Ali Abu Turab

ABBAS Mahmud al-`Aqqād, dalam buku `Abqariyyatu al-Imām (1999: 19), menyebut kunci kepribadian manusia agung ini dengan: “Kesatria”. Mahmūd Al-Mashri, dalam: Ahābu al-Rasūl (1/185), menjuluki sosok multi talenta ini, sebagai: “Singa Pahlawan”.

Sahabat yang dikenal tampan, kuat, jenius, pemberani, teguh pendirian, adil, alim, dermawan, ahli sya`ir, mujahid tangguh dan zahid (sederhana) ini, sejak berusia enam tahun, sudah merasakan langsung asuhan  dan pendidikan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.

Saat berusia sepuluh tahun -waktu hijrah nabi- ia mendapat amanah besar (yang bisa mengancam nyawanya): Pertama, menggantikan nabi tidur (saat hijrah). Kedua, mengembalikan barang titipan orang kafir yang diamanahkan kepada nabi (Nūr al-Yaqīn,73). Amanah ini pun dilaksanakan dengan baik.

Figur agung ini bernama Ali bin Abi Thalib radhiyallah `anhu. Sepupu nabi berjuluk, Abu Turāb (Bapak Debu). Anak yang pertama kali masuk Islam. Sahabat yang mendapat kesaksian syahid dan jaminan surga. Suami Fatimah (Putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).

Anak-anaknya (Hasan dan Husain) -sesuai sabda nabi- akan menjadi penghulu pemuda surga (HR. Tirmudzi). Sahabat yang dicintai Allah dan Rasulnya. Sahabat yang diposisikan seperti Nabi harun.

Saat menjadi khalifah keempat (35 H), beliau berada dalam kondisi sulit. Di satu sisi beliau harus meredam fitnah internal (Muawiyah dkk. yang menuntut penyelesaian hukum para pembunuh Utsman) yang kemudian meletus perang Jamal dan Shiffin, bahkan lahir sekte Syi`ah dan Khawarij.

Adapun secara eksternal, beliau harus menjaga kedalulatan negara yang sedang terancam. Meski demikian, keinginan untuk menciptakan stabilitas keamanan dan persatuan selalu bergelora dalam jiwanya.

Takdir Allah ta`āla berkata lain. Sebelum sukses merealisasikan cita-cita, ia dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam (konspirasi besar sekte Khawarij pasca perang Nahrawan. Muawiyah dan Amru bin Ash juga dijadikan sasaran, meski tak berhasil). Pada tahun 40 H, bertepatan dengan bulan Ramadhan, khalifah keempat akhirnya syahid saat membangunkan orang shalat shubuh (al-Khulafā al-Rāsyidun, 631).

            Pelajaran penting yang diabadikan sejarah dari lembaran emas hidupnya: Pertama, semangat jihad yang tak pernah surut. Kedua, keadilan sebagai seorang pemimpin dan hakim. Ketiga, kezuhudan (kesederhanaan). Keempat, kedalaman ilmu. Kelima, semangat pemersatu.

Kehidupannya benar-benar mencerminkan sosok kesatria zahid pembela tauhid (yang berarti: mendakwahkan keesaan Allah ta`ala dan menyatukan umat Islam yang terpecah belah). Beliau layak dicintai dan diteladani. Tidak berlebihan jika suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berujar, “Wahai Ali! Tidak mencintaimu, kecuali mukmin. Dan tidak memurkaimu, kecuali orang munafik” (HR. Muslim).

Sebarkan Kebaikan!