Tadabbur

APAKAH CINTA KITA KEPADA ALLAH SUDAH TERUJI?

“Cinta bukan soal kata yang diucapkan begitu saja. Namun, cinta itu butuh bukti konkrit, dan bukti cinta itu adalah menapaktilasi jejak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari”

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali-Imran: 31-32)

Ibnu Qayyim al-Jauzi mendefinisikan Cinta, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.

Kebanyakan orang hanya memberikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan,kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini. (Madarijus-Salikin 3/11)

Beberapa definisi cinta: 1. Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai). 2. Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya. 3. Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, se-ia se-kata dengannya baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang. 4. Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya. 5. Menyibukkan diri untuk menge-nang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.

Terkait ayat di atas, Allah menginformasikan bahwa ada orang yang mengaku cinta kepada-Nya, maka untuk membuktikan hal itu harus diberikan ujian cinta, apakah cinta murni karena Allah atau hanya sebatas kata-kata. Rasul diseru untuk mengatakan kepada orang yang mengaku cinta itu untuk membuktikan cintanya dengan cara menapaktilasi jejak Rasul. Tidak cukup hanya dengan mengikuti apalagi ikut-ikutan mengerjakan sunnah, ibadah-ibadah yang dikerjakan harus disertai dengan cinta.

Allah subhanahu wa ta’aala memberikan kabar gembira kepada orang telah tumbuh cinta di dalam hatinya, bahwa orang itu akan dicintai oleh Allah dan diampuni oleh semua dosa-dosanya. Tidak hanya sampai pada pengampunan dosa saja, tapi dosa-dosa itu akan didaur ulang menjadi pahala وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Ada 4 poin penting yang terdapat dalam surat Ali-Imran ayat 31, yaitu pertama, ada informasi bahwa ada orang yang mengaku cinta kepada Allah. Kedua, bukti cinta kepada Allah adalah dengan menapaktilasi jejak Rasul-Nya (Muhammad). Ketiga, orang yang telah teruji cintanya akan dicintai oleh Allah. Keempat, orang yang telah dicintai oleh Allah tidak hanya diampuni tapi dosanya akan didaur ulang menjadi pahala.

Jika ditarik, maka yang menjadi poin penting adalah bukti cinta kepada Allah adalah mengikuti Rasul-Nya dan orang yang dicintai itu akan dicintai oleh Allah dan dosa-dosanya tidak hanya diampuni tapi didaur ulang menjadi pahala.

۞ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (QS. Ali-Imran: 32)

Jika ayat 31 berisi tentang penjelasan ujian cinta bagi orang yang mengaku cinta maka di ayat ini adalah implementasi paling tinggi dari cinta kepada Allah, yaitu taat kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah tapi tidak mau mengikuti jejak Rasul, salah satunya adalah kelompok inkarus sunnah. Sebaliknya, ada juga orang yang terlau cinta kepada Rasulullah sehingga mengabaikan cintanya kepada Allah, misalnya shalawatan diiringi dengan musik bahkan sampai larut. Tidak hanya itu, di era modern ini banyak orang yang menjalan perintah jika itu menguntungkan bagi dirinya dan jika merugikan dengan serta merta ia tinggalkan.

Setidaknya ada dua poin penting yang bisa diambil dari ayat ini. Pertama, perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, Allah membenci orang kafir.

Jika dihubungkan antara ayat 31 dan ayat 32 maka akan ditarik kesimpulan bahwa Allah mencintai orang beriman dan membenci orang kafir.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Hasan berkata, Pada masa Rasulullah, sekelompok orang berkata pada beliau. “Wahai Muhammad, Demi Allah, sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami”. Kemudian Allah menurunkan kedua ayat ini sebagai tuntunan bagi orang yang ingin mencintai Allah, yaitu mencintai utusan-Nya dan berpaling dari kekafiran. (HR. Ibnu Mundzir)

Terkait dengan cinta, seringkali kita keluar dari definisi cinta yang sesungguhnya. Dalam pandangan agama cinta itu adalah kecenderungan jiwa untuk mengkhususkan penghambaan kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Sebenarnya fitrah manusia itu sangat senang jika ia dicintai oleh Allah. Contoh terkecil dan analogi dalam kehidupan ini, seseorang sangat senang jika dipuji oleh orang lain. Maka pasti akan lebih senang lagi jika yang memujinya adalah sang pencipta cinta.

Dalam kehidupan ini nikmat yang paling tinggi derajatnya adalah jika seseorang berbuat baik dan hanya ingin diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala. Sehingga ia akan memaafkan orang yang membencinya bahkan mendoakan kebaikan untuknya lalu tersenyum kepadanya. Dan jika hal itu telah diraih maka Allah akan mencintai kita.

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)

Dalam kehidupan ini ekspresi cinta itu adalah bangga melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dengan cara mengikuti Rasul-Nya. Para pecinta itu selalu mengoreksi perbuatannya, apakah perbuatan itu bernilai dan berharga di akhirat kelak. Misalnya, dalam sedekah, salah satu penghalang terbesar cinta seseorang itu adalah materi, maka perintah bersedekah menjadi hal yang sangat dianjurkan dalam Islam agar bisa meruntuhkan sisi materialisme dalam diri untuk bisa mendekat kepada Allah. Orang yang telah mencintai Allah ketika mencintai mahluk, cintanya itu pun karena Allah.

Dalam ayat 31 Allah menggunakan kata (اتَّبِعُ) artinya tidak sekedar mengikuti tapi menapaktilasi jejak Rasul. Misalnya, akan berbeda orang yang berhijab karena mengikuti fashion dengan orang yang berhijab karena menapaktilasi jejak Rasul atau mengikuti sunnah Rasul. Orang yang melakukan sunnah karena motif cinta kepada Allah akan berbeda nilainya dan cara pelaksanaannya penuh dengan rasa takut jika tidak diterima dan penuh harap agar perbuatan itu bernilai di sisi Allah.

Misalnya, masih banyak orang yang meremehkan sunnah karena menganggap jika tidak melakukannya maka tidak apa-apa. Namun, jika cinta sudah merasuk dalam jiwa, maka apakah menyebut Asma Allah 33 kali itu tidak apa-apa? Apakah tidak shalat sunnah sebelum subuh itu tidak apa-apa? Tentu orang yang cinta kepada Allah akan merasa sangat rugi jika tidak melaksanakan sunnah Rasulullah.

Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’ (HR. Bukhari Muslim)

Sebenarnya yang terpenting bukan kapan hari kiamat, tapi seberapa siap kita menghadapi hari itu dan apa yang akan dipersiapkan di hadapan Allah untuk menjawab pertanyaan-Nya. Melakukan shalat karena cinta akan lebih khusyu, penuh rasa takut dan harap kepada-Nya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, jika Allah cinta kepada mahluk-Nya Dia akan sampaikan kepada jibril, lalu jibril sampaikan kepada pendudik langit agar mencintai hamba itu, kemudia disampaikan lagi ke mahluk-mahluk yang ada di bumi untuk mencintai orang tersebut. Beribadah dengan cinta lebih besar nilainya daripada beribadah hanya karena melepaskan kewajiban. *dinukil dari tadabbur kamis pagi bersama Ust Bachtiar Nasir, 12 oktober 2017.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close