5 Sifat Ahli Surga

UNTUK mendapatkan surga beserta kenikmatannya sekaligus ridha Allah subhanahu wata’ala -sebagaimana Ali Imran [3] 15- tidak cukup dengan berdoa dan istighfar (seperti Ali Imaran [3] 16),  tapi harus memiliki lima sifat yang terkandung pada ayat berikut:

{الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ} [آل عمران: 17]

“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran [3] : 17).

 

Orang-Orang yang Bersabar

Sifat pertama, adalah as-shabirin (orang-orang yang bersabar). Sabar dalam menjalankan ketaatan, kenikmatan dan meninggalkan larangan. Sabar itu bermacam-macam: secara garis besar, sabar dalam menjalankan ketaatan.

Salah satu yang harus sabar ialah shalat pada waktunya. Menjaga shalat dan bersabar ada hikmahnya. Sewaktu saya ada empat pertemuan, waktu itu menjelang shalat Ashar. Singkat cerita, saya dahulukan shalat. Ternyata, dengan menjaga shalat, justru keempat pertemuan itu bisa dilakukan dengan lancar, malah mendapat makanan padang gratis.

Intinya, dengan menjaga shalat kita akan dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala. Makanya, tidak berlebihan kalau saya katakan, jadilah maniak shalat. Maksudnya, orang-orang yang secara intens menjaga kuantitas sekaligus kualitas shalatnya.

Orang-Orang yang Membenarkan Allah dan Rasul-Nya

            Kedua, as-shadiqin. Adalah orang-orang yang selalu membenarkan Allah dan Rasul-Nya dalam perkataan dan perbuatan. Sebagaimana Abu Bakar As-Shiddiq yang dikenal sebagai shiddiq (banyak membenarkan) karena selalu melakukan sifat luhur ini. Selama Allah dan Rasul-Nya yang memerintah, maka tidak ada reserve langsung tunduk dan patuh.

Tadabbur Kamis Pagi

Orang-Orang yang Melakukan Ketaatan

            Ketiga, qanitin. Maksudnya adalah orang-orang yang melakukan ketaatan. Di antaranya adalah ketaatan mendirikan shalat. Orang yang qanit adalah orang yang dimudahkan hatinya untuk melakaukan berbagai macam kebaikan. Misalnya, kebiasaan memberi makan orang miskin adalah kebiasaan orang qanit.

Pada umumnya kata qanit maksudnya adalah shalat, tapi harus dimanivestikan misalnya dengan memberi makan orang miskin. Seperti penjelasan Surah Al-Ma’un [107] ayat ketiga, yang intinya, orang shalat bisa celaka karena tidak menganjurkan memberikan makan orang miskin.

Di sisi lain (di ayat 2), juga tidak menghardik anak yatim. Tidak menghardik, bukan sekadar berkata kasar, tapi juga tidak care (peduli) pada mereka. Ketika kita abai kepada anak yatim, ini ciri-ciri orang yang pendusta yang shalat tapi tetap mendapat kecelakaan. Jadi, kebiasaan memberi makan, dan peduli terhadap anak yatim adalah ciri orang yang menjaga shalatnya.

Kebiasaan ini sebenarnya ada kenikmatannya tersendiri. Saya membiasakan diri untuk membawa makanan setiap hari Selasa ke Jonggol untuk anak-anak pesantren. Rugi kalau makan dan sayur hanya untuk keluarga sendiri. Padahal rezeki datang gara-gara memberi makan orang lain.

Kebiasaan menarik yang bisa diteladani ialah memberi makan hewan.  Kebiasaan ini adalah kebiasaan mulia. Efeknya seperti ini, ketika makanan mereka habis, pasti yang akan dicari dan didekati adalah orang yang biasa memberi makan. Bayangkan, binatang saja tahu mana orang baik dan mana orang buruk.

Sekali lagi, yang dimaksud dengan qanitin adalah orang yang shalatnya sudah maniak yang dibarengi dengan kekuatan menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin.

Kebiasaan memberi makan bakda  Jum’at di AQL Islamic Center, sebenarnya menjadi pembelajaran bagi warga sekitar. Mudah-mudahan kebaikan ini diteladani dan menjadi sejarah kebaikan yang diceritakan mereka.

 

Orang-Orang yang Suka Berinfak

            Keempat, al-munfiqin (orang-orang yang suka berinfak). Orang seperti itu insyaallah hidupnya tidak akan susah. Kemarin saya bangga, anak teman saya menikah. Kata anaknya, “Apapun nanti hasil dari tamu, tidak untuk pria-wanita, tapi ini untuk hibah kemanusiaan.” Saya bilang kepada teman saya, “Anakmu berbakat menjadi orang kaya.” Saya bangga sekali dengan anak itu. Jadi awal menikah dia tidak mengawalinya dengan materi. Tapi mala disumbangkan.

Memang, sebagaimana ayat:

{وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [الحشر: 9]

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59] : 9). Jadi, orang yang dicerabut dari dirinya sifat pelit, maka layak menjadi orang beruntung. Memang berinfak awalnya susah, tapi nanti lama-lama akan merasa bahagia.

 

Orang-Orang yang Rajin Beristighfar

            Kelima, kebiasaan beristighfar di waktu sahur. Ini penting sekali. Imam al-Qurthubi mengutip pendapat Anas bin Malik bahwa yang dimaksud dengan ini adalah mereka yang meminta ampunan . Sedangkan Qatadah (Tafsir Jami’ul Bayan, 4/38) berpendapat yang dimaksud dengan al-mustaghfirin adalah orang-orang yang shalat di waktu sahur. Kedua pendapat ini sama-sama baik dan tidak bertentangan karena orang yang shalat diwaktu sahur pasti beristighfar.

Secara khusus disebut waktu sahur karena merupakan waktu dikabulkannya doa. Imam Muslim meriwayatkan Allah subahanahu wata’ala  di sepertiga malam, “turun” ke langit dunia untuk mengabulkan permintaan hambanya. Orang yang meminta ampunan pada waktu itu, kemungkinan besar akan dikabulkan.

Istighfar ini memang perkara sunnah dan tentu sangat dibutuhkan oleh manusia. Kebiasaan ini akan menjadi pintu gerbang semua kebaikan manusia. Lebih dari itu, istighfar juga bisa menolak bencana. Masih dalam tafsi Al-Qurthubi (4/39), mengenai ini Makhul berkata, “Jika ada 15 orang beristighfar setiap hari sebanyak dua puluh lima kali, maka Allah tidak akan menyiksa penduduk di tempat itu dengan siksaan yang merata.” Hadits ini disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya.

            Jadi, sebagai kesimpulan, agar kita mendapat surga beserta kenikmatan sekaligus ridha Allah subhanu wata’ala, maka milikilah lima sifat berikut: sabar, suka membenarkan Allah dan Rasul-Nya, taat beibadah, rajin berinfak dan rajin beristighfar –utamanya- di waktu sahur. Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!