Apa Hukum Demonstrasi? Ini Jawaban Imam Besar Masjid Quba Al-Maghamisi

JAKARTA (AQLNEWS) – Imam Masjid Quba Syekh Saleh bin Awad al-Maghamisi memberikan pendapat mengenai demonstrasi yang dibolehkan dan diharamkan saat berkunjung ke AQL Islamic Center, Jakarta, Sabtu (6/7/17). Intinya, Pakar Tadabbur al-Qur’an ini menyatakan, boleh atau tidaknya demonstrasi dilihat dari cara dan tujuannya. Jika caranya disampaikan dengan santun, damai, dan beradab, serta bertujuan untuk kebaikan, maka itu dibolehkan.

Pernyataan itu disampaikan Al-Maghamisi saat menjawab pertanyaan Syekh Ali Jabeer tentang perdebatan di kalangan umat Islam mengenai demo. Di hadapan Syekh Al-Maghamisi, dia mengaku ikut Aksi Bela Islam. Syekh Ali duduk bersila di antara para jamaah yang hadir untuk mendengarkan tausiah Al-Maghamisi yang digelar setelah shalat Isya di Aula AQL.

Syekh Ali mengutarakan, ada di kalangan umat Islam yang menilai kumpulan umat Islam yang berdemo tak ubahnya seperti kumpulan binatang di kebun binatang. “Ini adalah sebuah perdebatan tetapi kami tidak mengajak Syekh untuk ikut bersebat melainkan agar memberikan pencerahan mengenai aksi yang dibolehkan dan yang tidak,” kata Syekh Ali yang menyampaikan pertanyaan dalam Bahasa Arab lalu ia terjemahkan agar dapat dimengerti oleh jamaah lainnya.

Syekh Al-Maghamisi rupanya tidak suka dengan istilah perkumpulan binatang. Dia menyatakan perkataan seperti itu tidak boleh karena sangat menghinakan umat Islam,” katanya.

Kemudian beliau mengurai sebuah tentetan sejarah mengenai penunjukan khalifah setelah Nabi dengan cara yang tidak sama dengan cara-cara Nabi. Ketika Rasulullah SAW wafat, beliau tidak memilih siapa yang akan menjadi khalifah. Menanggapai hal itu para sahabat dalam peristiwa Saqifah memutuskan dari nama yang kira-kira telah direkomendasikan oleh Rasulullah SAW. Maka dipilihlah Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah Abu Bakar wafat beliau telah memberikan sinyal bahwa pemimpin setelahnya adalah Umar bin Khattab. Nah, cara pengangkatan khalifah era Abu Bakar berbeda dengan cara Rasulullah SAW.

Begitu juga dengan Umar bin Khattab, tidak memakai cara Rasulullah SAW dan cara Abu Bakar ketika akan mencari penggantinya. Khalifah kedua itu melihat situasi pada zamannya tidak sepadam dengan Rasulullah SAW dan juga tidak cocok dengan cara Abu Bakar. Maka beliau membentuk majelis yang beranggotakan enam orang. Dari tim inilah yang memilih siapa berhak menjadi khalifah pengganti Umar bin Khattab.

Syekh Shalih al-Maghamisi menjelaskan, “Tidak mungkin dalam satu urusan itu hanya menggunakan satu model hukum. Terutama dalam soal pemilihan pemimpin. Yang terpenting adalah tujuan dari pemilihan pemimpin itu sendiri. Tujuannya adalah bagaimana adanya kepemimpinan yang definitive dan bisa menyatukan semua menuju kemaslahatan publik tentu dari sudut pandang agama,” katanya.

Kemudian Syekh Shalih Al-Maghamisi menjelaskan hukum demonstrasi yang sering dilakukan umat Islam Indonesia akhir-akhir ini. “Demo menjadi haram kalau tujuannya hanya menghinakan pemimpin. Misalnya yang kita tuntut adalah keadilan. Maka tidak usah keluar dari mulut kita kata-kata kotor yang menjelek-jelekkan pemerintah.”

KH Bachtiar Nasir yang menjadi penerjemah menambahkan, termasuk dalam hal menghina ini mempelintirkan lagu-lagu, meme, dan kata-kata yang menjelek-jelekkan presiden. Mengenai hal itu Imam Masjid Quba menjawabnya dengan singkat, “Hal itu adalah haram. Maka tutur kata cara berdemo jangan tujuannya untuk menghinakan pemimpin. Tuntutan kita adalah tegakkan keadilan kepada penista agama maka konsisten disitu,” kata Syekh Al-Maghamisi.

Akan tetapi, hukum demonstrasi itu tidak mutlak hukumnya haram. Jika niat demo itu adalah mengingatkan dan menekan agar pemerintah tidak menyelewengkan kekuasaan maka itu boleh saja dilakukan.

“Kalau demo itu tujuannya mengingatkan, untuk menekan supaya jangan sampai mengikuti kehendak pemodal misalnya dan tujuannya mendukung pemerintahan agar lurus maka itu boleh,” tegas khatib Masjid Quba ini. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!