Abdurahman bin Auf: Tunjukanlah kepadaku arah ke pasar

RASULULLAH pasca hijrah, usai mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan umat, dia kemudian mempersaudarakan kaum muslimin pendatang (Muhajirin) dengan kaum muslimin pribumi (Anshar). Rasul tidak mempersaudarakan sahabatnya berdasarkan kabilah, tapi melihat keadaan sosial pada masa itu. Sahabat yang cerdas dengan yang kurang cerdas, yang kuat dengan yang lemah, yang kaya dengan miskin, dan seterusnya.

Dalam sebuah riwayat yang tercantum dalam kitab Al Bidayah (juz 3, hal. 228). Ketika Abdurahman bin Auf tiba di Madinah, dia dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar Rabi’ Al Anshari.

Usai dipersaudarakan, Sa’d berkata kepada saudaranya, “Wahau saudaraku, aku adalah orang yang paling banyak harta di Madinah, maka pilihlah olehmu separuh hartaku dan ambilah. Aku juga mempunyai dua orang istri, lihatlah siapa diantara mereka berdua  yang engkau sukai, maka aku akan menceraikannya (dan menikahkannya denganmu).”

Dengan ungkapan syukur, Abdurahman menjawab saudaranya itu, “Semoga Allah memberkatimu, dalam harta dan keluargamu. Tunjukanlah kepadaku arah ke pasar.”

Maka ia pun menunjukan kepada Abdurrahman jalan menuju pasar. Sesudah itu, Abdurrahman melakukan jual beli dan memperoleh keuntungan. Ia kembali dengan membawa sedikit keju dan minyak samin. Lalu Abdurrahman menetap disana selama yang dikehendaki Allah.

Suatu ketika Abdurrahman datang dengan pakaian yang masih wangi akibat minyak za’faran. Rasulullah bertanya kepadanya, “Ada apa  denganmu, harum begitu?”

“Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang wanita.” Jawab Abdurahman.

Tanya Rasulullah lagi, “Apa yang engkau berikan sebagai mahar untuknya.”

Jawab Abdurrahman. “Emas seberat biji kurma.”

Sabda Rasulullah, “Buatlah walimah walaupun dengan menyembelih seekor kambing saja.”

Kata Abdurrahman, “Sesungguhnya aku melihat diriku sendiri, seandainya saja aku mengankat sebuat batu, niscaya aku berharap untuk memperoleh emas atau perak (kiasan dari datangnya dunia kepadanya dan banyaknya kekayaan).”

Salah satu makna yang tersirat dari kisah Abdurrahman ini adalah, jika ingin membangun suatu peradaban maka kuasailah pasar untuk memperkuat ekonomi. Karena kekuatan ekonomi menjadi salah satu syarat utama terbentuknya peradaban.

Hal ini sekedar gambaran agar hati kita tergerak untuk menjadi pengusaha-pengusaha tangguh. Bersatu meningkatkan perekonomian umat Islam. Jika umat Islam sudah bersatu dan kuat ekonominya, maka sangat mudah untuk membangun peradaban Islam. *Tausiyah UBN, Subuh Berjamaah, Riau. 

Sebarkan Kebaikan!