ArtikelTausiyah
Trending

Agar Beruntung di Sepuluh Terakhir Ramadhan

Syekh al-Muhaddist Abdu al-Aziz al-Turaifi terkait 10 malam terkhir bulan Ramadhan pernah mengatakan, “Ramadhan bulan yang paling utama, agar semangat tak kendor sampai penghujung ramdhan, maka Allah menjadikan akhirnya lebih utama dari permulaannya, terhalanglah kebaikan bagi siapa yang melalaikannya, dan terahmatilah bagi siapa yang menjagannya.”

Surat al-Ashr menginformasikan bahwa mayoritas manusia merugi saat berhubungan dengan waktu. Berapa nikmat yang terlalaikan, tak sedikit perintah yang terabaikan, dan sering larangan dilakukan. Lalu bagaimana jika cara pandang surat al-Ashr dikaitkan dengan bulan ramadhan?

(وَالْعَصْرِ) Demi satu-satuan waktu dalam sebua masa. Dalam lingkaran waktu ada peristiwa besar yang terjadi. mulai dari jutaan sel-sel otak yang bekerja dengan sangat rapi, lalu mengirimkan informasi ke seluruh tubuh dengan cepat dan tepat. Sebelum sinar gamma dan ultraviolet menyentuh tubuh, berapa sinar mematikan yang tersaring agar tak sampai di bumi. Pergerakan alam semesta dan semua planet di dalamnya, jika tak ada Maha Pengatur kiamat telah lama terjadi.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Sepeluh terakhir ramadhan adalah nikmat terbesar di bulan ramadhan. Melalui ayat ini Allah tegaskan bahwa mayoritas manusia itu mengalami kerugian yang sangat besar. Allah menjadikan penghujung ramadhan lebih utama dari permulaannya, sebab jiwa cenderung bersemangat di awal dan layu di akhir. Sepuluh terakhir ramadhan adalah filter bagi orang umat Islam: orang beriman akan teguh dan orang munafik akan gugur.

Banyak lalai di awal ramadhan masih bisa diterima jika berusaha memperbaiki penutupnya. Hal itu lebih baik daripada sibuk memperbaiki awalnya tapi banyak lalai di akhirnya. Demikian makna sebuah hadis yang artinya, “Amalan-amalan itu selalu tergantung dari penutupnya.”

Dalam surat al-Hadid ayat 21 (Berlomba-lombalah kamu kepada ‘mendapatkan’ ampunan dari Tuhanmu) kita diminta untuk berlomba menggapai ampunan Allah Swt.. Dalam sebuah perlombaan, hanya orang bersungguh-bersungguh yang akan menang. Ibarat ampunan itu adalah medali atau kunci untuk membukan hadiah yang lebih besar. Sebab syarat utama untuk mendapat surga adalah ampunan. Maka berlombalah mendapatkan ampunan sebagai kunci untuk membuka pintu surga.

Nabi Saw. pada sepuluh akhir ramadhan memutuskan hubungan degan dunia luar dengan cara beri’tikaf. Padahal beliau adalah sosok pemimpin umat yang sangat dibutuhkan bimbingannya. Hal ini menunjukkan lebih utama menunda kemaslahatan umum demi meraih keutamaan sepuluh terakhir ramadhan. Maka berlombalah mendapatkan ampunan sebagai kunci untuk membuka pintu surga.

Saat berlomba berlansung, start memang sangat penting tapi jauh lebih penting menjelang finish dan hasil akhirnya. Pembalap sepeda akan mengayu sepedanya lebih kencang menjelang finish. Seharusnya demikian juga para pencari ampunan di bulan ramadhan ini sebagai ikhtiar masuk surga. Sepuluh terakhir ramadhan akan mengoptilmalkan waktu untuk menggapai “finish”. Optimalisasi puasa di siang hari dan qiyam di malam hari, serta menambah dengan ibadah-ibadah prioritas seperti tarawih, tahajjud, baca qur’an, memperbanyak zikir dan doa, dan ibadah prioritas lainnya.

Strategi mencapai finish atau menggapai ampunan jangan terhenti pada puasa dan tarawih, tapi ada sisi abstrak yang harus diperhatikan yaitu iman dan mengharap pahala. Berlomba-lombalah di sepuluh terakhir ramadhan dan cepatlah menggapai ampunan.

Dalam konteks surat al-Ashr manusia harus cerdas memanfaatkan waktu  agar tidak merugi di bulan ramadhan. Orang-orang yang beruntung di bulan ramadhan dijelaskan dalam ayat ke-tiga surat al-Ashr, “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” Menjadi orang yang benar lalu mengerjakan yang benar kemudian menyampaikan yang benar dan bersabar kepada yang benar.

Menghidupkan malam seluruhnya dangan ibadah shalat pada sepuluh malam terakhir tersebut adalah tuntunan Nabi Saw., ‘Aisyah mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). *Ditulis dari tausiyah KH Bachtiar Nasir, 5/6/18.

*Mohajer

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close