5 Bekal  Menyongsong Ramadhan

DR. Badr Abdul Hamid Humaisah dalam khutbahnya yang bertajuk, ‘Penyambutan bulan Ramadhan’ (I/39), menyatakan ada lima bekal yang perlu dipersiapkan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan.

Pertama, taubat dan istighfar. Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Tapi yang perlu dicamkan baik-baik –sebagaimana sabda Nabi Muhammad- ialah: manusia terbaik ialah yang mau taubat dari kesalahannya (HR. Tirmudzi, Ibnu Majah). Taubat yang benar-benar dilatari kesungguhan hati dan keinsafan jiwa, yang diistilahkan al-Qur`an dengan frasa, ‘taubatan nauha’ (QS. At-Tahrim [66] : 8).

Rasulullah SAW –sebagaimana yang termaktub dalam hadits- memiliki kebiasaan istighfar dalam sehari minimal seratus kali (HR. Muslim). Dengan demikian, taubat dan istighfar menjadi hal penting yang perlu disiapkan untuk menyongsong bulan Ramadhan.

Kedua, melepaskan diri dari segala kezaliman dosa-dosa. Di samping taubat dan istighfar, hal yang perlu dipersiapkan ialah upaya serius untuk melepaskan diri dari segala bentuk kezaliman. Muslim yang baik tahu betul bahwa kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat (HR. Muslim). Siapa pun tidak akan bisa menjalankan Ramadhan secara maksimal, jika dirinya diliputi kezaliman. Yang tak kalah penting dari melepaskan diri dari kezaliman ialah: melepaskan diri dari dosa-dosa. Dosa-dosa –meski kecil- akan berpengaruh negatif bagi kesehatan rohani.

Ketiga, membersihkan hati dan jiwa hanya untuk Allah. Karena hati ibarat cermin, maka untuk memantulkan cahaya petunjuk Allah, harus dibersihkan terlebih dahulu. Tidak heran jika orang yang mampu mengusahakannya, akan menjadi orang beruntung. Sedangkan orang yang tak mampu memebersihkannya, kan menjadi orang yang merugi (QS. As-Syam [91] : 9-10).

Keempat, antusias dan semangat dalam memperoleh kemuliaan dari Allah. Terkait masalah ini, ada hadits yang perlu dicermati baik-baik: “Barangsiapa yang menegakkan qiyamul lail pada bulan Ramadhan, maka dosa-dosa yang telah lampau (pasti) diampuni” (HR. Bukhari, Muslim). Serta, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman (yang tulus) dan mengharap ridha(Allah), maka dosa-dosa yang telah lampau (pasti) diampuni.” (HR. Bukhari, Muslim). Yang perlu digarisbawahi ialah kata, ‘wahtisaaban’ yang berarti berharap pada ridha Allah. Harapan yang tinggi terhadap ridha Allah, melahirkan sikap antusias.

Kelima,  Gembira dengan kedatangan Ramadhan serta menyampaikan kabar gembira mengenainya. Maka tidak mengherankan jika ada riwayat doa: Allahumma bārik lana fī rajab wa sya`bāna waballighnā Ramadhana (Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya`ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan). Sebuah doa, yang menggambarkan apresiasi dan kebahagiaan yang tinggi dalam menyambut kedatangan Ramadhan.

Lebih dari itu, ketika Ramadhan tiba, lihat bagaimana sambutan Rasulullah dalam mengekspresikan Ramadhan kepada para sahabatnya: “Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, Allah mewajibkan pada kalian puasa, di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, syaitan-syaitan pun dibelenggu, di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan kebaikannya, maka ia telah diharamkan (maksudnya: merugi)” (HR. Ahmad, Nasai).

Mengingat Ramadhan adalah bulan penuh keutamaan, mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menyongsongnya merupakan suatu keniscayaan. Minimal, hal-hal yang perlu dipersiapkan dari pembahasan tadi ialah: taubat dan istighfar, melepaskan diri dari segala macam kezaliman dan dosa-dosa, membersihkan hati dan jiwa hanya untuk Allah, antusias dalam memperoleh kemulian dari Allah, gembira dengan kedatangan Ramadhan serta menyampaikan gabar gembira seputarnya. Wallahu a`lam.

*Abu Kafillah

 

Sebarkan Kebaikan!