ArtikelTausiyah
Trending

Bagaimana Cara I’tikaf Kaum Urban?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa urban mempunyai dua makna, yakni, orang desa yang pindah ke kota, dan arti kedua adalah segala sesuatu yang berhubungan atau bersifat kekotaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa urban mempunyai dua makna, yakni, orang desa yang pindah ke kota, dan arti kedua adalah segala sesuatu yang berhubungan atau bersifat kekotaan. Saat ini kaum urban menjadi salah satu bagian masyarakat dengan gaya hidup kekinian dan up todate.

Jika dihubungkan dengan gaya hidup, maka kaum urban adalah bagian dari masyarakat yang kiblat kehidupannya mengarah pada masyarakat modern di perkotaan dengan segala kesibukannya. Lalu bagaimana caranya agar kaum urban tidak kehilangan momentum sepuluh terkahir ramadhan?

Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar memberikan dua tips kepada kaum urban yang dililit kesibukan agar bisa mencapai derajat takwa di bulan suci ramadhan. Terutama bagimana kaum urban beri’tikaf di tengah kesibukannya di sepuluh terakhir ini.

  1. Niat untuk Menguatkan Keikhlasan karena Allah

Imam Nawawi menempatkan hadis tentang niat pada urutan pertama dalam bukunya yang sangat terkenal, Hadis Arbain. Niat adalah amalan hati yang pertama kali harus diperhatikan. Berniat untuk menguatkan keikhlasan karena Allah Swt. teguh pada jalan lurus di tengah kesibukan.

Niat untuk ikhlas itu sangat penting, karena di sela-sela lilitan kesibukan di kota metropolitan, Allah memberikan kesempatan untuk menguatkan kekuatan ruhiyah. Saat ruhiyah telah kuat maka sesibuk apapun pasti bisa konsisten berada di jalan lurus dan tidak terpelanting kepada jalan kesesatan.

Sepuluh terakhir ramadahn ini adalah kesempatan untuk menguatkan ruhiyah. Keikhlasan adalah modal utama. Sesibuk apapun kaum urban dalam mencari dunia, tetap harus sadar bahwa nasib di akhirat jauh lebih penting. Untuk itu, bagi kaum urban atur waktu agar memanfaatkan sepuluh terakhir ramadhan untuk menguatkan ruhiyah. Ambil cuti untuk I’tikaf.

  1. Ihsan

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” (HR. Muslim)

Ihsan adalah sebuah perasaan yang akan berjumpa dengan Allah Swt., baik secara aktif maupun secara pasif. Kesadaran aktif adalah “melihat” dan “bersama” Allah, ini adalah kelas paling  tinggi dalam berihsan. Kesadaran pasif adalah yakin bahwa Allah melihat kita dan semua yang kita kerjakan di dunia ini serta akan dibalas di akhirat kelak. Dua kesadaran ini yang harus dimiliki agar sukses di bulan ramadhan.

Bagi kaum urban yang dinamika hidupnya sangat dinamis. Dengan adanya ihsan bisa tetap stabil. Hal terpenting adalah kesadaran tertinggi dari tauhid adalah ihsan. Perasaan melihat Allah dan keyakinan melihat-Nya dengan perantara mahluk atau bashirah. Seseorang yang memiliki kesadaran ini maka ia akan menjadi orang beruntung.

Dalam i’tikaf, suasana tersebut bisa didapatkan. Duduk di masjid sambil berfikir ulang tentang pekerjaan yang telah dilakukan. Membaca Qur’an sambil mentadabburi ayatnya dan semoga berjumpa dengan ayat yang mencerahkan. *Ditulis dari tausiyah KH Bachtiar Nasir.

Selengkapnya di– https://www.youtube.com/watch?v=nFrN-ilCoS8

*Mohajer

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close