Al-Qur’an Penyelamat Kehidupan (2)

Al-Qur’an menyeru pada kehidupan yang hakiki. Kehidupan yang mana? Yaitu kehidupan qalbu. Inilah substansi kehidupan yang sesungguhnya. Karenanya, jika kita membaca Al-Qur’an di awal ayatnya menyebutkan, Yaa ayyuha ladziina aamanuu, saat itu juga berdoalah. “Ya Allah, golongkanlah aku termasuk orang-orang yang Engkau seru.” Jadi, kalau membaca Al-Qur’an memang harus interaktif. Jangan lalai.

Ibaratnya, jika kita memilih cincin, jangan melihat pembungkusnya saja. Barang yang mahal, kemasannya memang dibuat indah. Namun jika ingin cincin yang paling bagus beserta permata atau berlian yang bagus, jangan lihat kotaknya. Buka dan lihat apa isinya. Kalau isinya sudah diambil, kotaknya dibuang. Nah, seperti itulah ruh. Jasad ini hanyalah kemasan. Tidak perlu dibuat kemasan yang sangat indah dengan bersolek tetapi dalamnya tidak didandanin. Karena kotaknya hanya untuk dibuang. Kalau kita sudah meninggal dunia, ini wajah di hari ke-40, tidak berbentuk lagi dimakan cacing atau belatung. Pada saat itu, apa yang menyelamatkan kita? Ruh. Jika ruh kita tidak didekatkan kepada Al-Qur’an, apa yang bisa menyelamatkan? Kemasan sudah pasti tidak dipakai, bahkan sudah membusuk.

Banyak sebenarnya bangkai berjalan, penduduk kuburan yang berjalan karena qalbunya mati. Tidak hidup. Di sinilah pusat intelektual itu. Bayangkan, kalau misalnya di DPR orang yang mengambil keputusan adalah orang yang suka main ke dukun,  lalu membuat undang-undang, bagaimana jadinya? Tidak sedikit. Karena untuk menang kampanye, tidak sedikit yang melakukan kecurangan dan mereka itulah yang menentukan arah bangsa ini.

Seorang wanita pernah mengeluh, karena setiap dia selalu merasakan ada makhluk yang menzinahinya. Dan itu terjadi setelah suaminya berinteraksi dengan seorang (yang katanya) kiyai yang menyukseskan dia di daerah pemilihannya. Lalu ditanamlah sesuatu di dalam tanah depan rumahnya. Sudah berbulan-bulan suaminya tidak menggaulinya, jadi kalau ada yang datang malam itu, dia juga bingung. Bagaimana kalau kita tidak kembali ke Al-Qur’an.

Apa yang harus dilakukan bangsa ini agar kita bisa mendapatkan nilai-nilai sesungguhnya? Al-Qur’an menyeru pada kehidupan yang hakiki, yaitu kehidupan qalbu. Nah persoalan terbesarnya, kita tidak bisa kendalikan qalbu kita sendiri. bukan manusia yang bisa mengendalikan qalbu. Allah yang Maha Berkehendak, memisahkan seseorang dengan qalbunya. Inilah seruan Al-Qur’an.

Abdulah bin Umar RA berkata: dahulu kami mempelajari keimanan sebelum belajar Al-Qur’an. Setelah itu baru kami mempelajari Al-Qur’an. Dengan begitu, bertambahlah keimanan kami. Bahaya belajar Al-Qur’an sebelum beriman kepada Al-Qur’an karane makna-maknanya bisa diputar balik. Hafizh Qur’an sebelum beriman kepada Al-Qur’an juga berbahaya. Karenanya, kalau ingin nilai-nilai Al-Qur’an menjadi penyelamat bagi kehiduopan kita, perbaiki keimanan kepada Al-Qur’an.

Makanya, dalam Al-Qur’an Surat Luqman Ayat 13-19, shalat itu nomor empat. Yang pertama adalah jangan menyekutukan Allah (Laa tusyrik billah). Kedua, berbuat baik kepada orang tua (Wabil waalidaini ihsaana). Ketiga, dekat kepada Allah (Muraaqabatullah), baru yang keempat adalah shalat. Shalat anak kita akan benar, kalau yang ketiga di atas ini benar. Shalat anak kita pasti amburadul kalau tiga yang di atas ini kacau balau.

Yang pertama adalah jangan berbuat syirik. Orang tua sekarang ini tahu nggak sih syiriknya anak muda sekarang? Beda dengan zaman kita dulu. Mereka takutnya sama pocong, percaya pada dunia lain, bohong semua. Anak-anak kita percaya pada ilmu perbintangan, bintangnya ini dan itu. Gedung-gedung tidak mau ada lantai 13-nya, bahkan tidak mau ada lantai 4. Kalau orang tua tidak peka, tauhid anak-anak kita bahaya. Belum lagi dengan bebasnya teknologi informasi yang setiap detik terus menerus mencekoki pemikiran anak-anak kita, bahkan termasuk orang dewasa dan orang tua.

Anak-anak kita ini, lebih banyak yang ngefans kepada orang fasik atau kepada ahlul iman? Dulu beredar video asusila di mana-mana tetapi dicaci maki oleh para pemuda dan orang tua. Sekarang bagaimana? Untuk menjadikan anak-anak kita sebagai ahlul iman, rajin-rajinlah mengajak mereka ke masjid. Insya Allah keluarga kita terselamatkan.

Kalau yang pertama di atas gagal ditanamkan kepada anak-anak, maka tahap selanjutnya juga akan gagal. Anak-anak tidak akan taat kepada orang tua dan tidak akan takut kepada Allah SWT jika masih ada kesyirikan dalam jiwa mereka. Lalu bagaimana mau mendirikan shalat dan beramal saleh? Inilah pentingnya pengajian intelektual.

Untuk membuktikan anak kita sudah shalat atau belum, kita lihat lagi urutan-urutan setelahnya. Yaitu bagaimana zakat dan infaknya? Nggak usah bilang tahajudnya sekian rakaat kalau sedekahnya masih recehan. Itu ukuran tahajud semalam. Orang yang berzakat, cuma satu persen. Banyak yang tidak bayar zakat.

*bersambung


(disarikan dari materi ceramah KH Bachtiar Nasir)

Sebarkan Kebaikan!