Al-Qur’an Penyelamat Kehidupan (3)

Kalau sebuah Negara akan berdaulat, perbaiki dulu shalatnya. Sebelum shalatnya, lihat dulu tiga komponen sebelumnya yaitu tidak syirik, berbuat baik kepada orang tua, dan selalu merasa dekat dan senantiasa dalam pengawasan Allah. Lalu shalatnya akan berkualitas setelah itu. Kemudian hasil shalatnya apa? Lihat berapa banyak sedekah dan infaknya. Kalau anak remaja, karena mereka belum bekerja? Apa yang dinilai dari shalatnya? Lihat mental amar makruf dan nahi munkar. Jangan sampai anak kita hanya mengerti demonstrasi tetapi tidak mengerti amar makruf nahi munkar.

Kapan harus malu dan kapan harus berani? Anak-anak kita nyaris tidak punya keberanian lagi untuk agamanya. Yang namanya ruh jihad, sudah dimatikan di negeri ini. Korea bisa maju begitu cepat, karena penduduknya disiapkan untuk siaga perang. Anak belajar bela diri sejak di sekolah dasar. Untuk apa bela dirinya, yaitu untuk bangsanya.

Ini Indonesia kaya raya. Di masa penjajahan dulu, para pejuang bangsa ini berhasil meraih kemerdekaan. Itu karena banyak ulama di waktu itu dan para ulama jujur dan berani mengatakan kebenaran. Kalau para ahli agama sudah menjual agamanya dengan dunia, maka tunggu kehancuran sebuah bangsa.

Ibnu Mas’ud berkata: di zaman kami memang sedikit yang direzekikan menghafal huruf-huruf l-Qur’an tetapi di zaman kami direzekikan untuk mudah mengamalkan Al-Qur’an. orang-orang setelah zaman kami, banyak yang direzekikan menghafal Al-Qur’an tetapi sedikit yang direzekikan mengamalkannya. Ini bahasa Ibnu Mas’ud yang selalu berbicara tentang metodolgi. Di antara ahlul Qur’an di sekeliling Rasulullah, kalau bicara metodologi banyak yang berasal dari Ibnu Mas’ud.

Dalam hidup kita, antara mengingat Allah dengan mengingat Allah banykn mana? Yang sering kita minta kepada Allah, yang kita suka apa yang Allah suka? Ini fatal bahayanya. Tetapi masih beruntung karena kita mengakui. Kata katsiiran dalam Al-Qur’an, ini berlaku pada dzikir saja. Yaa ayyuha ladziina aamanuu dzkuruul-Laha dzikran katsiraa wasabbihuuhu bukratan wa ashila. Masih di dalam Al-Qur’an, kalau dzikirnya sedikit, itu siapa? Itu adalah orang-orang munafik. Jadi munafik itu ingat Allah tetapi sedikit. Lebih banyak lupanya.

Kalau begitu, kita ini siapa?

Untuk menghidupkan qalbu, perbanyaklah dzikrullah. Orang yang selalu berdzikir pasti selalu terbuka pintu kebaikan baginya. Orang yang banyak bertasbih, dicerahkan wajahnya. Orang yang banyak bersujud, akan ditinggikan derajatnya. Bukan jabatan, bukan harta, bukan jabatan, bukan benda yang mewah yang membuat kita terhormat. Orang yang banyak mengingat Allah mereka itulah yang dimuliakan.

Kembali kepada Al-Qur’an. Kalau kita ditanya, sudah beriman belum kepada Al-Qur’an. Pasti kita jawab iya. Tetapi, itu menurut siapa? Kalau ditanya lagi, kalau menurut Al-Qur’an, kita sudah beriman belum? Ini yang menjadi standar. Jadi kapan kita disebut beriman menurut Al-Qur’an, yaitu ketika kita membacanya dengan sungguh-sungguh, sungguh-sungguh mempelajarinya, sungguh-sungguh mengambil pelajaran, mengamallan, dan mengajarkannya. Demikianlah orang yang beriman kepada Al-Qur’an.

Al-Qur’an sudah memberikan banyak rambu-rambu agar kita selamat. Tetapi, kebanyakan orang hanya membaca Al-Qur’an kalau sempat. Belajar kalau lagi mud, menghayatinya kalau kena musibah, dan mengamalkannya kalau menguntungkan. Selama masih begini sikap kita kepada Al-Qur’an, jangan harap kita bisa selamat bersama Al-Qur’an, meski pun hafal Qur’an.

Jadi kita harus menikmati risiko bersama Al-Qur’an jika kita ingin terselamatkan oleh Al-Qur’an. Bukan tergantung berapa banyak yang dibaca dan dihafal. Dalam Surat An-Nisa Ayat 66: Walau annahum fa’aluu maa yu’adzuuna bihi lakaana khaeran lahum wa asyadda tatsbiitan. (Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman).

Jangan sampai kita banyak membaca Al-Qur’an tetapi tidak berani mengambil risiko dalam melaksanakannya. Wallahu A’lam Bish Shawab.

*Selesai


(disarikan dari materi ceramah KH Bachtiar Nasir)

 

Sebarkan Kebaikan!