Anies, Coming From Behind

 

AZHAR AZ PAWENNAY

JIKA diibaratkan dalam sepak bola, saya menilai sosok Anies Baswedan sebagai seorang pemain di lini pertahanan. Dari kesantunan dan kesopanan yang menghiasi perangainya, Anies memang bukan tipe penyerang. Dia memiliki kekuatan bertahan sehingga sangat kokoh menghadapi hujan serangan, bertubi-tubi sekali pun.

Bisa dibuktikan dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta, Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno tidak tampak membangun serangan ke kubu lawan. Dia malah lebih sering diserang dengan berbagai isu dan tuduhan. Menariknya, dia lebih menikmati serangan-serangan lawan politiknya.

Bahkan, masyarakat mendapatkan sebuah pendidikan politik bagaimana membalikkan sebuah fitnah dan serangan lawan menjadi amunisi mematikan. Tentu dengan kemasan yang elegan dan dapat diterima semua pihak. Misalnya, parodi #twitjahat. Anies dan timnya berhasil membalas kicauan-kicauan miring dengan cara-cara cerdas dan lebih dewasa.

Anies terbukti tahan terhadap serangan. Tentu tidak dibuat-buat melainkan karakter itu dilakoninya dalam kehidupan. Buktinya, serangan bahwa Anies adalah Syiah tidak mempan. Soal Syiah, ini bukan serangan kali pertama untuk mendegradasi Anies. Dalam sebuah pertemuan, Anies bercerita, dirinya sudah bermandikan fitnah soal Syiah, termasuk tuduhan liberal.

“Menyangkut Syiah, tolong buktikan. Karena yang harus menjawab adalah penuduh, saya hanya tertuduh.”

Meski tertuduh bertahun-tahun, Anies mengaku tidak perlu mengklarifikasi karena penuduhlah yang seharusnya memberi bukti atas tuduhannya. Begitu juga tuduhan liberal. Anies merasa bermandikan fitnah, tapi tidak ada yang bisa membuktikan.

“Bapak bisa cek, Anies pernah ikut mailing list JIL (Jaringan Islam Liberal)?”

Jabatan sebagai Rektor Paramadina tidak bisa dijadikan bukti dan tuduhan bahwa ia liberal. Entah mengapa banyak yang bilang Anies menggantikan Nurcholis Majid. Padahal waktu itu dia masih sekolah di Amerika. Yang membuka pintu dia pulang ke Indonesia adalah Eep Saifullah Fatah. “Saya menggantikan Shohibul Imam (sebagai rektor Paramadina beberapa waktu silam). Isu JIL itu luar biasa. Padahal sebelum saya adalah Shohibul Iman. Sebelumnya lagi Sudirman Said,” katanya.

Soal jabatan menteri, Anies tidak mempersoalkan saat diberhentikan oleh Jokowi. Bertanya pun tidak, kenapa diberhentikan. “Saya ketika diputuskan untuk cukup saya tidak tanya kenapa? Kalau sudah diputuskan lengser, banyak bisa dikerjakan kok di luar kabinet,” katanya enteng.

Clear. Tokoh yang tadinya benci Anies berbalik 180 derajat. Saya pun terkagum-kagum dan merasa bersalah kepada Anies yang sebelumnya meyakini kedua tuduhan itu. Di masa kampanye Pilgub DKI, tuduhan itu muncul lagi lewat selebaran. Padahal, foto yang beredar luas justru calon lain yang menerima dedengkot Syiah di kantornya. Serangan kepada Anies lewat isu ini gagal.

Anies memang bukan sosok yang suka menyerang. Kalem, cool, tapi tegas. Bahkan berani bersikap keras terhadap proyek reklamasi. Anies mengampanyekan tolak reklamasi.

Sebagai pemain defender yang tangguh dalam sepak bola, jangan dikira ia tidak bisa merobek mulut gawang lawan. Dalam istilah bola dikenal, “coming from behind”, yaitu pemain belakang tiba-tiba naik dan mencetak gol. Anies terbukti beberapa kali bermain “coming from behind” dalam rekam jejaknya. Contoh terdekat, Pilkada DKI putaran pertama. Dari nomor buncit hasil survei selama berbulan-bulan, Anies mampu membalikkan skor dan menyundul Agus ke posisi ketiga di hari H pencoblosan. Kini Anies melaju ke babak final, hari ini.

Anies sepertinya memang specialis coming from behind. Mundur sedikit ke belakang, siapa yang menyangka Anies akan maju ke Pilkada DKI? Nama yang santer malah Sandiaga Uno, bahkan sudah ditetapkan secara resmi oleh Partai Gerindra.

“Tidak pernah terpikir tapi muncul di survei, sehingga muncul potensi. Potensi ada, kesempatan ada. Saya bersedia di ujung,” katanya.

Anies ditetapkan di detik-detik akhir penetapan calon gubernur oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebelumnya, partai ini akan mengusung Sandi-Mardani Alisera, tapi Anies lagi-lagi coming from behind. Mardani legawa sebagai ketua tim kampanye.

Cerita detik-detik akhir yang menentukan, tentu tidak hanya ini bagi Anies. Mungkin masih ada yang belum beliau ungkap. Jangan-jangan saat melamar istrinya pun, punya cerita yang sama. Jangan-jangan, jangan meraba-raba, apalagi menduga-duga. Hehehe

Oh satu lagi. Tahukah bagaimana kisah ia terpilih menjadi rektor Paramadina? Di paramadina, dia tidak pernah direncanakan jadi rektor. Dia diundang ikut rapat yang dipimpin Didik J Rahbini. Dia memang diundang jadi pengurus. Rupanya, saat itu ada proses pemilihan rektor.

Singkat cerita, rektor yang terpilih tidak bersedia dan mundur. Setelah dicari penggantinya, ada dua calon, salah satunya siapa? Anies Baswedan. “Saya bersedia, tapi saya minta bicara kepada semua pihak. Dua minggu setelah itu baru pelantikan, karena saya mau silaturahmi dulu.”

Anies coming from behind. Dia ada di saat yang tepat. Saat ini Jakarta butuh sosok Anies yang santun tapi tegas dan berani. Seperti Presiden Soeharto yang santun dan berani, pernahkah ia mencaci? Padahal ia berkali-kali terpilih sebagai presiden.

“Kalau kita bangun kota ini, yang dipimpin adalah masyarakat kotanya. Yang mau dipimpin bukan bangunan, bukan propertinya. Itu salah. Yang mau kita pimpin adalah masyarakat Jakarta. Gagasan saya, saya rasa kita harus memulai Poros Baru Asia Tenggara (dari Jakarta). Itu gagasan saya,” katanya. Sebuah harapan baru untuk Jakarta dan semoga Anies mampu membawa Jakarta coming from behind atas ketertinggalannya dari kota-kota maju di dunia. *

Sebarkan Kebaikan!