Al-Qur’an Penyelamat Kehidupan (1)

Jika ingin hidup bersama Al-Qur’an, tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafalnya saja. Ada sebuah metodologi agar nilai-nilai Al-Qur’an betul-betul bisa menyelamatkan kehidupan kita yakni beriman dulu kepada Al-Qur’an (Al-Iman qoblal Qur’an). Kita akan kesulitan mencapai kehidupan sebagaimana yang dijanjikan dalam Al-Qur’an kalau kita sendiri belum beriman kepada Al-Qur’an.

Bagaimana beriman kepada Al-Qur’an? “Orang-orang yang telah kami berikan Al-Kitab kepadanya mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu yang beriman kepadanya.” (QS Al-Baqarah : 121)  Menurut ayat ini, orang yang beriman kepada Al-Qur’an yaitu orang yang membacanya dengan bacaan yang sebenarnya (yatluunahu haqqa tilaawatihi).

Dengan begitu, Al-Qur’an akan menjadi jalan hidup, pedoman, dan penyelamat kehidupan.

Yaa ayyuhalladziina aamanuu istajiibuu lillahi walirrasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum wa’lamuu annal-Laaha yahuulu bainal mar-i wa qalbihi wannahuu ilaihi tuhsyaruun.

             “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberikan kepadamu kehidupan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu dikumpulkan.” (QS Al-Anfal : 24)

Seruan di sini adalah seruan berperang untuk meninggikan kalimat Allah, seruan untuk menghidupkan Islam dan muslimin, seruan kepada iman, petunjuk, jihad, dan segala sesuatunya yang bekaitan dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Itulah seruan rasul pada kehidupan yang sesungguhnya. Rasul menyerukan agar ummat manusia di bumi ini tidak dianggap mati atau berlama-lama sekarat.

Apa sih sebenarnya seruan Rasul yang bisa membuat kita hidup itu? Ada yang mengatakan Al-Haqqu yaitu kebenaran absolut. Al-Qur’an ini tafsirnya adalah Al-Qur’an. Yang bisa membuat kita hidup adalah Al-Qur’an dengan hidup yang sesungguhnya. Bukan hidup seperti hewan, bukan hidup seperti setan, iblis, atau gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an.

Jadi seruan Rasul itu Al-Haqqu. Al-Haqqu itu adalah Al-Qur’anul Karim. Kalau kita hidup bersama Al-Qur’an maka hidup kita pasti realistis. Tetapi kalau hidup dengan sistem liberalisme justru hidup kita tidak akan realistis. Dalam sistem ekonomi, apakah sistem yang kita gunakan realistis? Tidak. Beli rumah saja butuh menyicil sampai 20 tahun. Habis waktu kita di dunia hanya untuk menyicil sebuah rumah.

Banyak orang yang hidup tapi hatinya mati. Ini yang disebut dengan kehidupan. Antara dia (mukmin) dengan qalbunya ditutup oleh Allah sehingga kekufuran tidak bisa masuk. Sementara yang kufur tidak bisa masuk iman dalam qalbunya. Orang yang qalbunya tertutup mereka itulah yang sering kali jungkir balik keimanannya. Mereka seringkali menjual keimanannya dengan dunianya yang sedikit. Mendahulukan dunianya lalu lalai terhadap akhiratnya. Gara-gara duitnya sedikit, lalu ia bermain-main dengan yang haram. Atau pun terlanjur senang karena duitnya banyak, sehingga tidak peduli lagi dari mana pun sumber hartanya didapatkan.

Bagaimana menyelamatkan nilai-nilai kehidupan sudah lama diserukan dalam Al-Qur’an. Misalnya, ada orang yang ditanya, kenapa belum berhaji? Jawabannya karena belum dipanggil oleh Allah. Itu alasannya, tetapi keliru. Karena panggilan untuk berhaji bagi ummat manusia sudah diserukan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Firman Allah, dalam Al-Qur’an: 27): Wa adzdzin binnaasi bil hajj. Artinya, (Wahai Ibrahim) Serukanlah kepada ummat manusia untuk berhaji. Semuanya sudah dipanggil untuk berhaji sejak wahyu diturunkan kepada Nabi Ibrahim hingga kepada ummat Nabi Muhammad SAW. Kalau alasannya, “Ya, saya sudah berdoa.” Ketahuilah, dengan berdoa sudah benar tetapi ingat bahwa ikhtiar juga harus. Misalnya, dengan menabung.

Berdasarkan ayat di atas, ketahuilah bahwa sesungguhnya sangat mudah bagi Allah untuk membatasi antara manusia dan hatinya (Yahuulu bainal mar-i waqalbihi). Allah bisa memisahkan kita dengan hati kita sehingga apa yang kita kerjakan tidak sejalan dengan hati kita. Misalnya, seseorang sudah tahu dirinya salah tetapi masih saja terjerumus dalam kesalahan itu. Dia mengerti dirinya keliru tetapi dia sendiri tidak mampu menyetop kekeliruan itu. Hatinya tidak bisa berkutik sementara hawa nafsunya terus mengarahkan dan menggiringnya ke lembah kenistaan. Itu berarti hatinya sudah ditutup. Dengan kata lain, diri dan hatinya dipisahkan.

Dari tema ini, siapa yang bisa diselamatkan dalam kehidupannya? Kemudian siapa yang bisa membimbing hati kita dan siapa yang bisa menyelamatkan kita? Hanya Allah Ta’ala. Kalau anak sudah kena narkoba, susah disetop. Karena yang dominan dalam otaknya semata-mata dusta dan kebohongan. Untuk menyatakan yang benar saja, kenapa harus berbohong. Padahal berbohong itu adalah induk dari kejahatan.

*bersambung


(disarikan dari materi ceramah KH Bachtiar Nasir)

Sebarkan Kebaikan!