Aksi Bela Islam 2

Aksi Damai Bela Islam II adalah tadbiir rabbani. Tiada yang tahu persis berapa jumlah massa yang turun ke jalan menyesaki jantung Ibu Kota. Semua sisi segi tiga emas putih, kecuali yang berkaos putih hitam dan baju batik yang menyusup dan memukuli aparat. Merekalah yang kami sebut provokator dan diakui legitimasinya oleh penguasa dan aparat. Media dari dua group corong penguasa pun tertipu, dikiranya sang pemukul tameng aparat itu adalah peserta aksi lalu dibuat berita: Aksi Bela Islam berakhir ricuh dan rusuh. Dua media nasional, mengangkat judul headline yang sama, aksi ini ditunggangi kepentingan politik. Media mainstream lain lebih jernih menilai: Aksi Bela Islam terkendali. Inilah cara memandang yang waras, sesuai fakta dan kenyataan. Bukan mengangkat judul mengawang, ambigu, dan tidak jelas.

Siapa politisi yang menunggangi, tidak jelas, seperti tidak jelasnya sumber tuduhan itu! Mirip kerja provokator, selalu ambigu dan tidak jelas di mata awam. Hanya mereka sendiri yang tahu target dan sasarannya. Persis kata Nusron Wahid.

Ada media melihat secara jernih untuk kepentingan pembaca dan pemirsanya, tapi ada juga semena-mena mengangkat judul untuk kepentingan majikan. Entah siapa majikan di media berbau rusuh itu.

Aksi Bela Islam II adalah aksi ulama dari mata keikhlasan dan kesucian jiwa. Mereka tidak pernah tahu bagaimana perihnya tembakan gas air mata. Tidak pula tahu bagaimana merongrong negara, apalagi kudeta. Mereka hanya sedih, merintih, dan menangis karena Kitab Suci ummat Islam dinistakan.

Karena perihnya, jangankan dengan aksi demonstrasi, lebih dari itu pun para ulama sudah siap. Adakah jalan yang lebih dari kematian? Jalan itu pun siap dilaluinya demi tegaknya hukum, keadilan, dan wahyu-wahyu yang tertulis dalam Kitab Suci.

Hanya orang yang hatinya suci siap membela kitab suci yang dihinakan. Hanya orang yang hatinya agung siap mati karena kitab yang agung dinistakan. Jalan itulah yang ditapaki para ulama sekaliber KH Abdullah Gumnastiar, KH Arifin Ilham, KH Bachtiar Nasir, KH Didin Hafiduddin, Syeikh Ali Jaber, Habib Riziq, KH Miftah, KH Zaitun Rasmin, dan puluhan habaib lainnya. Khatib Istana Negara dan Imam Masjid Besar Istiqlal pun setuju dengan aksi ini. Bahkan sang khatib Istana siap dipecat dari Istana atas dukungannya itu.

Banyak orang melihat aksi bela Islam sesempit bingkai pemikiran sekularisme. Pikirannya tipis setipis uang kertas. Membela Al-Qur’an dikiranya mainan, tunggangan, dan ambisi menguasai negara. Melihat penista Qur’an biasa saja.

Dikiranya para ulama turun ke jalan untuk berunjuk rasa dan demonstrasi. Tidak! Tidak sesempit itu seperti sempitnya tafsiran penista Al-Qur’an dan para pendukungnya.

Jalan para ulama beda dengan mereka yang turun ke jalan demi nasi bungkus. Jalan yang dilalui para ulama bukan jalan sempit yang berbayar. Mereka bukan hewan tunggangan seperti mereka yang senang ditunggangi kepentingan, kekuasaan, sekularisme, komunisme, kapitalisme, pengembang, asing, dan aseng.

Para ulama tetap di jalan ittiba kepada Rasulullah dalam menentang kebatilan. Mereka menapaktilasi jalan para sahabat dan tabiin demi terbukanya tirai kemenangan yaitu Al-Fath. Mereka memang tidak sedang menghunus pedang sebagaimana Umar bin Khattab. Tapi semangat itulah yang ada pada jiwa mereka. Kebatilan harus dilawan dengan sikap tidak diam! Karena kegelapan hanya bisa diterangi dengan menyalakan cahaya.

Penembakan gas air mata yang melukai para ulama tak seberapa bagi mereka. Aa Gym, KH Arifin Ilham, KH Syekh Ali Jaber, Habib Rizieq, Bachtiar Nasir, dengan tegas tanpa ragu menyatakan siap mati demi membela Al-Qur’an.

Mereka berada di garda terdepan saat peluru karet dan gas air mata dimuntahkan untuk menghina para ulama di depan Istana yang megah dan mulia itu.

Aparat dan penguasa jangan melihat ulama sebagai demonstran. Jangan menilai ulama sebagai tunggangan. Jangan menilai ulama adalah provokator hingga harus disakiti, harus ditembaki, dan diusir di depan Istana Negara yang pernah membuka lebar pintunya bagi pembakar masjid di Tolikara.

Sudah, jangan sakiti lagi ulama kami. Mereka tidak sedang berdemonstrasi, tapi mereka menyampaikan pesan bahwa negara ini dalam bahaya!!! Negara ini rentan dikuasai asing!! Bangsa ini bakal diracuni paham-paham anti Islam.

Ulama kami tidak sedang berdemonstrasi di depan istana. Mereka hanya berwasiat, bertausiah, dan mengingatkan agar penguasa dan aparat tidak memelihara penista agama yang terbukti memecah persatuan dan kebhinekaan.

Andai ada Tabligh Akbar di depan Istana, maka inilah Tabligh Akbar yang terbesar yang jumlah jamaahnya tak pernah bisa diperkirakan. Media menyebut ratusan ribu, Amien Rais menyebut hampir satu juta, Habib Rizieq menyebut sekitar dua juta jamaah yang datang, dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebut inilah gerakan jalanan terbesar dalam sejarah.

Di Bunderan HI membludak, Istiqlal sesak sampai ke jalan membentuk letter U (di belakang imam), partung kuda juga sesak, di tugu Tani apalagi. Ada yang bisa menghitung? Inilah tadbiir ilahi, pokoknya Jantung kota memutih, kecuali sejumlah provokator yang berbaju batik dan kaos. Wallahu A’lam.


*azh

Sebarkan Kebaikan!