Akhlak dan Adab Sebagai Media Dakwah

AKHLAK mulia termasuk landasan primer dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Akhlak pun menjadi pembeda bagi orang yang beriman dan munafik. Karenanya, bagi munafik tidak akan berkumpul dua sifat mulia ini yaitu akhlak yang baik dan ilmu agama yang benar.

Definisi akhlak mencakup tiga unsur. Seluruh akhlak akan menuju ke tiga poin di bawah ini, yaitu;
1) Berbuat baik kepada orang.
2) Menahan diri jika disakiti.
3) Menahan diri untuk menyakiti orang lain.

Adapun adab, menurut Ibnu Qayyim, adalah isti’maalul khuluqil jamil, yakni menerapkan akhlak mulia. Ketika kita berhasil menerapkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, itulah yang disebut adab. Adab dan akhlak berkaitan erat.

Semua sisi kehidupan, ada adabnya, termasuk bagaimana berinteraksi di media sosial (medsos). Orang yang tidak memiliki adab, dapat dilihat dari status dan tulisan-tulisan yang diekspresikan di medsos.

Akhlak terpuji bertalian erat dengan akidah yang benar. Pada akidah yang benar ada akhlak yang terpuji dalam interaksi sosial. Man kana yu’minu billahi walyaumil akhir falyaqul khairan Nauliyashmut. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah yang baik atau diam. Contoh kecil lain dalam interaksi sosial bagi orang yang beriman, terlihat bagaimana ia memuliakan tamu, memperlakukan tetangga, mencintai apa yang dicintai oleh saudara muslimnya, dan lain sebagainya.

Dalam berdakwah pun, akhlak mulia menjadi perekat, media, dan sarana yang paling efektif. Dengan sikap santun, amanah, jujur, kita bisa memikat hati manusia. Dakwah itu menyampaikan syiar agama kepada orang lain. Dapatkan kita menarik simpati orang atau umat lain tanpa memperhatikan akhlak? Sesungguhnya Anda tidak dapat merebut hati manusia dengan harta tetapi Anda bisa merebut hati mereka dengan akhlak mulia. Bukan uang bisa merebut hati manusia tapi akhlakul karimah.

Mau bukti? Saya punya duit Rp 100 ribu, lalu saya lemparkan kepada Anda. Anda mau ambil? Bandingkan, walau saya hanya punya Rp 10 ribu, tetapi saya berikan dengan adab serta tutur kata yang baik. Tentunya Anda tidak akan menakar berapa nilainya tetapi cara penyampaiannya. Jangankan materi, tersenyum saja sudah menyenangkan dan membahagiakan orang lain. Karena senyum adalah sedekah yang bersumber dari akhlakul karimah. Tapi ada juga di antara kita yang senyum saja susah. Padahal, yang pertama kali dinilai bagi seseorang adalah senyumannya. Setelah itu, cara berbicara, cara berinteraksi, dan lainnya.

Akhlakul karimah pada dasarnya adalah dakwah bagi umat lain. Sikap kasar dan sewenang-wenang, justru membuat orang lain lari. Tetangga kita ramah kenapa? Karena senyum kita. Coba kalau begitu ketemu dan memalingkan muka, apa mereka senang? Tidak.

Ketahuilah, apa yang meyakinkan Nabi SAW tentang wahyu yang pertama kali diterimanya? Awalnya Nabi belum yakin bahwa beliau mendapat wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril. Akhirnya beliau mendatangi Siti Khadijah RA. “Kallaa absyir, fawallahi laa yuhziikallahu abada. “Demi Allah, Allah tidak akan menghempaskan dirimu.” Khadijah yakin sekali bahwa yang diterima suaminya adalah wahyu, bukan keburukan. Kenapa? Khadijah yakin sekali bahwa dalam diri Rasulullah ada akhlak mulia dan beliau bukan orang hina di sisi Allah SWT.

Sekali lagi, hati manusia bisa direbut dengan akhlak mulia.
Ayah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun masuk Islam karena akhlak mulia Rasulullah. Suatu waktu, Abu Bakar datang kepada Rasulullah SAW dengan memapah ayahnya dan didudukkan di depan Nabi. Waktu itu Fathul Makkah, di mana Nabi sangat sibuk.

Apa kata Nabi, “Kalau engkau biarkan beliau istirahat di rumah, maka saya akan mendatanginya. Karenanya, ayah Abu Bakar langsung masuk Islam.

Contoh kedua, Anas bin Malik berada di masjid bersama Rasulullah. Lalu datang orang Badui dan kencing di dalam masjid. Apa kata Nabi? Biarkan dia menyelesaikan buang air kecilnya lalu beliau memerintahkan sahabat untuk membersihkannya.

Lalu Nabi berkata kepada Badui tadi, masjid ini dibangun untuk beribadah dan menuntut ilmu. Badui itu pun berkata, Ya Allah rahmatilah Muhammad dan saya. Wallahu A’lam. (disarikan dari tausiah KH Bachtiar Nasir/ azh)

Sebarkan Kebaikan!