SirahTadabbur
Trending

Badiuzzaman Said Nursi, Karya Besarnya Lahir di Penjara

Suatu ketika, pada hari yang entah, Badiuzzaman Said Nursi membaca sebuah laman Koran yang menampilkan perkataan Menteri Inggris,William Ewart Gladstone. “Selama kaum Muslim memiliki Al-Qur’an, kita tidak akan bisa menundukannya. Kita harus mengambilnya dari mereka, menjauhkan Al-Qur’an atau membuat kehilangan rasa cinta pada Al-Quran.” Ucap Ust. Cemal Şahin saat menirukan.

Perkataan ini membuat jiwa Said Nursi berguncang. “saya akan membuktikan kepada dunia bahwa Qur’an adalah matahari tidak mungkin bisa dipadamkan.” Ucapnya.

Badiuzzaman atau Keajaiban Zaman. Gelar itu ditabalkan sejarah kepada Said Nursi ulama terkemuka dari Turki. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pemikir Islam yang paling cemerlang di zaman modern. Secara konsisten, Said Nursi memperjuangkan gagasannya yang menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern.

Ust. Cemal Şahin saat menjelaskan sepak terjang Said Nursi di AQL Islamic Center, Kamis, (17/1). (Foto Mohajer – AQLnews)

Said Baru

Kehidupan Said baru ditandai dengan keberangkatannya dari kota Ankara ke kota Van, 17 April 1923. Dalam kehidupannya yang baru, Said Nursi meninggalkan segala macam kehidupan politik dan sosial yang selama ini ia ikuti. Ia pun menyendiri di sebuah gunung di Kota Van untuk mentadaburi al-Quran dan mulai menuliskan Risalah Nur sejak saat itu. Kehidupan Said Nursi sejak saat itu diwarnai dengan perjuangan menulis Risalah Nur, serta hukuman penjara, pengasingan dan penekanan oleh pemerintah Turki kepadanya dan para muridnya.

Upaya penghapusan Islam

Sepanjang tahun 1924, Mustafa Kemal benar-benar membawa Turki menjadi negara yang anti terhadap agama. Menjadikan sekularisme sebagai faham resmi Negara. “Usaha untuk menjauhkan Turki dari Agama Islam dimulai dengan mengeluarkan undang-undang yang mengatur segala hal,” tegas Ust. Cemal Şahin.

Maret 1924: Undang-undang penyatuan pendidikan yang menjadikan sistem pendidikan turki hanya satu di bawah pemerintah. Madrasah-madrasah yang mengajarkan agama Islam ditutup.  November 1925: Undang-undang pakaian. Lelaki dipaksa untuk mengenakan pakaian barat dengan topi barat, wanita dipaksa untuk melepas jilbab dan menggunakan pakaian barat. Pakaian adat yang berupa sorban, peci dilarang.

Januari 1926: Kalender Greogrian yang digunakan di Eropa diterapkan, menggantikan kalender Julian yang digunakan oleh Kesultanan Utsmani. Sepanjang 1926: Undang-undang perdata Swiss diadopsi, undang-undang pidana Itali diadopsi. 1928: Pasal 2 Konstitusi 1924 yang menyatakan bahwa Islam adalah agama negara dicabut.

3 November 1928: Disahkan undang-undang aksara latin Turki, aksara Arab dilarang digunakan. 1931: Partai Rakyat Republik, partai yang dipimpin Mustafa Kemal bergabung dengan negara hingga memiliki kekuasaan penuh atas negara. Turki menjadi negara dengan partai tunggal dan semua oposisi dibungkam. Akhir 1931: Setelah berhasil memonopoli kekuasaan, barulah pemerintah mulai menjalankan program pendidikan massal dalam prinsip paham Kemalisme.

Januari 1932: Bahasa Arab dilarang, Azan dirubah menjadi bahasa Turki yang mengundang kemarahan kaum muslim saat itu. 1935: Hari libur diganti menjadi hari ahad.  Penindasan ini terus berlangsung hingga tahun 1940.

Undang-undang tersebut semakin menghilangkan pengaruh dan struktur lembaga-lembaga Islam dari rakyat dan negara. Hal ini mengundang keresahan di kalangan masyarakat khususnya suku-suku Kurdi yang berada di Turki timur.

Keresahan ini mengundang kemarahan dari suku-suku di timur hingga akhirnya para kepala suku merencanakan untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintah. Beberapa orang meminta dukungan dari Said Nursi untuk melakukan pemberontakan dan memerdekakan diri dari pemerintahan sekuler Turki, namun Nursi menolaknya. Ia melakukan segala cara untuk meyakinkan para kepala suku agar tidak melakukan pemberontakan dan menjaga nyawa para penduduk agar tidak terbuang karena ini.

Sebagian mendengarkan nasehatnya dan sebagian lain tidak. Maka tercatat pernah terjadi pemberontakan pada 13 Februari 1925 di bawah pimpinan Syekh Said, seorang pemimpin tarekat Naqsyabandiyah. Pemberontakan itu berhasil ditumpas dalam waktu dua bulan. Kelak, pemberontakan inilah yang kemudian dijadikan alasan oleh pemerintah untuk membuat undang-undang yang semakin menekan kaum muslim.

Banyak orang ditangkap karena pemberontakan ini, tak terkecuali Said Nursi dan banyak pemuka agama Anatolia Timur. Mereka pun kemudian diasingkan ke Anatolia Barat, sebagian mereka dibunuh dan dipenjara. Nursi pun diasingkan ke kota Burdur.

Suasana jamaah saat menyimak pemaparan Ust. Cemal Şahin. (Foto Mohajer – AQLnews)

Pengasingan dan Hukuman Penjara

Sejak saat itu, 25 Maret 1925, mulailah pengasingan terhadap Said Nursi. Ia awalnya diasingkan ke kota Burdur. Di sana ia menjalankan hukuman pengasingan dengan menulis dan mengajar. Banyak orang berdatangan untuk mendengarkan pengajaran dia. Hal itu membuat pemerintah memindahkan Nursi ke Isparta pada bulan Januari 1926.

Setelah berada di Isparta selama 20 hari, Said Nursi pun kemudian diasingkan ke sebuah desa yang terpencil di Barla. Di sana ia menetap hingga tahun 1934.

Said Nursi menghabiskan waktunya dalam kesendirian, hanya beberapa orang yang datang mengunjunginya dalam satu minggu. Waktu itu ia habiskan untuk menulis dan menyebarkan tulisannya. Tekanan pemerintah terhadapnya sangat ketat hingga tulisan-tulisannya disebarkan secara sembunyi-sembunyi dari satu tangan ke tangan lain, satu desa ke desa lain, setiap masyarakat yang telah membacanya kemudian menyalinnya dan menyebarkannya kembali secara sembunyi-sembunyi. Seperti inilah penyebaran Risalah Nur selama pengasingan dan tekanan pemerintah terhadapnya dan para muridnya.

Pada Juli 1934 Said Nursi dipindahkan kembali ke Isparta, di sini ia mengalami hidup yang lebih baik ketimbang sebelumnya. Di Isparta, Said Nursi menetap selama satu tahun hingga akhirnya ia ditangkap bersama para muridnya pada bulan April 1935.

Penyebaran Risalah Nur semakin meresahkan pemerintah, akhirnya penangkapan demi penangkapan terus terjadi kepada para muridnya. Penggeledahan dan penangkapan secara besar-besaran terjadi sejak April 1935 di seluruh penjuru Turki. Siapapun yang kedapatan menyimpan salinan Risalah Nur akan ditangkap dan dipenjarakan. Banyak yang tertangkap, banyak juga yang menyembunyikan salinan-salinan tersebut di tempat yang sekiranya tidak terjangkau.

Said Nursi dimasukkan ke penjara Eskisehir yang keadaannya dan perlakuan kepadanya sangat buruk. Namun ia tidak berhenti untuk menulis dan menyebarkan tulisannya meski berada dalam keadaan yang menyedihkan. Di penjara pun ia menjadi pemimpin agama yang memimpin keagamaan para tahanan, memberi mereka pengajaran agama dan mengimami salat.

Di dalam pengadilan ia pun dituntut dengan tuduhan yang bermacam-macam, dari menggunakan sentimen agama sebagai alat untuk meraih jabatan politis hingga tuduhan mendirikan sekte baru. akhirnya pada 19 Agustus 1935 ia dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan pengasingan.

Pada Maret 1936 ia dibebaskan dari penjara Eskisehir, dan diasingkan ke Kastamonu dan menetap di sana selama tujuh setengah tahun sampai September 1943. Selama masa itu berbagai macam tekanan dan percobaan pembunuhan dilakukan kepadanya. Ia sering kali diracun oleh orang-orang suruhan namun masih bisa bertahan hidup. Ia pun terus menyelesaikan penulisan dan penyebaran Risalah Nur yang kembali menjadikannya ditangkap dan dipenjarakan pada September 1943.

September 1943 ia ditangkap dan dibawa ke Ankara, kemudian dipenjarakan di Denizili. Ia terus berada di penjara dan pengasingan hingga akhirnya ia keluar dari penjara Afyon pada September 1949.

Sejak kebebasannya dari penjara Afyon pada September 1949, ia kembali ke kota Emirdag. Situasi politik saat itu telah berubah, Partai Demokrat dengan pimpinan Adnan Menderes menguasai pemerintahan. Saat itu pun Risalah Nur telah selesai ditulis, Said Nursi pun menghabiskan waktunya untuk memeriksa salinan-salinan Risalah Nur.

Saat ini Said Nursi memiliki kebebasan dan tidak lagi mengalami penindasan yang parah seperti saat sebelumnya. Said Nursi pun kembali menjalankan tugas politiknya sebagai ulama penasehat pemerintah. “Tadi dia menjadikan politik sebagai wadah untuk dakwah Islam.” ucap Ust. Cemal Şahin.

Kajian Tadabbur Qur’an, Kamis Pagi, di AQL Islamic Center (Foto Mohajer – AQLNews)

Januari 1951 ia mendapatkan kunjungan dari Deputi Menteri Pendidikan Pakistan atas saran dari Menteri Pendidikan Turki saat itu. Dan pada tahun itu juga jaringan Risalah Nur di luar negeri mulai bermunculan. Ia ditawari untuk pergi ke Pakistan untuk mengajar dan menyebarkan pemikirannya di sana, namun ia menolak.

Pada Januari 1952 ia pergi ke Istambul untuk menghadiri persidangan atas tuntutan terhadap salah satu tulisan Risalah Nur tentang Panduan Bagi Generasi Muda yang dicetak sebanyak 2.000 eksemplar di Istambul. Dan pada bulan Maret 1952 ia dinyatakan tidak bersalah. Namun tuntutan terhadap Risalah Nur tetap berlanjut, hingga akhirnya diadakan penelitian terhadap seluruh salinan Risalah Nur yang kemudian diputuskan pada sebuah sidang di bulan Juni 1956 bahwa Risalah Nur tidak berbahaya bagi perpolitikan negara dan murni hanya berisi tentang nafas-nafas keislaman.

Kehidupan setelah tahun 1952 diisi dengan berbagai kunjungan hampir ke seluruh penjuru Turki. Saat itu juga penyebaran Risalah Nur semakin meningkat dengan terbebasnya Risalah Nur dari tuntutan dan diterbitkannya edisi-edisi Risalah Nur menggunakan mesin cetak. Jaringan murid Risalah Nur pun semakin berkembang dan terus bekerja untuk penyebaran dan penerjemahan Risalah Nur. Namun meski begitu, musuh-musuh Said Nursi terus melakukan tuntutan dengan berbagai cara untuk menahannya dan penyebaran Risalah Nur.

Semakin tua semakin memburuk pula kesehatannya, ia meninggal di kota Urfa pada Hari Rabu dini hari, 23 Maret 1960 yang bertepatan dengan 25 Ramadhan 1379. Dua bulan setelah Nursi wafat, terjadi kudeta militer terhadap pemerintahan Partai Demokrat. Kudeta ini dilakukan oleh kaum sekuler yang tidak suka dengan pemerintah saat itu.

Dan pada 12 Juli 1960, “kuburannya dibongkar oleh militer dan dibawa ke suatu tempat yang hingga kini tidak diketahui.” Jelas Ust. Cemal Şahin.

*Artikel ini ditulis dari pemaparan Ust. Cemal Şahin di AQL Islamic Center, Kamis, (17/1), dan sebagian data diambil dari buku  “Biografi Intelektual Bediuzzaman Said Nursi, Transformasi Dinasti Usmani menjadi Republik Turki” karya Şükran Vahide.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close