam peta hati kita?” demikian salah satu nasihat Ustadz. Bachtiar Nasir dalam penguatan spiritual di AQL Islamic Center.

Mempertanyakan Allah subhanahu wata’ala dalam peta hati hamba adalah narasi sangat menarik. Spiritual, bisa dikatakan hidup kalau Allah subhanahu wata’ala  hadir dalam hati hamba-Nya. Sedangkan, merasa Allah selalu hadir, adalah bagian penting dari muraqabatullah (rasa selalu di awasi Allah subhanahu wata’ala”.

Lebih tajam lagi beliau menggiring ke pertanyaan yang cukup menukik sanubari, “Adakah hati kita ini sibuk dengan aktivitas yang kelihatannya agama tapi tidak ada Allah subhanahu wata’ala?”

            Banyak orang yang merasa sudah berbuat baik, taat beribadah, tekun dalam ketaatan, tapi kenyataannya masih memarginalkan Allah subhanahu wata’ala dari lubuk hatinya. Secara lahiriah memang terlihat begitu aktif dalam urusan-urusan agama, namun hatinya kering dari spiritual.

            Amalan demikian menurut ayah dari tiga orang anak ini adalah bagian dari apa yang disebut sekuler. “Pada umumnya sekuler ada dua: sekuler kanan dan kiri,” lanjut beliau. “Sekuler Kiri” ini barangkali adalah sekuler dalam pengertian umum yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah: bersifat duniawi atau kebendaan (bukan bersifat keagamaan atau kerohanian). Jadi, dalam bertindak orientasinya hanya dunia. Sedangkan akhirat dipisahkan dari urusan dunia. Baik kanan maupun kiri sejatinya sekuler berbahaya karena mendikotomi antara dunia dan akhirat.

Adapun yang dimaksud dengan “Sekularisme Kanan”, beliau menjelaskan, “Orang yang bergerak di dunia agama tapi sebetulnya dia tidak menemukan Allah subhanahu wata’ala dalam peta perjuangannya. Masi nikmat dengan semua kesibukan, tapi dia tidak merasakan kehadiran dirinya di hadapan Allah subhanahu wata’ala.”

Kemudian beliau memberi contoh, “Misalnya, melakukan rutinitas seperti biasa (menjadi ustadz, mengajar, menjalankan tugas kerjanya dll) tapi masih al-haakumut takatur (lalai karena banyak-banyakan mengumpulkan dunia). Memperbanyak sesuatu bisa baik bisa buruk, tetapi di situ tidak ada Allah subhanahu wata’ala yang dinikmati.”

            Allahuakbar. Betapa banyak orang yang secara simbolik mendakwahkan nilai-nilai agama, bahkan ikut terjun langsung dalam dunia dakwah, namun hatinya hampa karena tak dimuati Allah subhanahu wata’ala. Terlihat religius, tapi sebenarnya hanya ritus. Orang yang semacam ini tentu sangat sengsara hidupnya.

Pada suatu kesempatan Pimpinan AQL Islamic Center ini pernah berujuar, “Orang kalau sudah menemukan Allah subhanahu wata’ala, maka dia tidak akan kehilangan sesuatu. Sedangkan jika sudah kehilangan Allah subhanahu wata’ala, maka dia akan kehilangan segala sesuatu.” Kalau Allah subhanahu wata’ala sudah tidak dihadirkan dalam peta hati, maka dirinya telah kehilangan Allah subahanhu wata’ala.

Melihat betapa bahayanya fenomena Sekuler ini (terlebih yang kanan), maka beliau memperingatkan, “Dalam peta aktivitas kita, selalulah Allah subhanahu wata’ala yang paling tinggi kita tempatkan untuk kita dapatkan ampunan, rahmat, cinta dan ridha-Nya.”

Jika Allah subhanah wata’ala sudah hadir dalam peta hati, sembari secara konsisten tetap memohon ampunan, rahmat, cinta dan ridha-Nya dalam segenap aktivitas, maka orang seperti ini tentu terbebas dari apa yang disebut “sekuler kanan” dan menjadi orang-orang yang paling bahagia. Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!