Ahok Akhirnya Dipenjara

AZHAR AZIS

VONIS penjara dua tahun bagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah buah atas kegigihan umat Islam menuntut keadilan ditegakkan. Sebuah putusan yang berani bagi majelis hakim jika kita melihat ke belakang, betapa kuat perlindungan “hukum” bagi gubernur DKI Jakarta yang dipaksa berhenti ini.

Kekuatan besar di balik tembok keangkuhan Ahok runtuh seketika, meski vonis yang dijatuhkan tergolong ringan dibandingkan dengan kasus yang sama sebelumnya. Kekuatan bisnis dan pemodal, kekuatan penguasa, bahkan keberpihakan aparat, tak mampu membendung desakan arus massa agar Pengadilan Negeri Jakarta Utara memberikan keadilan dalam kasus ini.

Segala isu diciptakan untuk melawan derasnya arus massa yang menuntut Ahok dipenjara karena telah menistakan agama, merendahkan ulama, dan menyakiti umat. Demi membentengi Ahok, isu kebangsaan dikorbankan demi mendiskreditkan Islam. Ulama dan aktivis pencari keadilan dituduh anti-NKRI, anti-Pancasila, intoleran, radikal, anti-Bhinneka Tunggal Ika. Namun, tuduhan-tuduhan itu dibalas dengan membuktikan bahwa Islam itu damai. Aksi dan gerakan umat dilakukan dengan cara bermartabat dan dalam koridor hukum dan konstitusi.

Memang butuh kesabaran agar massa tidak anarkistis dan tetap berada di jalur komando ulama dalam bingkai NKRI, bernilai Pancasila, toleran, damai, saling menghormati, bermartabat, dan taat konstitusi. Aparat yang berpihak tetap dirangkul sebagai kawan dalam perjuangan keadilan, hakim yang berwenang mengadili secara adil diberi kebebasan mengetok palu keadilannya tanpa intervensi.

Empat hari sebelum sidang vonis Ahok, ulama dan umat sudah tawakkal dan menyerahkan segala putusan kepada hakim sebagai wakil Tuhan dalam penegakan keadilan. Apa pun putusan hakim, akan dimaknai sebagai takdir Allah SWT yang tidak bisa dilawan. Dan akhirnya, palu keadilan hakim berpihak pada tuntutan keadilan yang diperjuangkan umat Islam.

Hakim memang tidak bisa diintervensi, namun Hakim juga punya sudut pandang keadilan bagi masyarakat. Hakim juga punya nurani, dan tanggung jawab spiritual secara syar’i, bahwa setiap putusannya yang berat sebelah akan diganjar hukuman berat di akhirat kelak.

Derasnya desakan arus massa membuat tak ada satu pun di negeri ini kebal hukum. Kekuatan umat Islam tidak bisa diremehkan jika negeri ini mau bangkit. Kekuatan umat adalah potensi untuk membangun bangsa dan negara, jika rezim yang berkuasa berpihak pada rakyat dan bangsanya. Ulama dan umat bukanlah tirani yang harus dicarikan celah untuk dibungkam. Negara Islam yang menjadi momok bagi penguasa adalah ketakutan yang berlebihan karena umat saja sudah berjalan dalam koridor hukum dan konstitusi.

Lihat perjuangan umat itu, mereka tidak ada yang dibayar kecuali karena keikhlasan berjuang di jalur nahi munkar. Mereka bersatu padu mengusung pemimpin muslim karena perintah syariat, meski pemimpin yang didukung (maaf) tidak pernah ada dalam barisan mereka. Lihat pada Pilkada DKI putaran pertama, umat dan ulamanya tidak berpihak, karena ada dua calon Muslim yang bertarung.

Artinya, ulama dalam perjuangannya tidak memilih siapa kawan, melainkan karena kewajiban syariat mengusung sesama muslim di kancah perpolitikan yang sarat manipulasi dan transaksional dewasa ini. Bahwa Ahok adalah sebangsa dan setanah air, tetap diberi kesempatan berkompetisi meski sudah lama menjadi ikon yang memusuhi syiar dan syariat (baca pemotongan hewan kurban, jilbab, dan takbir keliling).

Sejak awal, dalam acara Silaturahmi antartokoh ormas dan Ulama di Az-Zikro, Sentul, Bogor, Ketua GNPF MUI KH Bachtiar Nasir menyatakan dan berkomitmen, jika saja organisasi yang dipimpinnya punya niat politik, syahwat kekuasaan, dan ambisi kepentingan, maka Allah SWT sendiri yang akan menghakimi para ulama dan pengurus GNPF. Gerakan ini akan mengerdilkan agama dan al-Quran jika keduanya digunakan sebagai kendaraan syahwat keduniaan. Allahu Akbar. Allah memberikan dua kemenangan bagi umat Islam atas kesalehan para ulama dan keikhlasan dalam berjuang.. Wallahu A’lam. *Penulis AQL Pustaka/ Pembina Media AQL Islamic Center

Sebarkan Kebaikan!