Abu Bakar Ash-Shiddiq

MEMERHATIKAN sahabatnya berada dalam kondisi berbahaya, jiwanya terhenyak seketika. Hatinya tak tega. Perasaan cemas dan duka menyelimuti raga. Pada waktu itu, keadaan sangat genting, musuh sudah berada di depan gua Tsur dengan membawa pengiring. Ia lebih rela jadi korban, asal sahabatnya tetap aman. Hal itu tentu agar risalah-Nya bisa sampai, pada seluruh manusia di muka bumi.

Syahdan, dalam kondisi demikian, sang sahabat yang dicemaskan pun menenangkan keresahan hatinya. Lantunan kata-katanya begitu menentramkan jiwa. Al-Qur`an menggambarkannya dengan sangat elegan, “Jangan sedih! Sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah [8] : 40). Demikianlah  sepenggal kisah menawan tentang Abu Bakar bersama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak hijrah ke Madinah menjadi buronan kelas kakap kaum kafir Qurays.

            Abu Bakar begitu istimewa di hati Rasulullah. Suatu saat, beliau pernah berujar, “Orang yang harta dan persahabatannya paling dekat denganku adalah Abu Bakar. Seandainya aku (diperintahkan) untuk memilih kekasih, maka aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih, tetapi kami berada dalam persaudaraan Islam.” (HR. Muslim).

Pada kesempatan lain, Amru bin Ash bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling anda cintai?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aisyah”. “Maksud saya ialah dari kalangan laki-laki?”. Beliau menjawab: “Bapaknya Aisyah (Abu Bakar; mertua nabi)”. “Kemudian siapa?”. “Umar bin Khattab”. Lalu beliau menyebutkan beberapa nama yang dicintai. (HR. Bukhari dan Muslim). Siapakah gerangan sosok Abu Bakar yang mendapatkan keistimewaan sebesar itu dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Sebelum Islam dan sesudahnya,  ia adalah sahabat terbaik. Pengorbanan dan perjuangannya sungguh tiada tara. Ketika orang lain meragukan bahkan mendustakan dakwah nabi, ia berada di garda depan sebagai pembenar sejati. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak dibunuh, ia membelanya hingga babak belur di tangan musuh. Beliau tidak pernah luput menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam kondisi suka maupun duka. Hartanya pernah terkuras semua, didermakan untuk kepentingan dakwah. Ia mencintai Rasul dengan sepenuh hatinya. Baginya –setelah Allah subhanahu wata’ala-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah segalanya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, dialah satu-satunya sahabat yang tabah dan kuat, di saat kesedihan dan amarah mendera para sahabat. Setelah mengecup kening Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berdiri di atas mimbar sembari melantunkan ayat,  “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (QS. Ali Imran [3] : 144). Akhirnya mereka sadar, bahwa sikap mereka tidak benar. Dengan keistimewaan yang luar biasa, maka sangat wajar jika Abu Bakar menjadi sahabat sejati.

Sepeninggal nabi, selama dua tahun (11-13 H/632-634 M) beliau diamanahi menjadi pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Meski terbilang singkat, jasa-jasa beliau begitu hebat. Konflik internal bisa diredam; gerakan nabi-nabi palsu bisa dipatahkan; para pembelot zakat biasa diatasi dalam tempo yang cukup singkat; bahkan beliau menjadi pelopor gerakan futuhat (pembebasan) yang akan diteruskan oleh khalifah-khalifah sesudahnya.

Dialah As-Shiddiq. Sahabat yang konsisten pada shirath mustaqim yang digambarkan al-Qur`an (An-Nisa [4] : 69) sebagai yang terdepan dalam hal ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak berlebihan jika beliau diberi kenikmatan berlimpah, dan patut dijadikan teladan setiap muslim dalam mengarungi kehidupan.

Sebarkan Kebaikan!