SirahTausiyah

Apakah Engkau Mendengar Azan? Maka Penuhilah Panggilan Shalat itu!

DIA tidak seperti manusia pada umumnya. Di pagi hari ia tidak bisa melihat indahnya cahaya fajar. Ia tidak bisa menikmati hangatnya cahaya Dhuha. Tidak mampu membedakan malam dan siang. Yang ada dalam pandangannya hanya kegelepan. Tapi laki-laki tangguh itu senantiasa bercahaya mata hatinya, sehingga mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang yang melihat, dia Abdullah bin Umi Maktum.

Ada satu kisah yang termaktub tentangnya dalam hadis. Sebuah kisah yang penuh inspirasi. Kisah yang menyadarkan orang yang punya mata untuk melihat. Kisah buat orang yang mampu merasakan cahaya pagi dan mampu membedakan malam dan siang. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : أَتَى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلٌ أعْمَى ، فقَالَ : يا رَسُولَ اللهِ ، لَيسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَّمَا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ لَهُ : (( هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ )) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : (( فَأجِبْ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503)

Suatu ketika, Rasulullah kedatangan seorang tunanetra. Seseorang yang tak mampu melihat tangannya sendiri. Abdullah bin Umi Maktum. Laki-laki buta ini datang kepada Rasulullah untuk meminta keringanan. Adakah kiranya ia diberi keringanan agar bisa shalat di rumahnya saja.

Umi Maktum berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’

Cobalah renungkan jika dirimu seperti Umi Maktum. Buta dan tak ada penuntun lagi. Apakah masih sanggup untuk datang ke mesjid? Dan apakah masih mau ke mesjid?

Hal itu pula yang dirasakan oleh Sahabat mulia itu. Mengadu kepada sang teladan tentang dirinya yang susah untuk melangkah ke mesjid, karena buta dan tak ada penuntun.

Namun jawaban Rasulullah sangat mengejutkan. Dengan lembut ia mengambil laki-laki buta itu, ketika berbalik hendak pulang kerumahnya. , ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ tanya Nabi kepadanya.

Umi Maktum menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah kemudian memberinya jawaban penyemangat sembari mendoakannya, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.

Wahai sahabat, kita yang hidup di zaman dengan penuh kemudahan ini. Mata masih mampu melihat. Jalan-jalan sudah diterangi dengan cahaya buatan. Jalanan sudah diaspal. Bahkan tersedia kendaraan yang siap kita gunakan untuk melangkah ke mesjid.

Bahkan, ketika sampai ke mesjid pun, jika dibandingkan dengan masjid saat Umi Maktum mengaduh kepada Rasulullah, lantainya dilapisi karpet, penerangan yang sangat cerah, ruangannya berAC. Lalu adakah kita punya alasan untuk tidak ke mesjid? Dan jika saat ini kita masih malas untuk shalat berjamaah, adakah alasan Allah untuk memasukkan kita ke surga-Nya.

Tidakkah kita tergerak hati ketika mendengar doa Rasulullah. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Hiduplah layaknya para sahabat. Mereka memulai semua aktivitasnya sejak waktu fajar.

Apakah kita ingin mendapatkan berkah doa Rasulullah? Hidupkan malam dan penuhi masjid pada waktu subuh. *Subuh Berjamaah, Masjid Al Muhajirin, Komplek Pertamina RU 2 Dumai, Riau.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close