Bahaya Kemunafikan Berikut Solusinya

SUATU saat, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dalam khutbahnya menyatakan,“Yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah orang berilmu yang munafik.” Para sahabat lantas bertanya, “Bagaimana bisa ada orang berilmu yang munafik?” Umar menjawab, “Ia menyampaikan perkataan hikmah, namun sayangnya ia melakukan kemungkaran.” (Kanzu al-‘Ummaal, 10/483).

Syaikh Shalih al-Fauzan pun mengatakan, “Orang-orang munafik itu akan terus ada sepanjang masa. Apalagi tatkala kekuatan Islam nampak dan mereka benar-benar tidak bisa mengalahkannya. Saat itulah mereka memeluk Islam dengan tujuan memasang makar buat Islam dan orang-orang Islam dalam hati mereka.”

Apa yang dikatakan Syekh Shalih di atas memang benar-benar terjadi. Berapa banyak kita jumpai manusia yang mengaku dirinya muslim di akhir zaman ini, namun gerak-geriknya selalu mendukung langkah pihak-pihak kafir. Pernyataan-pernyataannya selalu menguntungkan orang-orang kafir dan menyakiti hati kaum muslimin, bahkan menzalimi ummat Islam.

Pembagian Kemunafikan

Kemunafikan ada dua macam: Pertama, i’tiqadi  (berkaitan dalam keyakinan). Maksudnya adalah bentuk kemunafikan dalam hati di mana seseorang menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekafiran. Kemunafikan ini dapat membuat seseorang murtad dari Islam dan mengakibatkan seseorang berada pada dasar neraka. Di antara contoh kemunafikan i’tiqadi di antaranya: mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam; mendustakan sebagian ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan lain sebagainya.

Kedua, ‘amali (kemunafikan dalam amalan). Kemunafikan seperti ini terhitung sebagai kemunafikan  kecil. Orang seperti ini  berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang munafik, dengan tetap ada iman dalam hati. Kemunafikan jenis ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama, namun termasuk sarana menuju kekufuran.

Di antara contoh kemunafikan  kecil,  sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada empat hal: (1) jika diberi amanat, khianat; (2) jika berbicara, dusta; (3) jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; (4) jika berselisih, dia akan berbuat zalim (HR. Muslim).

Ciri-Ciri Kemunafikan Menurut al-Qur`an (An-Nisa [4] : 139-144)

Ciri kemunafikan menurut ayat ini: Pertama, menjadikan orang kafir sebagai pemimpin (139). Perbuatan ini hanya dilakukan oleh orang-orang munafik. Sebab, orang beriman –sebagaimana ayat 144- tidak akan menjadikan orang kafir menjadi pemimpin, karena memang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala.

Imam As-Sa’di dalam tafsirnya beliau menegaskan firman Allah subhanahu wata’ala ini yang maksudnya adalah: “Beritakanlah kepada orang-orang Munafik (yang selalu memperlihatkan keislaman mereka namun mereka menyembunyikan kekafiran) bahwa mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih.

Azab ini disebabkan karena mereka (orang-orang munafik) begitu mencintai orang-orang kafir, juga mereka loyal dan siap menolong dan memenangkan orang-orang kafir dari orang-orang Islam. Mereka (orang-orang Munafik) ini bahkan meninggalkan orang-orang mukmin.”

Pengarang tafsir Taisir Karim Al-Rahman ini menambahkan, “Hal apakah yang mereka (orang-orang munafik) inginkan dari orang-orang kafir itu? Apakah mereka menginginkan kemenangan, ataukah kemulian (‘izzah)?, Sungguh inilah yang terjadi, menjadi kenyataan saat ini. Ini disebabkan orang-orang munafik itu berprasangka buruk kepada Allah subhanahu wata’ala, dan keyakinan mereka kepada orang-orang mukmin telah lemah.

Dengan demikian, kemuliaan kita ada bersama orang-orang Islam, orang-orang beriman dan bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala, dan janganlah memilih orang-orang kafir. Apalagi sampai loyal dan cinta kepada mereka.

Kedua, mengingkari dan memperolok-olok ayat Allah (140). Karenanya orang muslim dilarang duduk bersama mereka. Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang maksud ayat: “maka janganlah kamu duduk beserta mereka” adalah jika kalian melanggar larang ini yaitu dengan tetap duduk bersama orang-orang kafir setelah kalian tahu larangannya bahkan kalian rida dan senang bersama mereka orang-orang kafir di tempat mereka menistakan Al-Qur’an maka sungguh kalian telah sama derajatnya seperti orang-orang penista.

Ingatlah janji Allah subhanahu wata’ala bahwa yang membersamai orang-orang kafir, penista al-Qur’an maka sungguh tempat mereka adalah sama, yaitu akan dilemparkan ke dalam Neraka Jahannam.

Ketiga, memiliki sikap ambivalen. Jika orang Islam menang, mereka mengaku bagiannya. Sedangkan, kalau orang kafir yang menang, mereka segera mendukung mereka (141).

Keempat, menipu Allah subhanahu wata’ala dengan kemunafikannya. Padahal sejatinya, mereka telah menipu diri sendiri. Kelima, malas melaksanakan shalat. Dalam hadits disebutkan, salah satu shalat yang paling berat mereka lakukan adalah Shubuh dan Ashar.  Keenam, beramal dengan riya`. Artinya, untuk dilihat dan dipuji manusia, bukan karena Allah subhanahu wata’ala. Ketujuh, sangat minim (sedikit, jarang) mengingat Allah subhanahu wata’ala (142). Bagaimana mengingat kalau pada dasarnya mereka tidak beriman. Kedelapan, selalu ragu. Sebuah sifat yang menunjukkan bahwa jiwa mereka sakit.

Balasan Kepada Orang-Orang Munafik.

Balasan bagi orang-orang munafik sangatlah jelas. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (145)

“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang paling bawah.

Solusi Qur’ani Agar Terhindar dari Sifat Kemunafikan

Setiap penyakit pasti ada obatnya; setiap problem, pasti ada solusinya. Demikian juga dengan kemunafikan. Setelah Allah subhanahu wata’ala menceritakan ciri-ciri kemunafikan, lalu Allah subhanahu wata’ala memberi pengecualian atau solusi bagi kemunafikan:

{إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا} [النساء: 146]

“Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa [4] : 146).

Sesuai dengan ayat 146, solusi agar terhindar dari kemunafikan ada beberapa macam: Pertama, bertaubat. Artinya, menginsafi kesalahan, mengakui, dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Kemudian, jika berkaitan dengan manusia, maka segera meminta maaf kepadanya sebelum kepada Allah subhanahu wata’ala.

Kedua, berbuat ishlah (perbaikan-perbaikan). Seorang muslim tidak cukup hanya menjadi shalih (baik). Dia juga harus menjadi mushlih (pentransfer kebaikan) untuk orang lain, kalau ingin terhindar dari kemunafikan. Tentu saja bukan sekadar pengakuan, sebagaimana orang munafik, yang hakikatnya hobi berbuat kerusakan.

Ketiga, berpegang teguh pada Allah subhanahu wata’ala. Keempat, ikhlas dalam menjalankan agama Allah subhanahu wata’ala. Kelima, selalu bersama orang-orang beriman. Jika kelima hal itu bisa dilaksanakan dengan baik, maka insyallah problem kemunafikan bisa teratasi. Wallahu a’lam. *Abu Qudsy

Editor: Abu Kafillah (dengan sedikit revisi)

Sebarkan Kebaikan!